MANGKATNYA putra terbaik bangsa Indonesia yang juga Presiden RI ke-3, Bapak B.J Habibie membawa duka mendalam. Sepanjang hayat beliau, banyak kenangan yang patut ditauladani. Tidak saja mengenai cinta sejati sejoli Habibie-Ainun yang istimewa terkenang abadi, tidak pula hanya menerbangkan kedirgantaraan Indonesia meraih penghormatan tertinggi di dunia. Namun pikiran-pikiran yang mengurai pekatnya aras ideologis ke ruas teknokrasi, terutama di wacana perekonomian Indonesia, menjadi legacy yang tidak dapat dilupakan.

Dalam diskursus perekonomian Indonesia paling tidak publik mengenal tiga teknokrat Indonesia yang mengemuka antara lain Widjojo Nitisastro dengan Widjojonomics, B.J Habibie (Habibienomics) dan yang terakhir Jokowi (Jokowinomics). Petualangan akademik di Jerman bisa jadi merupakan ruang kontemplasi tepat bagi beliau. Pendidikan dengan platform khas sistem pendidikan tinggi Eropa daratan membuncahkan banyak ide-ide besar yang berkelindan dalam kepala. Tidak heran ide besarnya tidak hanya melambungkan namanya di jagad kedirgantaraan dunia dengan sebutan Mr. Crack, lebih dari itu mengarus pada perdebatan pelik solusi masalah perekonomian bangsa.

Adalah terminologi Habibienomics disematkan untuk menegaskan ide ekonomi ala Bacharuddin Jusuf Habibie. Yakni konsep ekonomi yang menekankan masalah nilai tambah, competitive advantage dan penguasaan teknologi tinggi dalam industri. Konsep ini tidak mengelinding mulus, pro-kontra menyeruak demikian rupa. Banyak yang memaknainya hanya penggunaan dana besar-besaran untuk investasi sektor industri berkonten high technology semata. Terkesan terburu-buru dan meloncat. Tapi menariknya hingga era Habibie berkuasa penerapannya tidak mendapat ruang dan waktu yang memadai. Justru waktu itu berdebatan konsepsional mencadas antara Widjojonomics dan Habibienomics.

Satu poin yang bisa ditarik dari berdebatan itu adalah keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi didukung tidak hanya oleh faktor produksi ekonomi yang statis namun faktor produksi yang harus dinamis, dengan skala ekonomi yang meningkat (increasing return to scale) dalam koridor persaingan kompetitif. Uniknya juga mengulik variabel teknologi dari variabel eksogeneous menjadi variabel endogeneous dalam laku mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Lainnya, konsep Habibienomics menegaskan perubahan mindset tenaga kerja menjadi konsep sumber daya manusia. Jelas ini menabrak arus utama implementasi pemikiran ekonomi pada waktu itu. Tapi sebangun dengan ekonom Friedrich List yang mengemukakan konsep Pendekatan Tenaga Produktif, bahwa kemakmuran suatu bangsa bukan disebabkan oleh akumulasi harta dan kekayaan, melainkan dengan cara membangun lebih banyak tenaga yang produktif.

Sejurus perubahan waktu, konsep Habibienomics ikut mengarus dalam perekonomian hingga kini. Persaingan ekonomi yang begitu ketat di era global memaksa adanya perubahan ekonomi kelembagaan dalam konteks sumber daya manusia. Investasi padat otak adalah keharusan. Serangkaian kebijakan ekonomi diproduksi untuk mengugat lemahnya SDM dan mengejar ketertinggal sektor industri. Era Jokowi menangkap pemikiran ekonomi Habibie ini dengan tantangan yang berbeda. Lahirlah konsep Jokowinomics dengan pernik-pernik yang beda. Secara ikonik, industrinya tidak lagi kapal terbang, industrinya adalah industri digital. SDM unggul untuk Indonesia maju menjadi jargon pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Semua pemikiran dikerahkan untuk mendobrak ketertinggalan SDM kita. Tidak lagi alergi dengan high tech industry seperti dulu. Era industri 4.0 mau tidak mau perlu pasokan SDM unggul, sektor pendidikan dan kesehatan menjadi investasi negara untuk mampu bersaing sehingga mendapatkan nilai tambah bagi perekonomian dengan keunggulan kompetitif yang dibarengi dengan nilai-nilai etik dan moral. Di sektor kesehatan tidak lagi menyisakan masalah rendahnya kesehatan dan gizi buruk bayi dan balita, tingginya kematian ibu hamil, ataupun masalah stunting. Sedangkan pendidikan diperbaiki untuk meningkatkan aksesibilitas pada sektor industri maju dengan memperbanyak lembaga manajemen talenta dan sekolah vokasi. Untuk itu akselerasi peningkatan SDM direncanakan sebesar Rp 505,8 triliun atau meningkat 29,6 persen dibandingkan realisasi anggaran 2015 sebesar Rp 390,3 triliun. Sasaran dan targetnya adalah memperluas beasiswa pelajar hingga mengenyam pendidikan tinggi terutama dari keluarga kurang mampu. Juga program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tersalur untuk 54,6 juta siswa tahun 2020. Intinya, kebijakan peningkatan SDM harus mampu mengerus sekat-sekat pelemahan semangat berkompetisi di era global.

Singkat cerita, SDM unggul dimaknai sebagai faktor produksi padat otak dengan penguasaan teknologi tinggi dan memiliki keunggulan kompetitif sehingga berkuasa memutus rente ekonomi dan amputasi perilaku korupsi yang tega menguras sumber daya ekonomi bangsa. Yakinlah ini adalah sepenggal mimpi Bapak Habibie dengan Habibienomics-nya untuk Indonesia maju. We owe it to pak Habibie! RIP Mr. Crack.

*Penulis adalah dosen Jurusan Ilmu Ekonomi-Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember.

IKLAN