Menengok Tim Damkar yang Sigap Padamkan Api

Pernah Pakai Mobil Tanpa Rem dan Kopling, Musuhnya Arus Listrik

JAGOAN MERAH: Komandan Regu A Mako Damkar Satpol PP Jember, Suharto (kiri), bersama rekan-rekannya saat simulasi persiapan berangkat memadamkan kebakaran.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pantang padam sebelum pulang, walau nyawa adalah taruhan. Itulah semboyan petugas pemadam kebakaran (damkar). Walau disebut damkar, tapi mereka juga mengatasi ancaman ular, buaya, hingga mencebur ke sumur untuk mengambil jenazah.

Markas Komando (Mako) Damkar Jember yang berada di Jalan Danau Toba itu tampak berbeda dengan mako damkar pada umumnya. Hanya lantai satu dan tidak ada tiang beton. Tiang beton itulah yang sering dijumpai di kantor damkar pada umumnya untuk menurunkan personel sewaktu-waktu.

“Sebenarnya ada. Tapi karena dulu banyak petugas damkar itu tua-tua dan takut ada apa-apa, makanya tidak jadi lantai dua. Dan perosotan memakai tiang beton juga tidak ada,” tutur Suharto, Komandan Regu A Damkar Jember.

Mako Damkar Jember itu juga seperti barak pasukan yang siap tempur. Ada sekitar lima velbed, tempat tidur khas TNI terlihat berjajar. Baju pemadam berwarna jingga berada tepat di samping velbed. Aktivitas damkar di mako tersebut ada yang sekadar tidur-tiduran ataupun hanya duduk santai. Walau begitu, telinga mereka begitu peka terhadap telepon masuk. Karena lewat telepon itulah, mereka mendapatkan kabar adanya kebakaran.

Dalam hitungan jari, petugas damkar yang awalnya memakai kaus warna biru, berubah sekejap sudah mengenakan baju berwarna jingga. Dengan sigapnya, peralatan pemadam, termasuk tabung gas oksigen, telah siap meluncur ke lokasi kebakaran. Sigap 24 jam dan ingin cepat sampai lokasi kebakaran. Kendati begitu, tak jarang mereka dicaci masyarakat, karena dianggap datangnya kerap telat.

Padahal, kata Suharto, tim akan meluncur ke lokasi kejadian saat ada panggilan darurat meminta bantuan memadamkan api. Masalahnya, kata dia, saat ada api, masyarakat berinisiatif memadamkan sendiri, tapi lupa mengabari damkar. “Kalau sudah api membesar dan suara ledakan, baru ingat damkar,” jelasnya.

Suharto mengaku, sebagai petugas damkar, ada jiwa yang terpanggil ketika ada kabar kebakaran. Pantang pulang sebelum api padam, walau nyawa taruhannya. Filosofi tersebut membuat damkar bergegas berangkat memadamkan api. Bahkan, mako atau pos pemadam itu bagaikan rumah bagi petugas damkar. “Kerjanya 24 jam, hari ini kerja, besok libur. Jadi, kantor terasa rumah sendiri. Mandi, makan, masak, istirahat, ya di kantor,” tuturnya.

Bagi Suharto tidak ada pengalaman pemadam api yang menarik. Semua sama, bagi mereka api itu mainan. Bukan hal yang menakutkan. Hal yang ditakuti petugas damkar adalah listrik. Sebab, jika memadamkan api sementara listrik masih menyala, bisa berakibat fatal. “Pernah ada petugas yang menyemprot dan keseterum. Untung selang langsung diletakkan,” akunya.

Oleh karena itu, kata dia, saat ada kebakaran rumah, hal yang pertama dilakukan petugas damkar adalah memastikan aliran listrik itu putus. Kalau belum putus, pihaknya hubungi PLN. Setelah itu, kata dia, membasahi rumah yang berpotensi meluasnya api. Hal itu dilakukan untuk memutuskan api agar tak sampai merembet ke bangunan di sebelahnya, serta mengurangi dampak kerugian.

Nyatanya, sebagai petugas damkar, kerjanya tidak melulu soal memadamkan api. Apa yang ada di film Si Jago Merah yang dibintangi Ringgo Agus Rahman dan Desta dengan menolong kucing, serta ular, itu juga dilakukan petugas damkar. “Pemadam 1 itu spesialisnya api, pemadam 2 itu ular, pemadam 3 buaya, 4 gedung bertingkat, dan lainnya,” ujar Suharto.

Walau di Jember hanya ada pemadam 1 saja, tapi secara ilmu sudah mendapatkan semua. “Jadi, ada ular seperti di Ambulu yang berada di atas plafon, ya kami yang mengatasi. Ada orang meninggal di sumur, petugas damkar juga yang turun. Karena, perlengkapan emergency yang lengkap hanya kami di Jember. Terkadang, Basarnas Jember pinjam alat ke kami,” tuturnya.

Bambang Mulyono, sopir mobil damkar mengaku, ia pernah menjalankan mobil kebakaran tanpa rem dan tanpa kopling. “Waktu itu dua mobil damkar masuk bengkel, hanya ada satu mobil damkar yang sudah berusia tua. Karena ada kebakaran di daerah Galaksi tahun 2007, mau tidak mau harus datang walau mobil itu tidak fit dan remnya trobel,” paparnya.

Kondisi itu juga pernah dialami sebelumnya, bahkan lebih parah. Bersama Suharto, Bambang Mulyono mengendarai mobil tanpa kopling. “Waktu di tengah jalan, kopling rusak. Ya diteruskan saja, kalau saya sopirnya dan di samping ada Suharto sedikit tenang. Karena Suharto dulu pernah jadi kernet bus,” ungkapnya.

Memakai mobil damkar dengan kondisi tak fit sama sekali, tapi dia tak pernah mengatakan kepada regu pemadam. “Kalau saya katakan, ya nanti anak-anak takut berangkat,” ujar mantan sopir beberapa kepala dinas ini. Terpenting bagi dia adalah niatan baik untuk memadamkan api.

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih