Tuntut Angkutan Daring Ditutup

AUDIENSI: Perwakilan sopir menyampaikan aspirasinya terkait keberadaan Grab di Jember yang dinilai melanggar hukum.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ratusan sopir angkutan konvensional menggelar demonstrasi, kemarin (11/9). Mereka menuntut agar angkutan daring (online), khususnya Grab, ditutup dan dihentikan operasionalnya di Jember. Massa menuding, ada sejumlah indikasi pelanggaran hukum yang ditabrak, sehingga merugikan angkutan konvensional yang sudah ada sejak puluhan tahun tersebut.

Aksi yang dilakukan para sopir angkutan kota (angkot), taksi, ojek, dan beberapa abang becak itu diawali di halaman Gedung DPRD Jember. Mobil berwarna kuning serta kendaraan lainnya parkir di sepanjang pinggir jalan yang ada di sekitar gedung wakil rakyat tersebut. Perwakilan massa selanjutnya ditemui anggota dewan, di antaranya Tabroni, Alfan Yusfi, Agusta Jaka Purwana, dan Tri Sandi Apriana.

Ketua Paguyuban Insan Transportasi (Pintar) Kabupaten Jember, Siswoyo menjelaskan, kedatangan mereka ke DPRD bukan untuk bernegosiasi. Namun, mereka menuntut agar anggota dewan ikut mendesak Pemkab Jember menutup Grab dan menghentikan operasionalnya di Jember.

Siswoyo menyebut, keberadaan Grab sudah menjadi masalah dan sempat ada deklarasi damai, 13 Agustus 2018 lalu. “Saat itu, Bupati Jember sudah menginstruksikan agar Grab punya kantor manajemen di Jember. Tapi sampai sekarang, kantor itu tidak ada. Artinya, Grab sama sekali tidak hormat kepada Pemkab Jember,” katanya.

Bukan hanya itu, keberadaan armada Grab, menurut Siswoyo, seperti tak terkontrol. Sebab, jumlahnya mencapai ratusan. Sementara di lapangan, pemerintah hanya diam dan tidak memberi batasan jumlah armada mobil Grab. “Sekarang ini sudah ada ratusan mobil. Jangan dibiarkan ini. Kami yang angkutan konvensional saja dibatasi. Ganti kendaraan, kami lapor. Tambah armada harus izin. Nah, ini Grab tanpa ada izin tetapi dibiarkan. Jangan adu kami dengan mereka yang sama-sama rakyat,” ucapnya.

Hal yang membuat miris, para sopir angkutan konvensional, menurut Siswoyo, adalah zona wilayah kerja. Angkutan konvensional selama ini memiliki zona kerja yang jelas, jalur yang ditentukan, serta tidak melanggar peraturan hukum. Sementara saingannya Grab, memiliki zona menyeluruh dari pintu ke pintu dan jumlahnya tidak dibatasi.

“Yang paling membuat kami menangis, Grab juga menawarkan jasanya di terminal Tawang Alun. Kami para sopir minta zona kerja mereka juga dibatasi. Kalau bisa jalurnya juga ditentukan seperti jalur angkutan tradisional,” paparnya.

Berdasarkan sejumlah alasan tersebut, para sopir meminta agar Grab ditutup. Tuntutan itu, menurut para sopir, sangat masuk akal karena Grab tidak memiliki kantor seperti yang diwajibkan undang-undang. Saat ada penambahan armada di Jember, mereka juga tidak melapor. “Kami tidak mau bernegosiasi. Kalau tuntunan ini tidak dipenuhi, kami akan off, mogok kerja sampai tuntutan kami dipenuhi,” ancamnya.

Wakil Ketua Pintar Sugianto menambahkan, dampak kepada para sopir angkutan konvensional, akibat membeludaknya jumlah Grab yang tidak dibatasi, membuat mereka rugi besar. “Beberapa sopir bahkan cerai dengan istrinya karena mereka pulang tanpa membawa hasil. Jangan ditanya kerugian. Tanyakan berapa sopir yang cerai akibat mereka rugi,” ucapnya.

Salah seorang anggota dewan, Agusta Jaka Purwana menyampaikan, para sopir diharapkan agar sabar dan mencari solusi atas apa yang telah terjadi. Pria yang juga sebagai penasihat angkutan daring di Jember ini menyebut, para sopir Grab juga mencari makan, sama seperti para sopir angkutan konvensional.

“Mari hal ini dibicarakan dengan baik dan dicarikan solusinya. Jangan sampai masalah ini bertambah besar. Kami wakil rakyat paham, angkutan konvensional tidak boleh mati dan mereka yang bekerja di Grab juga tetap bisa bekerja. Harus dibicarakan dengan baik,” ucapnya.

Keempat anggota dewan yang menemui perwakilan massa selanjutnya ikut melakukan aksi ke Pemkab Jember bersama-sama para sopir. Agusta, Tabroni, Alfan, dan Tri Sandi, kemudian ikut ke pemkab dengan naik angkot atau lin kuning. Mereka menemani para sopir menyampaikan aspirasinya ke pihak eksekutif. (nur/c2/rus)

IKLAN

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Mahrus Sholih