Sepuluh Hari Nelayan Hilang Kontak

Tak Bisa Pulang karena Ombak Besar dan Angin Kencang

TETAP BERANGKAT: Nelayan Puger yang menggunakan perahu sekoci nekat melaut meski ombak di Pantai Pancer cukup besar dan disertai angin kencang.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ombak besar dan angin kencang di laut selatan membuat para nelayan memarkir perahu mereka di dermaga. Mereka khawatir, sebab ada beberapa nelayan yang hingga kemarin masih terjebak di lautan selama 10 hari. Bahkan, belum ada kabar dan tak bisa dihubungi alias hilang kontak. Hingga kemarin, belum diketahui bagaimana kondisi awak perahu yang terombang-ambing di laut selatan tersebut.
Nelayan yang diketahui hilang kontak itu adalah Agus Budianto, 25 tahun, warga Dusun Krajan 1, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger. Dia bersama lima anak buah kapal (ABK) lainnya masih belum bisa dihubungi. Mereka sudah 10 hari di tengah laut dan belum bisa kembali ke daratan, karena kondisi cuaca ekstrem yang terjadi.

Kondisi ini membuat sebagian nelayan lain menahan diri. Mereka memilih menunggu hingga kondisi ombak dan angin mereda. Beberapa nelayan lain juga terlihat memarkir jukung dan perahunya di sekitar muara Sungai Bedadung. “Angin cukup kencang, sehingga lebih baik memarkir jukung sambil menunggu angin reda kembali,” ujar Jono, salah seorang nelayan setempat.

Menurutnya, jika dipaksakan berangkat, bisa membahayakan keselamatan nelayan. Sebab, selain laut selatan yang dikenal ganas, jalur yang dilalui nelayan Puger juga cukup berbahaya. Mereka harus melintasi Jalur Plawangan yang memiliki arus kencang. Karena itu, di kala cuaca tak bersahabat risiko terjadi kecelakaan di jalur keluar masuk perahu tersebut cukup tinggi.

Kondisi ini membuat antrean jukung dan perahu di muara sungai cukup padat. Sementara itu, pemilik perahu dan ABK memilih duduk di pinggir pantai sambil memantau kondisi ombak dan angin yang cukup kencang. Padahal, dalam beberapa minggu terakhir, nelayan mulai mendapat hasil tangkapan, karena ikan mulai muncul.

Biasanya, jika masa panen ikan seperti saat ini, nelayan Puger tetap berangkat meski ombak besar dan angin kencang. “Nelayan Puger memang dikenal tidak takut mati, tapi lebih takut kalau tidak makan,” ujar Fauji, nelayan yang lain.

Namun kali ini, mereka memilih menahan diri sambil menunggu ombak dan angin mereda. Kendati begitu, jika cuaca tak kunjung membaik, nelayan mengaku terpaksa berangkat. Ini karena mereka sudah telanjur mempersiapkan keperluan melaut, seperti BBM, dan bekal makanan yang cukup dimakan beberapa hari.

Bahkan, persiapan logistik yang dibawa cukup untuk seminggu lebih. “Kami sudah membawa bekal seperti persiapan makan dan BBM. Sehingga tetap nekat meski ombak besar. Kalau ada yang ragu-ragu, biasanya nelayan yang menggunakan jukung. Kalau yang menggunakan perahu dan sekoci tetap berangkat,” pungkas Fauji.

IKLAN

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Mahrus Sholih