PEMBERDAYAAN: Para mahasiswa STIA Pembangunan saat foto bersama di lokasi KKN–PPM di Desa Jatimulyo, Kecamatan Jenggawah.(Nungky for Radar Jember).

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Pembangunan Jember memberdayakan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka). Yakni para perempuan yang juga sebagai kepala keluarga. Pemberdayaan ini menghasilkan satu unit usaha mikro dengan tiga produk.

“Ada produk tahu, tempe, dan susu kedelai,” kata Ketua Pelaksana Program KKN-PPM Dr Nungky Viana Feranita MM. Pengabdian itu dilakukan melalui Program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) yang dibiayai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Kemenristekdikti.

Kegiatan itu melibatkan 20 mahasiswa dan mahasiswi STIA Pembangunan Jember. Mereka disambut oleh Camat Jenggawah. “Ketika penarikan KKN, juga dilepas oleh camat,” ujar Nungky.

KKN di Jatimulyo dilakukan sejak 2015 hingga sekarang. Bahkan, Jatimulyo sudah menjadi desa binaan STIA Pembangunan. Menurut dia, desa tersebut dipilih karena banyak perempuan yang bekerja di sektor pertanian sebagai buruh. Mereka hanya sibuk saat musim tanam dan musim panen.

Sementara , status mereka sebagai kepala keluarga. Yakni perempuan yang menafkahi keluarganya. Status mereka bukan hanya janda, namun ada yang belum menikah, tetapi sudah memiliki tanggungan. “Ada yang sudah menikah, tetapi suami tidak memiliki pekerjaan, sehingga mencari nafkah sendiri,” paparnya.

Langkah pertama yang dilakukan oleh peserta KKN tersebut adalah melakukan pendataan. Ada 37 perempuan di desa tersebut yang berstatus sebagai kepala keluarga. “Kami memilih usaha mikro karena sejalan dengan riset saya, tentang inovasi dan kinerja UMKM,” tambahnya.

Setelah pendataan, dibentuk organisasi Perempuan Kepala Keluarga (Pekka). Organisasi ini diberi nama Pekka Beringinsalam. Asal dari Dusun Beringinsari dan Darussalam.  “Di dalamnya dibentuk tiga sub kelompok berdasarkan produk. Kelompok pertama produk tahu, kelompok kedua produk tempe, dan kelmpok tiga produk susu kedelai,” paparnya.

Setelah itu, kata Nungky, ada konsep swadana dan swadaya pada mereka. Setiap orang iuran modal Rp 50 ribu untuk membeli bahan. “Kalau untuk peralatan mesin penggiling kedelai diperoleh dari dana hibah” akunya.

Pihaknya juga mendatangkan pelatih yang kompeten di bidangnya sebagai pemateri untuk kegiatan penyuluhan. Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan para perempuan itu.  “Kalau peningkatan keterampilan, melalui kegiatan pelatihan” imbuhnya.

Tak hanya dilatih membuat produk tahu, tempe, dan susu kedelai, mereka juga diajarkan cara memasarkannya.  “Sekarang sudah dipasarkan di pasar desa, penyuplai beberapa warung makan, dan penjual sayur,” tambah Rohim SSos MSi, salah satu anggota program KKN PPM.

Dampak dari pemberdayaan tersebut, para perempuan itu mampu meningkatkan taraf perekonomiannya. Sebelumnya, mereka sebagai buruh tani, bergantung pada musim tanam dan panen. “Namun sekarang sudah memiliki penghasilan harian,” pungkasnya.

IKLAN