SEPENGGAL tayangan film fiksi ilmiah tanpa judul mengawali pelaksanaan workshop Sistem Elektronik Informasi (SETI) di Aula Al Irsyad Bondowoso beberapa waktu lalu. Film yang digital minded berisi tentang kehidupan yang sudah serba digital dan penuh gawai. Dalam penggalan itu divisualisasikan sebuah rumah sudah menjadi media layar sentuh. Masuk rumah sudah bernuansa digital. Dinding kamar telah berubah menjadi gawai super besar. Untuk mengupdate atau melihat ada pesan masuk tak perlu lagi buka android di saku kita, tapi dinding kamar telah menjadi android raksasa. Demikian pula di toilet, di dapur atau di tempat fasilitas umum, semua telah serba digital.

Lain halnya, sebuah rumah pintar di Gegerkalong Bandung yang dirancang sebagai prototype rumah digital. Pemilik rumah bisa membuka dan menutup pintu secara tak lagi manual. Rumah bisa memberi tahu pemiliknya bahwa ada tamu di luar rumah lengkap dengan gambar orangnya. Bahkan untuk menyalakan lampu, mencari channel televisi, dan membuka atau menutup gorden. Semua dikendalikan oleh si kotak cerdas, sepotong gawai.

Tak terasa kita sudah bersiap-siap memasuki era baru, era digital yang sebenarnya. Sebuah realitas kehidupan dengan perangkat modern dan canggih yang memudahkan setiap pengguna untuk menjalankan berbagai aktifitas dalam kehidupan. Saat ini telpon genggam tak sebatas berfungsi menelpon dan mengirim pesan secara tertulis atau saling berbagi kejadian yang sedang viral. Kini android jauh memiliki multi fungsi. Beberapa perangkat yang selama ini akrab dengan kehidupan kita seperti kalender, jam tangan, kalkulator, stopwatch, media cetak, jasa jual beli, surat menyurat, kini diambil alih oleh Android.

Betapa media cetak harus cepat-cepat hijrah ke media online karena secara perlahan sudah mulai ditinggalkan pembacanya. Beberapa penerbitan yang bertahun-tahun sukses dengan oplah tingginya, kini mulai berangsur turun. Para pembaca banyak yang bergeser dari media cetak ke media online. Sedikit demi sedikit para pembaca bergegas meninggalkan dunia kertas.

Gejala dunia tanpa kertas juga mulai memasuki ruang kelas belajar anak. Diam-diam para guru mulai bergerak dari kertas ke digital. Dari kertas ke android. Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) adalah salah satunya. Dalam dunia yang lebih luas, Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang dianggap sebagai satu-satunya pangkalan data yang paling valid saat ini, sudah menunjukkan fakta tentang pergeseran itu.

Obsesi besar terjadi pada dunia pendidikan modern. Gawai dan personal computer menjadi sarana untuk dapat membuat berbagai hal berkaitan dengan pembelajaran. Materi ujian sekolah, Penilaian Harian, hingga Penilaian Akhir Semester. Semua bisa dikoneksikan dengan internet, untuk selanjutnya anak-anak dapat mengerjakan soal-soal lewat Android masing-masing. Anak-anak tak lagi bersentuhan dengan kertas. Cukup sediakan kotak ajaib, si telepon pintar.

Hadirnya berbagai aplikasi pembelajaran yang ada di gawai kita, pada satu sisi sangat memudahkan para guru dan siswa. Pada sisi lain menjadi tantangan tersendiri bagi para guru untuk turut berinovasi menciptakan media pembelajaran yang bernuansa digital. Kita akan tertantang untuk menyesuaikan diri dengan himpitan teknologi informasi. Mau tidak mau kita akan menerima teknologi informasi sebagai sahabat baru, bukan menjadikannya sebagai musuh. Kita menyadari, di balik nilai positif yang diberikan sang gawai, sisi negatif akan juga terus mengiringi. Hal inilah yang menjadi tugas kita bersama untuk menimalisasi kemungkinan dampak negatif yang akan muncul.

Menyoal kekhawatiran android masuk ke kelas-kelas kita, hal ini menyangkut persepsi terhadap kehadiran teknologi. Jika yang terbaca adalah bahayanya bagi anak-anak kita, maka kita tak akan pernah bersinggungan dengan era digital. Akan tetapi bila yang masuk ke otak kita adalah juatan manfaat, kita akan merasakan nikmat dan manfaat dari kehadiran Android itu.

Di sekolah tempat saya mengabdi, dalam tiga tahun terakhir telah melakukan kerjasama dengan Kedunginfo Infonesia, sebuah perusahaan yang menyediakan layanan seputar dunia digital dan teknologi informasi. Dalam kehadiran guru dan peserta didik, menggunakan kartu barcode system, yang terkoneksi ke internet. Kehadiran dan kepulangan para guru dan peserta didik bisa terdeteksi secara valid. Dan hebatnya dari sistem ini, ketika Kepala Sekolah sedang berada di luar kota, dapat memantau perkembangan kehadiran guru dan peserta didik melalui aplikasi telegram. Guru dan peserta didik yang hadir terlambat akan dapat diketahui oleh Kepala Sekolah, kendati Sang KS berada jauh di luar kota.

Dari beberapa gambaran diatas, kita tak lagi dapat menghindar dari era digital dan teknologi informasi saat ini. Kalau menaklukkannya sangat tidak mungkin, maka langkah bijak, menjadikannya sebagai bagian dari keseharian kita. Android, laptop, personal computer, dan internet akan semakin akrab dengan dunia pendidikan. Jika tidak, pendidikan akan terpelanting jatuh dan tertinggal dalam abad persaingan saat ini.

Dunia pendidikan kita perlu mengupgrade diri dengan melakukan modernisasi dalam semua biliknya. Ketertinggalan pendidikan Indonesia karena respon kita sedikit kendor dibandingkan negeri tetangga. Salah satu contoh, kehadiran smart board yang canggih, tak langsung kita eksekusi sebagai sebuah kebutuhan dunia pendidikan. Jadilah suasana kelas kita bermimpi di abad 21 tapi tampilannya abad 19. Inilah ironi.

Ketika Mendikbud Muhajir Efendi menyaksikan ruangan Smart Learning and Character Center (CLCC) di Gedung Guru Indonesia dengan perangkat teknologi canggih, saya sempat berpikir bahwa suasana berbasis digital ini akan ditindaklanjuti, di-breakdown sebagai kebutuhan pendidikan saat ini. Tak berapa lama pemerintah akan menelurkan kebijakan tentang pentingnya suasana digital. Tapi pemerintah masih kerepotan dalam persoalan anggaran. Bayangkan jika pemerintah harus menyediakan anggaran untuk sekian ribu kelas di Indonesia pada saat bersamaan.

Jika permasalahannya adalah keterbatasan anggaran, jalan tengahnya adalah menghadirkan sekolah-sekolah percontohan berbasis digital. Ada pilot project kelas digital. Ah, lagi-lagi hal ini menjadi persoalan baru, karena pemerintah sedang bersungguh-sungguh menggarap proyek zonasi. Pemerintah menginginkan wajah sekolah memiliki grade yang sama. Perbedaan hanya berkisar pada kecerdasan pengelola sekolah agar mendapat kepercayaan masyarakat.

Memasuki era digital yang terus merebak, pada saat yang bersamaan, secara perlahan kita meninggalkan cara-cara manual (dengan kertas). Pada saatnya secara evolutif, dunia tanpa kertas. Di beberapa instansi kini sudah menerapkan paperless system (tanpa kertas). Pelayanan konvensional yang membuat antrian panjang telah dipangkas oleh pelayanan online. Pembelian tiket pesawat, booking penginapan, pesan taksi, transfer dana, bahkan sekadar ingin mencicipi menu makanan tertentu, sudah menggunakan transaksi online yang super cepat.

Revolusi informasi yang prediksi futurulog Alfin Tofler perlahan menjadi kenyataan. Kendati belum terbukti semuanya, esensi dari sebuah perubahan besar, gerakan kuantum telah terjadi. Ada irisan antara revolusi informasi dengan Revolusi Industri 4.0 yang tengah berlangsung. Keduanya melahirkan dampak positif dan negatrif. Kini butuh kearifan kita untuk menghadapinya, dengan mengambil manfaat sebanyak-banyaknya, dan menepis efek buruk sekecil-kecilnya. Selamat datang kelas digital, kampung digital, dan Indonesia digital.

*Penulis adalah praktisi pendidikan dan Sekretaris PGRI Kabupaten Bondowoso.

IKLAN