Tak Mau Update, UMKM Bisa Dikuasai Pemuda

PRODUKTIF: Jajaran produk -produk lokal usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak hanya ditantang fasih menggunakan e-commerce. Mereka juga harus bisa menangkap pemakaian uang elektronik untuk kelancaran transaksi pembayaran. “Kalau UMKM yang maju sekarang tidak mau belajar, mereka akan tergerus dengan UMKM yang ditangani anak muda,” kata Ciplis Gema Qori’ah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unej.

Menurut dia, jika transaksi uang digital Jember termasuk tertinggi kedua se-Jawa Timur setelah Surabaya, seharusnya bisa ditangkap oleh para pelaku UMKM. Kemudahan transaksi pembayaran itulah yang bisa menunjang penjualan pelaku UMKM. “E-commerce dan uang elektronik tidak bisa dilepaskan. Semuanya bisa menunjang UMKM,” terangnya.
Para pelaku UMKM lama perlu mendapat pendampingan dari anak-anak muda yang lebih melek digital. “Kalau orang tua tidak mau belajar, ataupun susah untuk update teknologi, ya sebaiknya dampingi oleh anak-anak muda,” sarannya. Ke depan pelopor UMKM bisa dari kalangan generasi muda.

Agar UMKM melek teknologi dan bisa memanfaatkan e-commerce serta uang elektronik perlu peran pemerintah. Hal itu agar laju UMKM tidak setengah-setengah dan merata hingga pengusaha tingkat desa sekalipun. Dia menilai, UMKM tidak melulu dibina dengan mengolah produk ataupun kemasan yang baik. Melainkan, update teknologi keuangan digital.

Pemakaian uang elektronik tersebut tidak hanya menjadi peluang para UMKM untuk mempercepat transaksi penjualan. Lebih dari itu, juga menghemat pengeluaran negara. Sebab, menurut Ciplis, BI mengeluarkan uang cukup banyak untuk mencetak dan mendistribusikan uang. “Nilainya tidak miliar, tapi triliun rupiah,” jelas dosen konsentrasi ekonomi moneter di FEB Unej ini.

Menurutnya, biaya cetak uang dan distribusinya dalam setahun sekitar Rp 3,5 triliun. Bahkan, biaya cetak dan distribusi bisa jadi melebihi nominal uang tersebut. Walau uang elektronik sangat baik, tambah dia, ada kalanya beberapa tempat masih membutuhkan uang. “Contohnya pasar apung di Kalimantan. Mereka butuh uang, bahkan uang logam mereka butuhkan. Karena tidak gampang terbang dan tidak mudah rusak jika terkena air,” pungkasnya.

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer :

Editor :