Sisi Lain Perseteruan Angkutan Konvensional vs Daring

Sama-Sama Susah Dapat Penumpang, jika Keliling Bisa Tekor

KANDANGKAN MOBIL: Refangga, driver Grab Car membersihkan debu yang menempel di mobil miliknya. Kini, dia lebih memilih menonaktifkan Grab Car, karena jumlah armada di Jember terlalu banyak hingga berdampak minimnya orderan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perseteruan angkutan konvensional dengan daring (online) kembali terjadi. Ujungnya, angkot memilih mogok kerja, lantaran aplikator Grab dinilai tak menepati janji mendirikan kantor di Jember. Tapi sebenarnya, tak hanya angkot yang susah dapat penumpang, mitra Grab juga bernasib sama. Mereka juga susah dapat penghasilan.

Siang kemarin (13/9), seharusnya menjadi jam sibuk para sopir angkutan kota (angkot) mencari penumpang. Namun yang terlihat justru sebaliknya. Tak ada mobil pelat kuning yang ngetem, menunggu anak pulang sekolah. Hanya ada angkot parkir serampangan di pinggir jalan. Tanpa sopir dan pintunya ditutup rapat-rapat.

Lin E, jurusan Tawang Alung-Pakusari, misalnya, kendaraan itu terparkir di depan DPRD Jember. Seolah-olah, angkutan masal itu hanya terdiam melihat lalu-lalang ojek daring yang hilir mudik menjemput orderan penumpang. Belakangan ini, memang ada ketegangan antara angkutan konvensional dengan angkutan daring. Hingga memicu para sopir angkot menggelar demonstrasi hingga mogok kerja.

Keberadaan angkutan daring dinilai mengancam angkot. Bahkan, dituding menjadi musabab sepinya penumpang yang menggunakan jasa lin kuning terebut. Padahal, kondisi yang sama juga dialami sejumlah sopir angkutan berbasis aplikasi. Beberapa hari terakhir mereka juga mengaku sepi penumpang.

Kendati kondisi ini tak bisa disimpulkan apakah dampak perseteruan antara angkutan konvensional dan daring, atau tidak, yang jelas beberapa sopir armada angkutan daring memilih memarkirkan mobil dan mematikan aplikasi. “Males narik, Mas,” ucap Refangga, salah seorang sopir Grab kepada Jawa Pos Radar Jember.

Siang itu, Refangga yang memakai kaus oblong abu-abu mengaku sudah tiga hari tidak mengaktifkan aplikasi Grab. Dia memilih memarkirkan mobil Honda BRV putih di perkampungan bawah Jembatan Semanggi. Mobil ini yang biasanya dipakai melayani orderan penumpang Grab. “Aplikasinya dihidupin juga nggak ada yang nyantol. Sekalian saja dinonaktifkan,” akunya.

Rupanya, Refangga juga mengalami kegelisahan yang sama seperti yang dirasakan para sopir angkot. Pria 25 tahun ini bergabung dengan Grab setahun lalu. “Awalnya mau masuk Gojek, tapi sudah full. Saat ikut Paguyuban Gojek, diarahkan daftar Grab,” tuturnya.
Refangga pun memutuskan mendaftar sendiri ke Grab yang lokasi pendaftarannya berada di Jalan Teuku Umar, Tegal Besar. Awal masuk jadi mitra Grab Car, kata dia, orderan cukup lancar dan memenuhi target. “Seminggu itu bisa dapat uang Rp 1,7 juta. Jumlah itu bersih, dengan catatan narik terus mulai pagi sampai malam,” terangnya.

Tapi kini, Refangga mengaku, orderan mulai jarang. Ia susah mencapai target agar mendapatkan bonus. Akhir-akhir ini, Refangga baru memahami bahwa jumlah mobil Grab Car di Jember jumlahnya sudah ratusan unit. Mungkin, kondisi ini yang membuat persaingan semakin ketat. “Tahun kemarin itu sudah 500 unit untuk Grab Car,” terangnya.
Seandainya waktu pendaftaran sudah diberi tahu tentang jumlah Grab Car di Jember, dia mengaku akan berpikir dua kali untuk bergabung jadi mitra. “Kalau waktu daftar diomongi jumlahnya, itu masih enak. Kalau sekarang sudah terlalu banyak. Apalagi waktu jadi mitra juga membayar,” katanya.

Menurut dia, jika memaksa keliling mencari orderan, tapi dalam sehari jumlah penumpangnya tidak memenuhi target, sama saja merugi. Sebab, dirinya harus mengeluarkan biaya untuk membeli bahan bakar, maupun konsumsi. “Jika keliling tok, yo tekor, Mas,” tandasnya.

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih