KONDISI lingkungan kita kini kian memperihatikan. Data Word Bank menyebutkan 68 persen sungai di Indonesia mengalami pencemaran berat. Sebanyak 70 persen pencemaran sungai tersebut adalah dari limbah rumah tangga. Sungai bersih di sekitar kita sudah ‘nyaris’, bahkan tidak ada. Air sungai yang dapat langsung dikonsumsi pun sudah sangat langka. Guna menghasilkan air bersih yang layak minum PDAM mesti kerja ekstra keras mengolahnya. Biaya produksi pengolahannya pun tentu makin tinggi.

Ibarat penyakit, maka kondisi sanitasi di Indonesia sudah kategori akut. Kondisi yang emergency ini membutuhkan penangan cepat, tak dapat ditunda. Pemandangan tumpukan sampai di banyak tempat tidak seharusnya berujung di sungai. Cukup banyak sudah kejadian banjir bandang yang membawa banyak korban jiwa. Masihkan kita akan abai? Di manakah letak nurani kita jika justru menjadi bagian yang berandil dalam mencipta bencana itu?

Pilihan kita sekarang adalah sanitasi atau tragedi. Rumusnya sesederhana itu. Jika tidak segera kita menyeriusi penanganan sanitasi, maka bersiaplah mendapati tragedi. Jika ternyata tragedi lingkungan masih melanda, berarti kita masih abai menangani sanitasi. Dalam Alquran surat Yunus ayat 23 cukup menyadarkan kita bahwa bencana akan menimpa jika kita melakukan pengrusakan di muka bumi. Alquran surat Ar-Rum ayat 41 juga mengisyaratkan bahwa kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.

Pemahaman dan kesadaran tentang PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) perlu menjadi perhatian bersama. Sekolah dapat berperan sebagai institusi yang mengajarkan, melatih, dan membiasakan pola hidup bersih dan sehat, serta kepedulian akan sanitasi. Bermula dari pembiasaan di sekolah diharapkan terbentuk karakter. Upaya ini tentunya membutuhkan proses yang terus-menerus tanpa kenal lelah.

Setidaknya ada lima hal yang perlu dibudayakan tentang sanitasi. Pertama, pengelolaan sampah berwawasan lingkungan. Kedua, pengelolaan jamban sehat. Ketiga penataan selokan atau saluran air yang baik. Keempat, pembiasaan mencuci tangan dengan sabun di air mengalir. Kelima, pengelolaan dan penyimpanan makanan dan air minuman yang sehat.

Kegiatan penanaman karakter sanitasi peduli lingkungan bukanlah kegiatan yang sekali kegiatan lalu persoalan akan beres dan rampung. Kegiatan ini adalah proses panjang, tanpa kenal lelah, dan harus antibosan. Bosan kegiatan sama halnya dengan matinya sanitasi. Jika hal itu terjadi, maka bersiaplah menyambut tragedi. Konsistensi dan sinergi adalah kunci keberhasilan program budaya sanitasi dan penanaman karakter peduli lingkungan.

Langkah pertama dan utama budaya sanitasi adalah pembiasaan membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah basah dan kering. Dapat pula dipilah menjadi tiga, yaitu sampah organik, anorganik, dan Tong Sanitasi. Tong Sanitasi adalah tempat sampah khusus untuk sampah berupa gelas dan botol plastik. Khusus Tong Sanitasi ini kegiatan bisa dilanjutkan dengan kegiatan menjualnya dan menjadikan uangnya sebagai tambahan kas kegiatan kesiswaan.

Hal lain sebagai pengembangan kegiatan sanitasi sekolah adalah mewajibkan siswa membawa mangkok. Mangkok digunakan saat siswa membeli jajanan.  Tujuan kegiatan ini untuk mengurangi produksi sampah (reduce). Variasi lain dari kegiatan ini adalah kegiatan sarapan bersama di sekolah. Siswa dianjurkan membawa bekal makanan ke sekolah, dengan menu sehat dan gizi seimbang, dan tidak boleh menggunakan kemasan plastik atau sekali pakai. Hal ini terbukti efektif dalam mengurangi produksi sampah.

Selain untuk keperluan budaya sanitasi, kegiatan sarapan bersama di sekolah menggunakan mangkok dari rumah, juga bermanfaat untuk penanaman keakraban. Baik antar sesama siswa, maupun siswa dengan guru. Selain itu juga bermanfaat untuk literasi kesehatan tentang makanan sehat dengan gizi seimbang. Bermula dengan pembiasaan di sekolah, diharapkan akan menjadi gaya hidup sehat kapan dan dimana pun nantinya.

Pola hidup bersih dan sehat sebenarnya sudah menjadi pembiasaan di keluarga sejak kecil. Mencuci tangan pakai sabun, menyiram WC sampai bersih sehabis buang air besar dan air kecil. Membersihkan dan merapikan tempat tidur, tempat belajar. Mencuci piring, pakaian, menyapu lantai. Hal itu berlanjut saat remaja, misalnya remaja putri yang sudah menstruasi, diajari dan ditanamkan cara mengatasi pembalut bekas. Kesemuanya mestinya sudah dibiasakan sejak di rumah oleh orang tua. Dengan demikian, sinergi sekolah dengan orang tua merupakan modal penting untuk sama-sama melek sanitasi.

Kebiasaan anak dari keluarga yang memiliki pembantu rumah tangga berbeda dengan anak yang tidak memiliki pembantu rumah tangga. Itu dalam hal pembiasaan saat di rumah. Namun di sekolah penanaman karakter peduli lingkungan akan beda perlakuannya. Di sekolah semua siswa wajib melaksanakan piket kebersihan. Semua anak diperlakukan sama, dia harus menyapu kelas, mengepel lantai, mengelap kaca, merapikan bangku, dan menjaga kebersihan.

Budaya sanitasi di sekolah merupakan proses pembiasaan. Ia membutuhkan keuletan, kesungguhan, dan konsistensi. Selain itu, keteladanan guru dan orang tua di rumah juga berperan penting. Sudilah kiranya para guru sebelum memulai pembelajaran di kelas, meminta siswa untuk memperhatikan sekitar. Jika masih ada sampah di kelas, persilakan siswa untuk memungut dan membuang pada tempatnya. Sebatas yang masih terjangkau dari posisi tempat duduk masing-masing.

Banyak pandangan tentang bagaimana seharusnya manusia memperlakukan alam. Ajaran kejawen misalnya, ada ungkapan memayu hayuning buwana, yaitu sikap keharusan memelihara kecantikan alam semesta. Ajaran Islam juga demikian, manusia harus memperlakukan alam sebagai ciptaan Tuhan yang harus dilestarikan. Manusia harus menjaga harmoni alam.

Pemahaman tentang lingkungan alam tidak dapat dipisahkan dari aspek religiusitas. Dikotomi khalik-makhluk memosisikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Manusia tak lain adalah wakil Tuhan di muka bumi. Bahkan, kepedulian terhadap lingkungan adalah indikator taraf keimanan seseorang. Saatnya dunia pendidikan menerapkan ajaran bahwa setiap orang adalah guru, setiap lingkungan adalah sekolah.

*) Penulis adalah guru SMPN 1 Bondowoso, instruktur Literasi Nasional, dan Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Bondowoso.

IKLAN