Ilustrasi demam berdarah

BANGILRadar Bromo– Ancaman  nyamuk Aedes Aegypti patut menjadi perhatian warga Kabupaten Pasuruan. Sebab, meski tak sampai merenggut nyawa, jumlah kasus DBD terus bermunculan.

Bahkan, kasus DBD yang berlangsung tahun ini, hampir mendekati 2018 lalu. Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Kabupaten Pasuruan Agus Eko Iswahyudi menguraikan, kasus demi kasus DBD memang bermunculan.

Namun, jumlahnya mampu ditekan setiap tahunnya. Untuk tahun ini, kasus DBD yang berujung kematian tak sampai terjadi. Tercatat tren kasus DBD terus turun tiap tahunnya sejak 2016. Angka kematian imbas DBD pun juga ikut turun (selengkapnya lihat infografis).

Menurutnya, penekanan jumlah kasus DBD tersebut tak lepas dari program-program yang dijalankan serta kesadaran masyarakat yang kian meningkat. Mulai dari program pemberantasan sarang nyamuk hingga gerakan satu rumah satu jumantik.

“Monitoring dan evaluasi dari Dinkes dan pusat juga mempengaruhi tingkat kasus DBD. Terlebih lagi aktifnya Gemas Darling, sangat memberi andil besar dalam menekan kasus DBD,” ujar Agus Eko Iswahyudi, Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Pemkab Pasuruan.

Saat ini tercatat sudah ada 470 kader Gemas Darling atau gerakan masyarakat sehat sadar lingkungan. Sejumlah kalangan digandeng. Mulai masyarakat umum, ponpes, perusahaan, hingga militer dan instansi-instansi lain.

Kasus DBD di Kabupaten Pasuruan

Tahun                 Jumlah Kasus              Pasien Meninggal

2016                   764 kasus                    27 orang

2017                   313 kasus                    13 orang

2018                    191 kasus                    4 orang

2019*                 151 kasus                    belum ditemukan

 

Keterangan:

*Semester awal tahun

Sumber: Dinkes Kabupaten Pasuruan(one/mie)

IKLAN