RAIH EMAS: Akhmad Qusyairi menunjukkan medali emas yang diraih di ajang Kompetisi Sains Madrasah (KSM) se-Indonesia di Manado, 16-21 September 2019. (Foto: Istimewa)

Lahir dari orang tua yang berprofesi sebagai buruh tani, tidak membuat Akhmad Qusyairi minder menggapai cita-citanya menjadi dosen matematika. Sempat diminta berhenti sekolah oleh orang tuanya, dia justru berhasil meraih prestasi nasional. Yaitu, merebut medali emas bidang matematika di ajang Kompetisi Sains Madrasah se-Indonesia.

————-

Tindak tanduknya sebagai sosok sederhana tergambar saat Jawa Pos Radar Bromo mengunjunginya di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Pasuruan. Dengan santun, pemilik nama lengkap Akhmad Qusyairi itu menyapa media ini. Amak, panggilan akrab siswa yang kini kelas XII IPA 4 itu memulai kisahnya.

Lahir dari keluarga sederhana, menjadikan Amak akrab dengan kesederhanaan pula. Bapaknya, Su’ud, 59, adalah buruh tani dan ibunya, Maisaroh, 47, adalah ibu rumah tangga biasa.

Bungsu dari tiga bersaudara itu mengisahkan, sebenarnya tidak terbesit dalam angan-angannya bisa meneruskan sekolah hingga jenjang madrasah aliyah. Sebab, orang tuanya sempat melarangnya meneruskan sekolah setelah lulus sekolah dasar (SD).

“Kedua kakak saya hanya mengenyam pendidikan di pesantren. Setelah lulus SD, orang tua sempat melarang untuk melanjutkan sekolah. Tapi, karena saat lulus SD nilai saya bagus, saya akhirnya lebih memilih melanjutkan sekolah,” tutur Amak membuka percakapan dengan Radar Bromo.

Dari SD, Amak meneruskan sekolahnya di MTsN Rejoso, tak jauh dari tempat tinggalnya di Dusun Turi, Desa Toyaning, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Bakat dan minat Amak semakin terlihat saat duduk di bangku MTs.

Pelajaran matematika yang menjadi favoritnya sejak SD, semakin ia cintai. Tak heran, dia mendapat nilai sempurna, 10 saat ujian nasional untuk mata pelajaran matematika.

Tantangan masa depan Amak tidak berhenti sampai di situ. Dinyatakan lulus dari MTs, ia pun kembali dilema. Sebab, orang tuanya kembali berat memberikan restu padanya untuk melanjutkan pendidikan formal di tingkat selanjutnya.

Namun, seorang gurunya di MTs mengarahkan Amak mendaftar ke MAN Kota Pasuruan. Sebab, nantinya Amak juga akan bisa menjadi santri.

“Akhirnya, orang tua senang saya sekolah di MAN karena juga bisa sambil mondok. Alhamdulillah, bisa melanjutkan sekolah,” terang Amak yang juga santri di Pesantren Hidayatus Salafiyah Kota Pasuruan.

Bagi Amak, diberi restu oleh orang tuanya untuk meneruskan sekolah merupakan sebuah anugerah luar biasa. Walaupun jatah living cost atau uang saku per bulan sangat minim. Yakni hanya Rp 400 ribu. Dengan jumlah itu, dia pun harus pintar-pintar membagi untuk biaya makan dan kebutuhan lainnya.

Namun, itu tidak menghalangi Amak mengejar cita-citanya menjadi dosen matematika. Terlebih, membuktikan kepada orang tuanya bahwa ikhtiarnya untuk membuat orang tuanya bangga tidak akan sia-sia.

Kemoncerannya di mata pelajaran matematika semakin tampak. Tidak hanya jago di bidang utak-atik angka, Amak pun seorang hufadz yang saat ini sudah hafal 6 juz Alquran.

Ia pun mulai dibidik oleh gurunya di MAN Kota Pasuruan untuk ikut berbagai kompetisi di bidang matematika. Saat duduk di kelas XII, ia terpilih mewakili Kota Pasuruan untuk Kompetisi Sains Madrasah (KSM) ke tingkat Provinsi Jawa Timur.

Saat seleksi di tingkat provinsi ini, Amak menduduki peringkat ketiga. Di atasnya adalah siswa-siswa dari MAN Kota Malang dan kota besar lainnya. Amak lantas mewakili Jawa Timur ke lomba KSM se-Indonesia pada 16-21 September.

“Pada 16 September 2019 saya berangkat mewakili Jawa Timur di KSM se-Indonesia, tempatnya di Manado. Saat berangkat saya pamit orang tua dan mereka mengizinkan. Pesan dari mereka saat itu agar saya jangan lupa berdoa. Untuk hasil akhir tidak usah dipikirkan dalam-dalam, yang penting usaha dulu,” terangnya.

Saat lomba, orang tua pun menjadi motivasi kuat bagi Amak meraih prestasi. Kepala MAN Kota Pasuruan Achmad Barik Marzuq pun mengingatkan hal itu pada Amak.

“Sebelum Amak masuk ke arena perlombaan KSM, saya berbisik, saat mengerjakan soal ingatlah kedua orang tuamu. Bayangkan wajah mereka dan berikan yang terbaik,” ujar Barik mengulang pesannya kepada Amak.

Terlecut memberikan yang terbaik dan membanggakan orang tuanya, membuat Amak fokus mengerjakan soal-soal matematika semi agama yang dihadapi. Selama dua hari ia berkutat dengan logaritma dan sebagainya.

Amak mengisahkan, di hari pertama, Rabu (18/9), ada empat soal yang harus ia selesaikan dalam jawaban berbentuk esai. Waktu yang diberikan 3 jam. Walaupun hanya empat soal, tapi menurut Amak tingkat kesulitan luar biasa.

Di hari kedua, waktu yang disediakan hanya 2 jam untuk menyelesaikan 25 soal pilihan ganda yang diselesaikan di komputer. “Soal yang diberikan ada soal-soal agama, termasuk ayat-ayat Alquran. Itu yang membuat waktunya terasa cepat. Karena saya harus mengutamakan ketelitian setelah mengerjakan semuanya,” ujar Amak.

Sebanyak 50 peserta saat itu menyelesaikan soal yang sama dengan Amak. Amak menceritakan, di benaknya nyaris tidak ada angan-angan untuk menjadi pemenang.

Namun, kenyataan berkata lain. Dewi Fortuna rupanya masih bersamanya. Saat diumumkan pada Jumat (20/9), Amak dinyatakan meraih medali emas.

Waktu diumumkan menjadi pemenang, Amak pun sangat terkejut. Saat itu juga, dia mengabari orang tuanya dengan cara mengirim WA ke handphone kakaknya.

“Tapi, ternyata handphone kakak tidak aktif. Akhirnya ada guru yang menelponkan orang tua. Orang tua sangat bangga dan saya juga bersyukur bisa memberikan kebanggaan pada mereka,” urai Amak.

Kini, dengan prestasi yang telah ia raih, Amak diminta MAN Kota Pasuruan untuk tidak terlalu risau dengan keinginannya meneruskan ke perguruan tinggi. Kepala MAN Kota Pasuruan Achmad Barik Marzuq mengatakan, pihaknya akan sekuat tenaga mengupayakan membantu Amak agar bisa kuliah.

“Saya minta dia fokus menyelesaikan dulu jenjang sekolahnya di sini. Insyaallah kami akan selalu berupaya membantu dia untuk meneruskan pendidikannya,” terang mantan Kepala MAN 2 Kota Malang itu. (lel/fun)

IKLAN