Sisi Lain Kehidupan Seniman yang Jarang Diketahui

Jarang Mandi, kalau Melukis Merasa Tak Ada Beban

MAULANA/RADAR JEMBER UNJUK KREATIvITAS: Aksi Muhin Wijaya, seniman mural Jember yang sering mengampanyekan pesan damai melalui karya seninya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Seniman itu bebas. Pandangan seperti ini disematkan orang pada sosok Muhin Wijaya, pelukis mural asli Jember. Meski kerap dicibir, pria 50 tahun itu terus menunjukkan eksistensinya. Hingga kini, dia sudah menghasilkan ratusan lukisan.

MAULANA, Sumbersari, Radar Jember

Perawakan tinggi dan rambut panjang menjadi khas Muhin Wijaya, warga asal Jalan Letjen Sutoyo Keramat 2, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Meski perawakannya terlihat sangar, namun setiap orang yang bertemu dan menyapanya disambut dengan senyuman.

Seolah tak kehabisan nalar, ide, dan kreativitas, pria 50 tahun ini memang terbilang cukup inspiratif. Di usia yang tak lagi muda, dia mampu menunjukkan bahwa seni itu bagian yang tidak dipisahkan dari hidupnya. Bahkan, separuh hidupnya sudah dihabiskan untuk melahirkan ratusan karya yang memiliki pesan-pesan tersendiri.

“Saya tekuni melukis ini sejak era 80-an,” katanya, membuka perbincangan saat ditemui Jawa Pos Radar Jember. Dia menjelaskan, awalnya melukis memang menjadi salah satu hobi yang dijajakinya sejak masih muda. Kala dewasa, kebiasaan itu berlanjut hingga menjadi bagian untuk mengisi waktu kosong.

Menurutnya, orang berkarya melalui seni itu memiliki kebanggaan tersendiri, juga memacu semangat. Bahkan, dia sampai menganggap seni bukan lagi pelengkap kehidupan, tapi lebih dari itu. Seni merupakan rasa kehidupan itu sendiri. “Setiap pekerjaan, kalau tidak ada seni, itu tak ada rasanya. Campa (hambar, Red),” imbuhnya.

Karena hobinya itu, tak jarang orang-orang di sekitarnya menganggap Muhin sebagai orang yang aneh. Kadang dianggap tak pernah mandi, tak peduli keluarga, dan anggapan sinis lainnya. Namun, semua itu dia balas ketika dirinya mampu membuktikan bahwa karyanya diterima publik dan beberapa kali tampil di berbagai pameran.

Dia meyakini, banyak cara yang bisa dilakukan oleh seniman seperti dirinya. Seperti mengekspresikan keberagaman Indonesia melalui seni. “Seni itu sudah menjadi diri kita, identitas kita, dan bagian yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya meyakinkan.

Dia membocorkan beberapa seni lukis yang biasa digarapnya. Semuanya bergantung pada tema, pemilihan, kekuatan warna, serta penataan. Sebab, setiap unsur tersebut diyakininya memiliki pesan yang ingin disampaikan. “Pertama, makna harus ditonjolkan. Kedua keindahan dan ketiga itu keragaman warna. Tapi kalau saya suka melukis face,” imbuhnya.

Dalam satu kali melukis, lanjutnya, waktu yang dibutuhkan bergantung pada tingkat kerumitannya. Jika hanya sketsa, biasanya 1-2 jam saja. Tapi kalau lukisan, paling cepat perlu waktu seminggu. Namun, di balik semua itu, dia mengakui bahwa ide adalah anugerah tersendiri yang layak untuk dituangkan melalui karya. Bahkan, ketika sudah bergelut dengan kuas dan cat, ia bisa lupa daratan. “Saya kadang merasa kalau sudah melukis itu tak ada lagi beban. Semuanya terasa plong,” akunya.

Melukis itu melelahkan dan membuang-buang waktu, pandangan seperti ini ternyata masih kerap menyerang nalar Muhin. Meski terkadang dia juga menguatkan dirinya sendiri dengan meyakini bahwa seni itu tidak ternilai.

“Dan ada kepuasan yang tak bisa dijelaskan,” paparnya.

Selain kesibukannya menyalurkan hobi, kini pria setengah abad itu juga memiliki kesibukan lain sebagai agen koran harian di sekitar Kelurahan Sumbersari.

“Selama bisa, bukan alasan untuk tidak berkarya. Terlebih bagi yang muda-muda,” pungkasnya.

IKLAN

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Mahrus Sholih