Coba Gabungkan Ilmu Falak dengan Astronomi

Kompas (Komunitas Pecinta Astronomi Islam) IAIN Jember

TEKUNI ASTRONOMI ISLAM: Keseruan perwakilan Kompas Lab Fakultas Syariah IAIN Jember saat berkunjung ke ruang redaksi Jawa Pos Radar Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Melihat bintang, bulan melalui teropong bintang, tentu mengasyikan. Apalagi benda-benda langit itu bisa dilihat lebih dekat. Lantas bagaimana kegiatan astronomi itu digabungkan dengan keilmuan Islam? Inilah yang dilakukan para mahasiswa Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember dalam sebuah wadah Kompas (Komunitas Pecinta Astronomi Islam).

“Kegiatan Kompas yang paling asyik ya waktu pengamatan benda langit dari teropong bintang,” kata Royhanah Qoutrun Nada anggota Kompas (Komunitas Pecinta Astronomi Islam). Mahasiswa semester III yang baru dilantik jadi anggota Kompas itu mengaku, awal kali ingin ikut Kompas adalah penasaran dengan melihat benda-benda langit dari teropong bintang.

Teropong berwarna putih milik Laboratorium Fakultas Syariah IAIN Jember mampu menjawab penasaran Royhanah selama ini. Bahkan, bulan yang dipandang setiap malam bisa begitu detail dilihat oleh mata lewat bantuan teropong. Rasa puas Royhana juga dirasakan oleh anggota Kompas lainya Muhammad Rahman, Himmatul Mahmudah, dan Maulidah Aulia saat pertama kali menjajal teropong bintang.

Sementara Ketua umum Kompas Agung Nursufa Imamudin menjelaskan, walau Kompas adalah di bawah Laboratorium Fakultas Syariah IAIN Jember tapi bukan termasuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). “Kompas itu bukan UKM, tapi komunitas di bawah laboratorium syariah,” katanya.

Kompas sendiri telah mewarnai dunia mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Jember selama tiga tahun. “Berdiri mulai sejak 2016,” tuturnya. Mendirikan komunitas itu, tak lain ada mata kuliah yang dipelajari yaitu ilmu falak. Ilmu yang sering dipakai dalam menentukan awal puasa, hari raya, dan arah kiblat, hingga waktu salat ada kegiatan lapangan, yaitu memakai teropong bintang.

Kaitannya teropong bintang dalam ilmu falak, kata Agung, hal yang umum dan diketahui masyarakat untuk melihat hilal. Lewat hilal tersebutlah, sering digunakan untuk menentukan awal bulan, termasuk awal puasa. Sehingga, dari sana terbentuklah komunitas dengan nama Kompas.

Menurut Agung, beberapa kota komunitas astronomi itu banyak. Namun, kata Agung, perbedaan Kompas dengan komunitas astronomi lainya adalah memadukan ilmu falak dengan astronomi umum. Pengetahuan tentang astronomi juga diterima oleh Agung dan anggota Kompas lainya.

Sementara anggota Kompas lain, Ahmad Abdullah Azhar kepada Jawa Pos Radar Jember menambahkan, pengetahuan sepele yang ingin diketahuinya adalah tentang bintang.

“Ternyata bintang yang dilihat oleh mata di langit pada malam hari, hanya sisa cahaya dari bintang tersebut,” imbuhnya.

Mengapa demikian? Menurut mahasiswa semester VII ini, karena ada kecepatan cahaya. “Cahaya yang dilangit sana butuh waktu untuk bisa dilihat dari bumi. Makanya cahaya bintang yang kita lihat itu, bisa jadi terjadi bertahun-tahun yang lalu,” pungkasnya.

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Hadi Sumarsono