SEGENGGAM kekuasaan lebih berarti dari pada sekeranjang kebenaran. Begitulah titah Plato ribuan tahun silam. Pesan morel yang menyiratkan tentang penting kekuasaan untuk mewujudkan kemaslahatan. Dalam versi lain, ungkapan Plato ini dibahasakan bahwa segenggam kebenaran yang dipegang oleh penguasa jauh lebih bernilai dari pada sekeranjang kebenaran yang dipegang oleh ilmuan. Ungkapan ini sengaja diuraikan terlebih dahulu guna meluruskan kembali paradigma dasar tentang fungsi kekuasaan.

Secara spesifik, zakat memang mengikat terhadap komunitas umat Islam secara umum. Namun, semangat berbagi dan peduli pada sesama yang ada dalam syariat zakat mendorong kepada semua umat manusia, termasuk di luar Islam untuk turut menumbuhkan kepedulian sosial. Cara pandang ini, harus dibumikan pada masyarakat kita supaya tanggung jawab pengentasan kemiskinan menjadi tanggung jawab seluruh unsur masyarakat

BAZNAS Kabupaten Jember telah berjalan lebih dari satu tahun. Di usianya yang masih belia ini, BAZNAS Jember telah melakukan beberapa bentuk penguatan internal manajemen organisasi dan fokus pada beberapa program prioritasnya. Dalam rangka menunjang terlaksananya program-program kerja BAZNAS, sangat dibutuhkan adanya partisipasi masyarakat, baik individu maupun kolektif kelembagaan untuk berzakat melalui BAZNAS. Sementara ini, tingkat partisipasi masyarakat dan lembaga mulai menemukan progresnnya, namun masih bersifat insidental. Sehingga kurang berpengaruh secara signifikan terhadap pengumpulan zakat.

Khusus pada level OPD, sangat diperlukan perangkat kebijakan yang dapat dijadikan sebagai pendorong untuk melakukan proses pengumpulan zakat pada ASN dan mendorong tingkat kesadaran partisipasi masyarakat dalam menyukseskan seluruh program kerja BAZNAS yang memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kalangan lemah (duafa).

BAZNAS Kabupaten Jember sendiri memiliki lima program dasar. Di antaranya Jember Cerdas (Bidang Pendidikan), Jember Sehat (Bidang Kesehatan), Jember Peduli (Bidang Kemanusiaan), Jember Takwa (Bidang Dakwah dan Advokasi), dan Jember Sejahtera (Bidang Ekonomi). Masing-masing program telah masuk dalam rencana kerja dan anggaran tahunan BAZNAS tahun 2019.

Kebijakanmu adalah jariyahmu. Kalimat ini dapat menjadi self motivation bagi para pemimpin yang hendak menyusun sebuah kebijakan. Karena kebijakan yang dibuat oleh seorang penguasa tetap akan memiliki power pressing bagi seluruh unsur di bawahnya. Khusus dalam konteks kebijakan pengelolaan zakat, merupakan bukti konkret dari mengawal kekuasaan dengan nilai-nilai agama yang membawa manfaat untuk umat manusia. Selain itu, kalimat ini dapat menjadi guiding principles dalam membuat kebijakan.

Lahan jariyah politik yang tidak banyak dilakukan oleh para pemimpin daerah di negeri ini adalah membuat kebijakan wajib zakat terhadap seluruh orang kaya di daerahnya. Maksud dan tujuannya tiada lain kecuali untuk membangun kesadaran masyarakat dalam menjalankan rukun Islam. Selain itu, zakat merupakan instrumen pengentasan kemiskinan yang paling efektif di abad ini. Sehingga bentuk dukungan dan wujud partisipasi pemerintah daerah terhadap proses pengelolaan zakat di tingkat kabupaten adalah (1) Kepatuhan pada UU dan memberikan perangkat regulasi yang mendukung terhadap optimalisasi zakat; (2) Alokasi Anggaran rutin untuk BAZNAS dalam persentase terhadap APBD; (3) Frekuensi keterlibatan pemerintah kabupaten dalam kegiatan BAZNAS dan; (4) Menyediakan sarana-prasarana pendukung lainnya. Secara spesifik, BAZNAS kabupaten Jember memerlukan perangkat regulasi mulai dari: (1) Surat Edaran, (2) Instruksi Bupati, (3) Peraturan Bupati, dan (4) Peraturan daerah (perda). Seluruh perangkat tersebut, diharapkan akan memacu proses pengelolaan ZIS di kabupaten Jember.

Selain itu, dibutuhkan partisipasi masyarakat terhadap BAZNAS yang diwujudkan dalam bentuk (1) Menunaikan kewajiban zakat melalui BAZNAS; (2) Ikut serta menyosialisasikan gerakan sadar zakat dan; (3) menjadikan ZIS sebagai salah satu penyangga ekonomi umat yang perlu dimaksimalkan. Dukungan ini akan memunculkan pengaruh sosiologis-religius di tengah-tengah masyarakat yang ditandai dengan tingkat partisipasi yang baik.

Dalam konteks ini, Nabi bersabda: “barang siapa yang melakukan suatu kebajikan, maka ia akan mendapatkan pahala dari kebajikan yang ia lakukan dan pahala dari kebajikan orang lain yang melakukannya. Dan barang siapa yang melakukan keburukan maka dia akan mendapatkan balasan dari keburukan yang ia lakukan dan keburukan orang lain yang mencontohnya”.

Sabda ini dapat menjadi prinsip bagi seluruh umat manusia, lebih-lebih seorang pemimpin. Sebab, cara terbaik bagi seorang pemimpin untuk mengabadikan diri adalah dengan membuat kebijakan-kebijakan yang selaras dengan prinsip-prinsip agama.

Saya tidak bisa membayangkan betapa besarnya nilai kebaikan yang akan mengalir terus kepada pembuat kebijakan wajib zakat jika seluruh rakyatnya terus berzakat bahkan hingga creator kebijakannya telah meninggal dunia. Dengan ini, saya berharap pemimpin kita bisa dan berani membuat dan menorehkan suatu kebijakan yang benar-benar bisa memberikan dampak yang signifikan terhadap nasib para duafa.

*) Penulis adalah Sekretaris BAZNAS Kabupaten Jember dan Dosen INAIFAS Kencong.

IKLAN