PESANTREN dari waktu ke waktu mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang signifikan. Perkembangan dan pertumbuhan yang tidak bisa dihindari sesuai situasi dan kondisi. Sebuah reaksi yang menunjukkan sekaligus membuktikan bahwa pesantren benar-benar peka dan peduli akan keadaan sekitarnya. Sebagai lembaga pendidikan paling tua dan paling bersejarah di tanah Nusantara, pesantren selaku gerbang penjaga moral bangsa menyadari bahwa proses menyesuaikan dan mengadopsi hal-hal baru adalah salah satu upaya mediasi sakaligus respon zaman agar saluran dakwah dapat diterima.

Upaya pembaharuan atau yang lebih familiar dikenal dengan istilah al-Akhdzu atau tajdid ini, merupakan warisan para pendahulu dan stakeholder awal terbentuknya sebuah lembaga bernama pesantren, yaitu Sunan Wali Songo. Sebagaimana masyhur dikabarkan, bahwa kunci sukses para wali sembilan berhasil menyebarkan islam ke tanah jawa, salah satunya adalah dengan kesadaran dan pemikiran yang terbuka sehingga tidak menutup diri dan menerima hal-hal baru yang ada di lingkungannya. Akhirnya masyarakat merasa terangkul dan lambat laun menerima ajaran yang baru mereka kenal bernama agama Islam itu.

Tentu di satu sisi untuk menjaga moral dan etika agama yang sudah digariskan oleh agama, pastinya pesantren memiliki prinsip-prinsip sebagai pertahanan al-Muhafazhah (bertradisi) agar tidak terkontaminasi budaya-budaya baru tadi secara bebas tanpa batas. Dari sini, sederhananya dapat diambil kesimpula bahwa pesantren melakukan dua upaya yang bertentangan dalam satu tepukan dan satu pukulan sekaligus. Pesantren dipengaruhi tapi juga mempengaruhi, pesantren berubah tapi juga mengubah, pesantren berusaha memperbarui tapi juga berupaya mempertahankan. Model pemikiran semacam ini yang disebut oleh Kiai Ahmad Baso sebagai peneliti pesantren dalam bukunya “Al-Jabiri, Eropa, dan Kita” ketika membahas metodologi Islam Nusantara dengan istilah Ambivalensi. Gaya pemikiran yang dipegang oleh pesantren sebagai upaya konstruktif terhadap peradaban manusia. Dengan harapan, peradaban dunia akan mengalami perkembangan dan pertumbuhan di satu sisi, dan akan tetap terjaga dari sisi yang lain.

Berbicara tentang pertumbuhan pesantren dari masa ke masa, sebagai madrasah keagamaan dan kampus intelektual, memang benar adanya bahwa pesantren dijelaskan KH Said Aqil Siradj mengembangkan tiga dimensi yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia, intelektual, emosional, dan spiritual. Pesantren mengajarkan santri (sebutan pelajar pesantren) berdiskusi, ber-talaqqi, dan mengaji untuk mempertajam intelektual, pesantren menganjurkan mengabdi, berdikari, berorganisasi untuk membentuk sikap dan emosional, begitu juga pesantren menganjurkan bahkan mewajibkan santri lewat petuah kiai meningkatkan ritual keagaaman dan ibadah sebagai bentuk pengabdian dan permohonan pada Sang Kuasa guna ilmu dan kehidupanya kelak bermanfaat.

Akan tetapi, lambat laun ketiga dimesi penting itu mulai luntur satu per satu dan sejenak terlupakan begitu saja tertelan bumi. Santri sebagai penduduk pesantren terkesan memandang sebelah tiga dimensi penting itu, dan ada anggapan seolah dari ketiga dimensi itu yang paling dicari dan diprioritaskan para santri saat ini adalah sisi intelektualnya saja. Akibatnya santri hanya belajar dari buku dan kitab saja, tapi enggan mengabdi dan menuruti petuah sang guru atau Kiai. Sebagian santri beranggapan bahwa dia datang ke pesantren untuk belajar dan sekolah di kampus atau lembaga semata bahkan sebagai mereka rela mendobrak aturan pesantren dan lupa bahwa aturan pesantren adalah representasi dari perintah kiai itu sendiri. Padahal sebagaimana diutarakan para sesepuh pesantren, bahwa mondok itu untuk mengaji bukan untuk sekolah atau kuliah. Akibatnya tidak jarang petuah dan pesan sang kiai atau guru dipandang sebelah mata seakan tidak ada nilai kesaktian dan pengaruhnya.

Padahal jika kita sedikit menoleh dan mengingat sejarah, para santri dahulu yang sukses mengabdikan dirinya pada masyarakat dan berguna bagi negara adalah santri yang sangat patuh bahkan tunduk pada perintah gurunya apapun itu bentuk perintahnya, karena itulah ciri khas seorang santri. Kepatuhan santri pada sang kiai seperti juga kepatuhan anak pada orang tuanya karena kiai adalah guru dan guru juga orang tua selain bapak ibu dan mertua. Oleh karenanya, tidak heran kemudian ketika Gus Dur sapaan akrab KH Abdurrahman Wahid menanggapi pertanyaan dalam salah satu acara di televisi, “Kenapa memberanikan diri maju sebagai calon presiden?” Gus Dur menjawab, “Karena saya diperintah tiga sesepuh saya untuk maju, apapun yang diperintah mereka, disuruh nyemplung sumur sekalipun, maka akan saya tururi karena saya itu orang pesantren”. Begitulah jawaban dahsyat seorang Gus Dur yang membuat para penonton seketika tertegun dan bertepuk tangan. Jawaban yang sakti dan penuh misteri.

Sebagaimana dikisahkan dalam beberapa buku cerita sejarah pesantren dan cerita para kiai dalam ceramahnya, dahulu kebanyak santri sebelum menjadi sukses dan berpengaruh di tengah-tengah masyarakat adalah sosok santri yang sangat patuh dan ta’dim pada kiainya. Di sana dikisahkan KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama sangat patuh pada gurunya ketika mengaji ke KH Kholil Bangkalan, KH As’ad Syamsul Arifin menuruti perintah gurunya Kiai Kholil Bangkalan untuk mengantarkan tongkat dan tasbih pada Kiai Hasyim Asy’ari, berjalan dari Madura ke Jombang bahkan sampai enggan membuka tongkat itu yang diselimuti dengan kain. Kiai Hasan Genggong dan Kiai Mino Probolinggo yang rela mencari cincin istri kiainya yang hilang dan beliau berdua menemukannya di penampungan WC tanpa merasa jijik sekalipun.

Bahkan tidak sedikit dari mereka para santri terdahulu yang kegiatan belajarnya biasa-biasa saja tapi rasa tunduk dan patuhnya pada sang guru sangat luar biasa, akhirnya sukses dan berguna selama hidupnya. Dari sini kesimpulan sederhana dapat diambil bahwa usaha seperti belajar dan lain semacamnya adalah sebuah proses penting yang harus dilakukan oleh setiap pelajar siapapun dan dimanapun dia belajar, akan tetapi satu hal penting yang harus selalu diingat dan diperhatikan juga bahwa kepatuhan kepada guru sebagai tenaga pendidik akan memberi pengaruh besar dan senjata sakti untuk masa depan pelajar di kehidupannya kelak. Pengaruh itu secara spontan terjadi karena guru atau kiai pasti mendoakan dan memohon pada Sang Kuasa untuk kesuksesan murid-muridnya. Sekian terima kasih, mari mengaji, mengkaji, dan mengabdi.

*) Penulis adalah mahasiswa rantau asal Jawa Timur, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan santri Pondok Pesantren Nurul Jadid.

IKLAN