CERAMAH: Euis Darliana (dua dari kanan,) bersama Alfi Handayani dan Ustadah Ida Wahyuni Nurlatifa (tengah ceramah) saat berada di Rutan Bangil. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Masa kelam hidup di penjara, mengajarkan banyak hal bagi Euis Darliana, 55. Berangkat dari penjara itu pula, warga Tambaksari, Kota Surabaya ini mendedikasikan hidupnya untuk syiar agama. Tujuannya, agar mereka yang hidup di penjara bisa bangkit dan tidak semakin terpuruk.

————

Tidak ada orang yang ingin hidup di penjara. Karenanya, ketika ditahan dan dipenjara, rasa sedih dan ingin lari berkecamuk di dada. Itu juga yang pernah dirasakan Euis Darliana.

Perempuan 55 tahun itu sangat terpukul dengan apa yang menimpanya pada 2014. Ketika itu, ia dijebloskan ke penjara gara-gara tersangkut kasus korupsi yang dituduhkan kepadanya. Meski dalam hatinya, ia merasa tidak bersalah.

Ia hidup di Rutan Medaeng selama kurang lebih 14 bulan. Selama itu pula banyak pelajaran hidup yang didapatnya. Hingga akhirnya, ia mengerti arti hidup sesungguhnya. Dari situ, ia bertekad mendedikasikan hidupnya untuk syiar agama. Khususnya di penjara.

Seperti yang dilakukan di Rutan Bangil, Rabu (18/9). Ia bersama Ustadah Ida Wahyuni Nurlatifa dan temannya mantan narapidana, Alfi Handayani, memberikan taushiyah kepada warga binaan perempuan Rutan Bangil. “Kami memang rutin datang ke Rutan Bangil setiap Rabu,” kata Ana -sapaan Euis Darliana.

Bukan hanya Rutan Bangil yang menjadi tempatnya bersama rekan-rekannya untuk ber-taushiyah. Mereka juga sering ber-taushiyah di Rutan Wanita Medaeng dan Lapas Sidoarjo.

Ia pun memiliki jadwal untuk masing-masing penjara. Rutan Wanita Medaeng misalnya, dilakukan setiap Senin dan Sabtu. Sementara Lapas Sidoarjo, berlangsung Senin hingga Jumat.

“Kalau hari Selasa, kami punya majelis taklim sendiri di rumah saya. Rata-rata yang hadir dalam majelis taklim Istiqomah itu, mantan narapidana seperti saya,” aku dia.

Ana mengaku senang bisa memberikan taushiyah kepada warga binaan. Karena hidup di penjara pernah dirasakannya. Sehingga, ia bisa berbagi rasa bagaimana susahnya hidup di penjara.

“Jadi, ketika saya mengajak mereka untuk bersabar, saya punya dasar juga. Yakni, pernah merasakan seperti mereka,” tandasnya.

Dedikasi untuk memberikan taushiyah di tahanan, bermula dari kasus hukum yang melilitnya. Tahun 2014, ia dipenjara di Rutan Medaeng karena tersangkut kasus korupsi.

Awal masuk penjara, ia ingin berontak. Namun, pelan tapi pasti, ia mulai bisa menerima. Bahwa apa yang dialaminya, merupakan takdir dari Allah yang sudah dicatat di lauhul mahfudz, sebelum dirinya ada.

Dasarnya adalah surat Al-Hadid ayat 22 dan 23. Hal itulah yang menjadi pedomannya. Hingga ia mulai bangkit dan berusaha ikhlas untuk menerima semuanya.

Menurut Ana, di dalam Rutan, hidupnya memang banyak berubah karena lebih banyak digunakan untuk beribadah. Berbeda ketika berada di luar tahanan. Untuk mengaji atau mendengarkan ceramah agama saja jarang dilakukan.

“Berbeda dengan ketika ada di penjara. Saya lebih banyak memanfaatkan waktu untuk beribadah,” sampainya.

Berangkat dari situlah, tekadnya untuk memberi motivasi hidup dengan taushiyah agama kepada warga binaan lain muncul. Munculnya keinginan itu, bermula ketika ia bertemu dengan Ustadah Cici yang datang ke rutan tempatnya berada.

“Saya pernah mendengar Ustadah Cici ceramah. Dari situ, saya tertarik untuk ikut berbagai kisah kepada warga binaan yang lain,” kenang dia.

Hingga Agustus 2015, ia bebas dari penjara. Ia kemudian sering ikut Ustadah Cici mengaji di Masjid Almaghfiroh Surabaya. Dari situ pula, ia sering diajak untuk memberikan taushiyah di Medaeng, penjara tempatnya pernah ditahan.

Lalu tahun 2016, ia membentuk komunitas majelis taklim Istiqomah. Majelis taklim tersebut, rata-rata berisi mantan napi. Tujuannya tak lain agar mereka semakin termotivasi dan tak merasa rendah diri pasca keluar dari tahanan.

“Komunitas ini beranggota 20 orang lebih. Padahal, semula hanya enam orang dan rata-rata adalah mantan napi. Baik kasus penggelapan, narkoba, dan lainnya,” ulasnya.

Dari komunitas majelis taklim tersebut, tidak semuanya bisa memberikan ceramah di rutan. Hanya beberapa saja yang bisa. Termasuk dirinya dan rekannya, Alfi Handayani.

Biasanya, mereka berdua didampingi Ustadah Ida Wahyuni Nurlatifa, salah satu pengurus majelis taklim Attawaduk. Karena untuk masuk rutan ataupun lapas menggunakan “bendera” Attawaduk tersebut.

Menurut Ana, beberapa rutan lain juga sempat “meminang” mereka untuk berceramah. Namun, karena keterbatasan waktu dan tenaga, membuat tidak semuanya terlayani. Seperti yang ada di Lamongan.

Ia meyakinkan, mengisi pengajian di rutan dan lapas, murni untuk syiar agama. Artinya, tidak digunakannya untuk mencari uang. Pernah, kata Ana, pihak rutan hendak memberinya uang bensin.

Tapi, pihaknya memilih untuk tidak menerimanya. “Kami murni ingin membantu warga binaan dengan syiar agama. Jadi, biar Allah yang membiayai kami,” tutur Ana.

Banyak hal yang membuatnya bahagia ketika bisa mengisi di rutan ataupun lapas. Rasa bahagia itu muncul ketika bisa melihat warga binaan berhijab. Dulunya yang belum bisa mengaji, akhirnya bisa mengaji.

“Sungguh hal itu membuat hati kami merasa senang,” pungkasnya diamini temannya, Alfi Handayani. (one/hn/fun)

IKLAN