Solidaritas Mahasiswa untuk Tragedi Berdarah di Kendari

Gelar Doa Bersama, Berharap Tak Lagi Ada Korban Berikutnya

KHIDMAT: Beberapa mahasiswa tengah melangsungkan salat gaib dan doa bersama untuk mendiang mahasiswa yang gugur saat mengikuti demonstrasi memprotes kebijakan pemerintah.

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Jatuhnya korban peserta aksi di Kendari, Sulawesi Tenggara, menjadi pukulan bagi mahasiswa di Jember. Merasa memiliki misi yang sama, mereka tergerak melakukan aksi solidaritas. Salah satunya dengan menggelar salat gaib dan doa bersama.

MAULANA, Sumbersari, Radar Jember

Raut suram tampak jelas di wajah sejumlah mahasiswa yang menggelar salat gaib, kemarin (27/9) malam. Mereka seolah tak mampu menyembunyikan kesedihan pasca insiden yang merenggut nyawa dua mahasiswa saat mengikuti demonstrasi. Kelompok gerakan dan mahasiswa berduka. Kesedihan yang sama juga dirasakan oleh mahasiswa di Jember atas kepergian sahabat seperjuangannya tersebut.

Mereka berdoa bersama dan berharap agar kejadian serupa tidak terulang. Para mahasiswa meyakini, meski cara dan wadah organisasi berbeda, namun berbicara soal solidaritas mereka tetap menjunjung tinggi. Termasuk saat mendengar kabar Himawan Randi dan Muhammad Yusuf Qardawi, dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) meninggal, saat mengikuti aksi di depan Gedung DPRD Sulawesi Tenggara, baru-baru ini.
Kepergian dua mahasiswa tersebut berhasil menggerakkan solidaritas mahasiswa di pelosok negeri. Salah satunya mereka yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jember.

“Ini duka kita bersama,” kata Ahmad Hamdi Hidayatullah, Ketua Cabang PMII Jember.

Menurut dia, meninggalnya mahasiswa saat menggelar aksi itu seolah mengingatkan peristiwa kelam perjuangan mahasiswa tahun 1998. Mereka terjun ke jalanan untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Meski ada yang pulang tinggal nama.

“Siapa yang tidak pilu melihat sahabat seperjuangan gugur saat mengemban misi yang sama,” imbuh Hamdi.

Hamdi meyakini, peristiwa tersebut menjadi pukulan seluruh elemen mahasiswa di berbagai perguruan tinggi se Indonesia. Baik yang tergabung di organisasi intra maupun ekstra kampus. Seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan PMII sendiri.

Selama ini, lanjutnya, aksi-aksi yang dilakukan oleh mahasiswa sebenarnya bermuara pada kontrol publik terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Namun, adanya tindakan represif dari aparat, dan kriminalisasi terhadap aktivis dan jurnalis, sangat disesalkan oleh mahasiswa asal Sumenep itu.

“Semakin ditekan seperti ini, gerakan mahasiswa semakin bergulir besar. Jadi, tolonglah aparat, jangan ada lagi korban, tugasmu mengayomi,” tegasnya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di Sekretariat PMII, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, kemarin malam.

Meski kedua mahasiswa yang menjadi korban itu berasal dari organisasi yang berbeda, namun Hamdi berserta kawan-kawannya tetap yakin, aksi mahasiswa saat ini tidak ada batas maupun sekat yang membedakan antara mereka. Setelah salat gaib, para mahasiswa juga melakukan tahlil bersama untuk mendoakan kawan seperjuangan itu.

“Selain turun jalan, ini salah satu upaya kita merawat perjuangan agar tetap berkelanjutan,” timpal Busro Abadan, Ketua Bidang Keagamaan PMII Jember, seusai memimpin salat dan doa bersama.

Dia menuturkan, saat ini sejumlah organisasi ekstra kampus di berbagai daerah juga melakukan hal serupa. Mereka menggelar salat gaib dan doa bersama sesuai instruksi dari pimpinan tertinggi organisasi masing-masing.

“Sama, kami juga instruksikan kegiatan ini sampai ke pengurus level bawah. Malam ini sampai besok,” imbuhnya.

Meninggal dengan mengemban amanah, diyakini Abadan akan dicatat sebagai pahala. Hal itu tampaknya yang menguatkan dirinya dan mahasiswa lain. Meski belum diketahui pasti akan rencana aksi mereka selanjutnya, namun harapan mereka tetap, agar aksi-aksi selanjutnya bisa berjalan sesuai keinginan.

“Cukup mereka (Randi dan Yusuf, Red) yang menjadi pengobar semangat aksi mahasiswa. Jangan lagi muncul korban selanjutnya,” harapnya.

IKLAN

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Mahrus Sholih