BERDASARKAN data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah warga kabupaten Jember tahun 2017 adalah 2.430.185.000 jiwa. Tentu di tahun 2018 dan 2019, jumlah penduduk Kabupaten Jember terus bertambah. Sayangnya, ketika mereka bangun setiap pagi untuk menyongsong hari baru yang penuh lika-liku, masing-masing melakukannya dengan kondisi yang berbeda-beda.

Sebagian warga hidup dalam sebuah rumah dengan taman kecil yang indah di pinggir kota dan memiliki dua mobil. Tempat tinggalnya dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas. Setiap ruangan dipenuhi dengan berbagai macam barang konsumsi da alat-alat listrik. Di rumah itu terdapat makanan untuk disantap tiga kali sehari dengan tambahan berbagai makanan kecil. Di antara berbagai produk makanan tersebut terdapat bahan-bahan yang diimpor dari luar negeri. Mereka memiliki persediaan makanan yang lebih dari cukup, pakaian bagus, kondisi kesehatan prima, dan keuangan tercukupi.

Anak dalam keluarga tersebut sehat dan bersekolah. Kemungkinan besar mereka akan mampu menyelesaikan sekolah menengah, melanjutkan ke perguruan tinggi, mengambil salah satu dari sekian banyak pilihan karier dan menjamin masa depan, serta hidup dengan tenteram. Di permukaan, keluarga ini merupakan ciri khas keluarga kaya, jelas mereka memiliki kesempatan dan pendidikan yang diperluka untuk memperoleh pekerjaan yang mapan. Secara umum mereka memiliki status ekonomi dan gaya hidup yang menyenangkan maupun menarik. Sehingga dijadikan sebagai patokan dan angan-angan oleh anggota masyarakat yang lain

Sebaliknya terdapat sebagian masyarakat yang hidup di rumah sederhana dengan satu keluarga berjumlah lebih dari enam orang dan nasibnya jauh kurang beruntung. Mereka sehari-hari terpaksa harus hidup dalam kondisi serba kekurangan. Bahkan ada yang tidak memiliki rumah sendiri. Kalau punya rumah, ukurannya begitu kecil. Sedangkan persediaan makanan acapkali tidak memadai. Umumnya kondisi kesehatannya tidak begitu baik. Ada juga yang mengalami sakit buruk, tetapi tidak berobat. Mereka banyak yang mengalami buta huruf dan menganggur, sehingga masa depannya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dapat disebut suram atau sekurang-kurangnya tidak menentu.

Cerminan diatas merupakan kehidupan yang dialami oleh keluarga besar yang tinggal di sebuah desa. Keluarganya terdiri dari 10 orang atau lebih. Mereka mengumpulkan penghasilan baik yang berupa uang maupun barang. Mereka secara bersama-sama hidup dalam sebuah gubuk reyot berkamar satu dan bekerja sebagai petani penggarap tanah pertanian yang dimiliki oleh tuan tanah yang hidup di kota. Semua anggota keluarga harus bekerja di ladang sepanjang hari. Tidak satupun dari orang-orang dewasa yang bisa membaca dan menulis. Dari anak yang berusia sekolah, hanya dua orang saja yang bisa bersekolah. Anak-anak itu tidak bisa berharap terkait masa depannya. Akses jalan menuju tempat tinggalnya sangat memprihatinkan. Hal ini menunjukkan adanya potret suram kesenjangan.

Potret suram kesenjangan memerlukan political will (kehendak politik) sepenuh hati dari pemangku kepentingan, terutama pemerintah. Jangan sampai masyarakat mendengar kalimat kesejahteraan, dan kemakmuran hanya di momen-momen kampanye saat tahun politik. Sudah jelas pesan konstitusi dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah memajukan kesejahteraan umum. Maka kesejahteraan bukan hanya dinikmati oleh sebagian orang. Tetapi harus dari sudut kota sampai sudut desa. Salah satu solusi permasalahan kesenjangan di kabupaten Jember dengan menerapkan paradigma pembangunan berpusat pada rakyat (people centered development).

Paradigma pembangunan berpusat pada rakyat menekankan pentingnya unsur manusia sebagai ‘inti’ dari pembangunan itu sendiri. Jika manusianya mampu, mempunyai pengetahuan cukup, keterampilan yang memadai dengan sendirinya kemiskinan akan dapat dikurangi. Oleh karena itu, paradigma ini lebih mengisyaratkan peningkatan kapasitas manusia, sehingga mampu menjadi subyek pembangunan, bukan hanya sebagai obyek seperti yang selama ini sering diterapkan. Akhirnya melalui peningkatan kapasitas manusia, masyarakat yang hidup di sebuah desa dapat memanfaatkan potensi sumber daya alam untuk menunjang perbaikan taraf hidupnya.

Paradigma pembangunan berpusat pada rakyat diyakini dapat mengurangi dan membebaskan masyarakat dari belenggu kemiskinan. Karena sumber kemiskinan di berbagai wilayah disebabkan minimnya kualitas sumber daya manusia, sehingga masyarakat berpikir pragmatis dan belum tumbuh benih-benih kreatifitas.

Dengan paradigma pembangunan berpusat pada rakyat, maka kelompok masyarakat yang selama ini mengalami kemiskinan akan memiliki ketrampilan dan pengetahuan untuk memanfaatkan potensi asset di sekitarnya. Manfaatnya penghasilan masyarakat meningkat di berbagai tempat. Implikasi dari peningkatan penghasilan akan menunjang taraf hidup masyarakat yang awalnya serba kekurangaan menjadi berkecukupan. Sehingga potret suram kesenjangan sedikit demi sedikit dapat terkurangi.

*) Penulis adalah mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pemerhati Program Penanganan Kemiskinan.

IKLAN