Jangan Tunda, Segera Hubungi Damkar

Dua Hari, Terjadi Lima Kasus Kebakaran

SIAP SIAGA: Damkar sigap hadapi bencana

JEMBER, RADARJEMBER.ID Rentetan kasus kebakaran terjadi di pekan ini. Sebagian besar karena faktor kelalaian manusia. Seperti lupa mematikan kompor hingga meledak dan pembakaran sampah sembarangan yang merembet ke rumah penduduk. Bahkan, ada dugaan puntung rokok yang dibuang sembarangan hingga mengakibatkan kebakaran lahan.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, selama dua hari, Selasa dan Rabu (10-11/9), telah terjadi lima kasus kebakaran rumah maupun lahan. Pertama adalah kebakaran yang menimpa Ismail, 45 tahun, warga Dusun Panggulmati, Desa Kepanjen, Gumukmas, dan terbakarnya tiga rumah warga di Dusun Ledok, Desa Sidomukti, Kecamatan Mayang.

Selain itu, ada kasus terbakarnya tanaman dan semak belukar di tebing Sungai Bedadung di kawasan Gladak Kembar, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates. Kobaran api sempat merembet ke kayu dan genting belakang rumah warga. Tiga peristiwa di lokasi berbeda ini terjadi di hari yang sama, Selasa (10/9).

Terbaru adalah peristiwa yang menimpa Sugiman, 56 tahun, warga Dusun Krajan, RT 02/ RW 26, Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, Rabu (11/9) malam. Insiden itu terjadi saat korban memindah bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite ke dalam tandon pom mini miliknya dan terjadi korsleting listrik. Akibatnya, muncul percikan api dan menyambar ke pompa pengisian BBM.

Selain pom mini, rumah yang dihuni korban juga ikut terbakar hingga rata dengan tanah. Beruntung, saat terjadi kebakaran korban masih tertolong warga. Padahal, saat api menyambar kobaran, api merembet ke mana-mana. Terlebih, jeriken dan drum berisi BBM itu ikut meledak. Peristiwa itu membuat dua tangan Sugiman mengalami luka bakar. Dia selanjutnya dilarikan ke Puskesmas Silo 2 untuk mendapat perawatan.

Menurut sumber Jawa Pos Radar Jember, sebelum terjadi kebakaran, menantu korban baru datang kulakan BBM jenis Pertalite. Karena di dalam tandon itu kosong, maka korban berusaha memindah jeriken itu ke dalam tandon yang dibantu istrinya, Firda, 30 tahun. Namun, saat memasukkan BBM ke tandon itulah, terjadi korsleting listrik yang mengakibatkan munculnya percikan api.

Api langsung menyambar BBM yang ada di tendon. Beruntung, istri dan korban masih bisa tertolong. Sebab, saat terjadi percikan, korban langsung lari menyelamatkan diri. “Sementara tetangga korban juga datang dan langsung ikut mengevakuasi sehingga korban tidak sampai mengalami luka parah,” ujar Hari Wahyudi, Kapolsek Silo, kemarin (12/9).

Menurutnya, api yang membakar pom mini itu kian membesar. Api makin menggila setelah terjadi ledakan dari jeriken berisi BBM. Khawatir merembet ke permukiman, petugas langsung menghubungi petugas pemadam kebakaran (PMK) Pemkab Jember. Mobil damkar yang datang ke lokasi langsung melakukan pemadaman. Namun barang-barang yang ada di dalam rumah korban tak bisa terselematkan, termasuk pom mini.

Akibat kejadian ini, korban mengalami kerugian puluhan juta rupiah. Selain karena keteledoran manusia, tak teratasinya kasus kebakaran ini karena pemilik pom mini juga tidak menyiapkan alat pemadam api ringan (APAR). Padahal, APAR harus dipasang di setiap pom mini. Sebab, ketika terjadi korsleting listrik atau kebakaran kecil, bisa langsung teratasi.

Sedangkan peristiwa terakhir adalah kebakaran lahan yang terjadi di Gunung Tembok, Dusun Pancorsari, Desa Tembokrejo, Kecamatan Gumukmas, Rabu (11/9). Kasus ini merupakan kali kedua. Beberapa hari sebelumnya, kawasan itu juga sempat terbakar. Bahkan, hingga Rabu malam, api belum bisa dipadamkan.

Sebenarnya, kebakaran Gunung Tembok ini hampir setiap tahun terjadi, terutama ketika musim kemarau. Namun, peristiwa kali ini disebut yang paling besar. “Ini mengkhawatirkan, karena jarak Gunung Tembok dengan permukiman cukup dekat. Apalagi kejadian kebakaran ini sudah yang kedua kalinya selama sepekan terakhir,” ujar Samsul, warga setempat.

Warga bersama Muspika Gumukmas dan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember terus berupaya memadamkan api. Agar tak sampai merembet ke permukiman, mereka menggunakan alat seadanya, seperti kayu atau bambu. Ini dilakukan sembari menunggu kedatangan mobil damkar yang menuju lokasi.

“Karena di Gunung Tembok ini banyak tanaman pohon jati dan bambu, sehingga mudah terbakar. Apalagi di musim kemarau ini,” ujar Arsa Joyo Widono, Kasi Kedaruratan BPBD Jember. Dia menambahkan, tiga mobil damkar didatangkan ke lokasi. Sebab, jika hanya mengandalkan warga dan muspika, api dikhawatirkan terus membesar.

Lebih lanjut, pihaknya mengimbau kepada siapa pun yang sering ke Gunung Tembok untuk tidak membakar sampah kering dan tidak membuang puntung rokok sembarangan. Di kawasan ini, Arsa menjelaskan, ada tiga titik besar kebakaran, satu titik di selatan tower luasnya sekitar 2 hektare. Sedangkan dua titik lagi di barat tower seluas 5 hektare.

Komandan Regu A Markas Komando (Mako) Pemadam Kebakaran (Damkar) Suharto meminta agar masyarakat cepat memanggil petugas damkar bila terjadi kebakaran. Jangan ditunda-tunda. Apalagi sampai menunggu api membesar. Sebab, jika sampai terlambat, risiko yang terjadi bisa lebih besar. Tak hanya melumat bangunan yang terbakar pertama kali, tapi juga bisa merembet ke bangunan lain. Bahkan, juga berpotensi menimbulkan korban jiwa. “Segera hubungi kami. Jangan tunda lagi,” tuturnya.

Menurut dia, selain di Mako Damkar, di sejumlah wilayah juga telah disiagakan sejumlah unit mobil pemadam di pos damkar yang tersebar di beberapa kecamatan. Seperti di Kecamatan Ambulu, Rambipuji, dan Kalisat. Semua petugas ini siaga 24 jam, dan bisa dihubungi sewaktu-waktu. Untuk nomor telepon Mako Damkar, warga bisa menghubungi lewat sambungan telepon di nomor (0331) 321-123 dan (0331) 326-726. Selain itu, bisa dihubungi lewat ponsel di nomor 085100529515 (Suharto Danru Mako A Kota) dan 08124924743 (Dwi Atmoko Danru Mako B Kota).

IKLAN

Reporter : Jumai

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih