NAIK PERAHU KARET: Personel Lanal Banyuwangi dan Tim Gabungan berkolaborasi menghalau hiu tutul keluar kanal PLTU Paiton menuju laut lepas. (LANAL BANYUWANGI FOR RABA)

Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Kerja keras tim Lanal Banyuwangi bersama segenap elemen terkait berbuah manis. Hiu tutul yang terjebak di kolam PLTU Paiton sejak tiga pekan lalu berhasil diselamatkan. Satwa dilindungi itu pun selamat, sedangkan obvitnas tak terganggu.

SIGIT HARIYADIBanyuwangi

KALI pertama terpantau pada 29 Agustus. Seekor hiu tutul terjebak di kanal inlet unit 2 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton, Probolinggo.
Hiu itu ditaksir masih berumur sangat muda. Panjang tubuhnya 5 meter.

Peristiwa itu pun segera dilaporkan ke Dinas Perikanan setempat. Laporan itu lantas diteruskan ke Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar.

Tim terpadu dibentuk. Pihak Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Banyuwangi di bawah Komando Lantamal V Surabaya, Jajaran Koarmada II dilibatkan. Tim terdiri Lanal Banyuwangi, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut KKP, Direkorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati KLHK, BPSPL Denpasar, dan BKSDA Jawa Timur.

Sejak Jumat (30/8), tim gabungan menyisir sepanjang kanal di pembangkit yang memasok energi listrik untuk wilayah Jawa dan Bali tersebut. Namun sayang, hewan dengan nama latin Rhincodon typus, itu tak ditemukan.

Selang beberapa hari kemudian, tepatnya Kamis (5/9), hiu tutul itu muncul lagi ke permukaan kanal. Tepatnya di inlet unit 1-2 PT Pembangkitan Jawa Bali Unit Pembangkit (PJB-UP) Paiton. Pihak PT Perusaahaan Listrik Negara (PLN) berusaha mengevakuasi dengan cara menggiring satwa dilindungi itu kembali ke laut. Namun sayang, lagi-lagi hiu itu menghilang.

Singkat cerita, hiu tutul itu kembali terlihat pada Rabu (11/9). Kali ini, satwa tersebut muncul di kanal inlet PLTU Paiton Unit 6. Hiu itu terpantau bergerak menuju kanal inlet unit 2. Upaya penyelamatan pun dilakukan secara terpadu. Unsur PLN, TNI, dan berbagai pihak terkait dilibatkan.

Kemunculan satwa tersebut kembali terulang pada Kamis (12/9) dan Jumat (13/9). Tim gabungan segera menyusun rencana evakuasi hiu paus itu menuju laut lepas. Berbagai cara dilakukan untuk mengusir hiu tersebut dari kanal intake.

Antara lain dengan cara menyemprotkan air dari mobil damkar dan teknik seblang (membuat bunyi gaduh dengan cara memukul air dengan bambu). Namun, semua cara itu tidak membuahkan hasil. Hiu tetap tidak mau keluar dar kanal intake tersebut.

Komandan Lanal (Danlanal) Banyuwangi Letkol Laut (P) Yuliuz Azz Zainal SH MTr Hanla MM langsung memerintahkan Pos Angkatan Laut (Posal) Mayangan dan Paiton memimpin langsung proses evakuasi satwa dilindungi tersebut. Pasops Kapten Laut (P) Agung Suhendro dan Pasintel Kapten Laut (KH) Eko Kawitono turun langsung ke lokasi.

Usaha evakuasi ikan hiu tersebut keluar kanal menuju laut lepas diperlukan metode-metode khusus. Selain karena hiu tutul ini merupakan satwa dilindungi, karakternya tidak terlalu responsif. ”Dibutuhkan waktu yang cukup lama dengan persiapan yang matang. Juga teknik-teknik khusus agar satwa yang terjebak ini dapat dievakuasi dengan aman dan selamat,” ujar Danlanal Yulius Azz Zaenal.

Dari hasil rapat tim terpadu akhirnya diputuskan pengusiran ikan hiu dengan menggunakan perahu karet (rubber boat). Cara efektif yang ditempuh adalah dengan menarik keluar hiu dengan jaring yang diikatkan dengan perahu karet.

Hingga akhirnya, sekitar pukul 13.00 Kamis kemarin (19/9), tim berhasil berhasil mengevakuasi ikan hiu tersebut ke perairan Paiton. ”Hiu tersebut berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Hiu tersebut langsung kita lepas ke laut lagi,” kata dia.

Upaya penyelamatan yang berlangsung berhari-hari ini membuktikan petuah bijak yang menyatakan tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Terbukti, selain berhasil menyelamatkan satwa dilindungi, tim terkait yang dimotori Lanal Banyuwangi juga berhasil mengamankan objek vital nasional (obvitnas) pemasok listrik di wilayah Jawa dan Bali tersebut.

(bw/sgt/aif/als/JPR)

IKLAN