Refleksi Satu Tahun Bondowoso ‘Melesat’

Oleh: Hermanto Rohman, S.Sos, MPA

HAMPIR satu tahun pasangan Bupati dan Wakil Bupati, Drs KH Salwa Arifin – H Irwan Bachtiar Rachmat (SABAR) memimpin Kabupaten Bondowoso melalui visinya dengan sebutan ‘Bondowoso Melesat’. Yaitu akronim dari terwujudnya Bondowoso Mandiri Ekonomi, Lestari, Sejahtera, Adil, dan Terdepan dalam Bingkai Iman dan Takwa. Visi tersebut kemudian diterjemahkan dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang sudah disetujui bersama dengan DPRD. Menjadi kebijakan perencanaan daerah untuk mengukur perubahan dan pembangunan selama lima tahun ke depan di bawah kepemimpinan SABAR.

Bondowoso Melesat, sesuai dengan penyebutan kata “Melesat” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dari pokok kata ‘pelesat’, memiliki arti memental atau terlepas dengan cepat. Makna “Melesat” ini akan menjadi konotasi positif jika disertai arah tujuan yang tepat dan tentunya dengan proses prakondisi baik. Jika tidak justru sebaliknya makna “melesat” akan menjadi konotasi negatif yaitu “terpental” dari apa yang diharapkan dan di cita-citakan.

Makna “melesat” agar sesuai dengan arah tujuan yang diharapkan, maka harus memahami secara kritis melalui makna akronimnya. Juga didukung dengan peran penerima mandat (birokrasi) untuk memanfaatkan sumber daya (energi) yang dimiliki secara tepat melalui terobosan, inovasi, serta sinergisitas. Jika tidak, makna melesat akan menjadi “melesek” (terjun bebas) dari apa yang diharapkan.

Diskusi “Melesat” adalah dengan menelaah secara kritis apa yang harus dilakukan berdasarkan makna akronimnya yang dijelaskan dalam 5 (lima) misi sebagaimana tertuang dalam RPJMD Kabupaten Bondowoso. Ada beberapa persoalan yang butuh pengkritisan dalam implementasi visi Bondowoso Melesat.

Pertama, satu tahun Bondowoso melesat belum ada kejelasan dan keseriusan pada sektor unggulan apa yang mendapat perhatian sebagai implementasi misi pertama (Me). Jika pemerintahan sebelumnya sudah menancapkan Bondowoso dikenal sebagai Republik Kopi, mestinya keseriusan yang dilakukan adalah dengan memetakan kawasan, bentuk peningkatan kapasitas pelaku pendukung sektor unggulan dari hilir sampai hulu, transfer teknologi dan Informasi (Smart Farming, E-Commerce), serta pemasaran dan jaringan (revitalisasi pasar pendukung, jaringan kerja sama/kemitraan). Kalau perlu disusun blueprint atau roadmap program dalam pencapaian lima tahun ke depan. Begitu juga pada sektor unggulan lain seperti pertanian organik, serta produk industri tape. Sektor unggulan ini juga harus mampu disinergikan dengan sektor lain misal pariwisata, usaha kecil dan mikro, serta koperasi dan perdesaan. Jika belajar dari Banyuwangi yang saat ini menuai buah pariwisata sebagai unggulan karena sudah jauh hari memetakan kawasan dan menyinergikan programnya melalui Triangle Diamonds Of Banyuwangi (segitiga berlian) kawasan unggulan Banyuwangi.

Kedua, satu tahun Bondowoso melesat belum tampak kejelasan visi pembangunan berwawasan lingkungan menuju Bondowoso Lestari. Isu sampah, isu kawasan hutan, industri, geotermal, tambang, pertanian, sumber daya air, ruang terbuka hijau dalam RTRW kabupaten bahkan secara detail belum dibuat regulasi turunan melalui Rencana Detail Tata Ruang dan Kawasan (RDTR dan RDTRK). Ini tentunya akan berdampak pada permasalahan di kemuadian hari jika di sisi lain pemerintah menargetkan peningkatan iklim investasi usaha dan izin penggunaan ruang. Saat ini juga belum ada kejelasan komitmen program terobosan untuk penciptaan ruang terbuka hijau serta ketersediaan air bersih. Terutama di daerah yang rawan serta penciptaan kelembagaan pengelolaan sampah dan teknologi pengolahan sampah yang lebih modern.

Ketiga, untuk menuju Bondowoso Melesat, masih belum tampak formula jelas dalam meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat. Angka kemiskinan dan juga akurasi data kemiskinan menjadi pemicu intervensi program kesejahteraan masyarakat harus menjadi perhatian. Sampai saat ini penyikapan data masih parsial dan sektoral di mana berkutat pada persoalan program dan proyek pemerintah pusat maupun pihak lain. Padahal Bondowoso sebenarnya memiliki modal dasar formula perbaikan data sebagaimana regulasi Peraturan Bupati Nomor 50 Tahun 2017 tentang Sistem Administrasi dan Informasi Desa. Regulasi tersebut secara kelembagaan dan sistem mengatur bagaimana solusi data kemiskinan diatasi melalui sistem satu data (BDT) dan tentunya dibutuhkan sinergisitas antar dinas (OPD) serta dengan melibatkan desa. Namun, keberadaan regulasi ini belum dilaksanakan secara maksimal oleh daerah. Jika mengacu pada aspek standar hidup layak dalam IPM tahun 2018 yang diukur dengan pengeluaran pada 10,429 ini lumayan baik jika dibanding daerah lain namun harus dilihat rasio gini untuk melihat ketimpangan pendapatan juga tinggi terutama di wilayah perkotaan dan pedesaan. Oleh karena itu, program kesejahteraan masyarakat membutuhkan formula yang tepat terutama dalam menyasar masyarakat pinggiran terutama di perdesan dengan memperhatikan sinergisitas, ketepatan sasaran dan terobosan program.

Keempat, menuju Bondowoso melesat masih belum tampak terobosan baru untuk pembenahan birokrasi menuju birokrasi profesional dan inovatif. Mencapai Bondowoso melesat akan berat dilakukan jika pola pikir birokrasi masih egosektoral bahkan cenderung business as usual (berjalan adanya/rutinitas/mapan) bahkan miskin inovasi dan partisipasi.

Dengan kemampuan anggaran dan PAD yang rendah, maka yang akan menjadi alasan bahwa Bondowoso Melesat mustahil dilakukan karena kemampuan anggaran Bondowoso yang rendah. Seharusnya pada kondisi ini kemampuan membangun jaringan serta membangun sinergisitas program dengan program pemerintah pusat, provinsi, perguruan tinggi serta dunia usaha (swasta) dituntut untuk dioptimalkan ke depan terutama pada setiap pucuk pimpinan dinas (OPD) serta jabatan teknis operasional. Belajar dari daerah lain untuk memulainya dibutuhkan peta birokrasi Bondowoso melalui asesmen menyeluruh pada semua pucuk pimpinan dinas, serta bidang atau bagian, serta camat untuk mengetahui kompetensi pejabat sebagai dasar untuk melakukan reformasi birokrasi menuju birokrasi yang professional dan berintegritas serta mendorong terciptanya zona integritas dan wilayah bebas korupsi dan melayani melalui birokrasi yang bersih, responsif dan didukung pelayanan berbasis teknologi (E-Office).

Kelima, menuju Bondowoso melesat belum tampak terobosan yang akan dilakukan dalam mengatasi tantangan untuk meningkatkan sumber daya unggul melalui kualitas kesehatan dan kualitas pendidikan. Jika mengacu pada angka IPM Kabupaten Bondowoso tahun 2018 pada angka 65,27 yang diukur dari aspek Umur Harapan Hidup (UHH) nilainya 66,27 dibanding Jawa Timur 70,97 artinya kualitas sumber daya di bidang kesehatan masih belum optimal meskipun naik dari tahun sebelumnya 66,04 variabel yang memengaruhi adalah kematian ibu dan bayi tinggi karena faktor gizi, sanitasi dan budaya. Sedangkan pada aspek harapan lama sekolah (HLS) angka 12,95 di bawah Provinsi Jawa timur 13,09. Namun, rata-rata lama sekolah (RLS) artinya usia 25 tahun ke atas masih banyak mengenyam pendidikan SD, sehingga bidang pendidikan belum optimal.

Untuk menangani masalah ini dibutuhkan terobosan program dengan membangun sinergisitas baik secara vertikal program pemerintah pusat dan provinsi serta dengan menggerakkan masyarakat terutama di sektor pedesaan dan pesantren. Kenapa demikian karena faktanya hari ini angka putus sekolah dan juga problem kesehatan banyak berada di basis pedesaan dan di mana peran pesantren sangat signifikan di dalamnya. Peran pesantren menjadi penting karena secara kultur atau budaya bisa diterima masyarakat serta mampu juga diarahkan perannya sebagai bagian penopang pendidikan karakter dan pemberdaya masyarakat.

Meskipun terlalu dini menilai satu tahun pemerintahan untuk mengharapkan hasil maksimal dari tercapainya Bondowoso Melesat, namun untuk melesat dibutuhkan start dan energi yang harus dipersiapkan sejak awal. Ibarat kereta api, bisa melesat jika relnya jelas, lokomotifnya bagus, dan tentunya diimbangi dengan gerbong yang bagus untuk bisa mencapai tujuan yang diharapkan. Semoga mimpi Bondowoso melesat terwujud dan diciptakan mulai hari ini secara bersama-sama.

*) Penulis adalah dosen Administrasi Negara FISIP Universitas Jember dan Kordinator Pusat Pemberdayaan Masyarakat LP2M Universitas Jember.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :