Kiprah Jebolan PB Djarum yang Kini Jadi Pelatih di Luar Negeri

Atlet Ketahuan Merokok, Langsung Dikeluarkan

KENANG KAUS PB DJARUM: Rezandra Putra menunjukkan kaus yang pernah dipakai saat bergabung bersama PB. Djarum, beberapa tahun silam.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tidak mudah bergabung dalam Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum. Mereka yang berhasil merupakan atlet pilihan. Di Jember, ada dua kakak adik jebolan PB Djarum yang kini menapaki karir kepelatihan di luar negeri.

Dua orang itu adalah Rezandra Putra dan Deariska Putri Medita. Saudara kandung yang berprestasi karena PB Djarum. Mereka bisa mewujudkan mimpi besar bersama PB Djarum.
Prestasi gemilang tingkat nasional bahkan internasional diraihnya. Dua bersaudara ini adalah pebulu tangkis asli Jember. Rezandra kini sudah berusia 31 tahun, sedangkan adik perempuannya 27 tahun. Keduanya tercatat sebagai alumni PB Djarum.

Putra pasangan suami istri Sunaryadi dan Sumeh Hartiningsih itu sekarang melanjutkan karirnya sebagai pelatih. Rezandra berkarir menjadi pelatih di luar negeri. Pernah ke China dan India. Sedangkan Deariska bersama suaminya kini menjadi pelatih bulu tangkis di Peru.

Awal karir keduanya di PB Djarum masuk bukan melalui jalur audisi seperti sekarang. Mereka melalui jalur prestasi. “Kalau dulu masuk Djarum tentu beda dengan sekarang. Sekarang peminatnya sangat banyak, jadi diadakan audisi,” kata Reza saat ditemui di kediamannya di Jl. Bangka, Sumbersari.

Reza mengaku, selain jalur audisi, dulu PB Djarum juga melakukan beberapa opsi merekrut atlet muda. Mereka punya tim talent scouting untuk memantau atlet potensial melalui pertandingan ataupun kejuaraan. “Audisinya setiap setahun sekali. Kalau ada atlet potensial, langsung diambil, meskipun dalam pertandingan atlet itu kalah,” ungkap Reza.
Reza masuk dengan jalur prestasi. Sementara adiknya, Deariska, dipantau langsung oleh pelatih Reza di PB Djarum. Dulu, Deariska sering melihat sang kakak latihan rutin di PB Djarum Kudus.

“Dea ini sering nyambangi saya di Kudus. Lama-kelamaan Dea disuruh bawa raket dan main. Karena postur tubuh Dea tinggi dan tekniknya sudah kelihatan bagus, hanya perlu dipoles dasarnya,” cerita Reza kepada Jawa Pos Radar Jember.
Karena sering mengunjungi kakaknya, akhirnya Dea masuk PB Djarum. “Bahkan waktu itu Dea masih SD. Mama saya sampai satu bulan di Kudus untuk ngeloni Dea. Karena dia masih kecil,” ucapnya sembari tertawa kecil.

Rezandra masuk PB Djarum sejak tahun 2000. kala itu, dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Sementara adiknya, Dea, bergabung dengan PB Djarum di tahun 2003, saat masih kelas 5 SD. “Saya main tunggal putra sejak awal sampai sekarang. Kalau adik awalnya tunggal putri, terus dimainkan di ganda,” jelasnya.

Asrama PB Djarum pun terpisah. Untuk atlet tunggal putra/putri berada di Kudus, sedangkan atlet ganda putra/putri dan campuran di Jakarta. “Dari dulu latihannya terpisah. Tetapi tetap bawa nama Djarum,” paparnya.

Di Kudus, Reza merasakan pembinaan atlet yang sangat disiplin selama tujuh tahun, dari tahun 2000 hingga 2007. Sedangkan adiknya lebih lama. Dea berada di Kudus selama lima tahun. Sisanya hingga tahun 2010 berada di Jakarta, karena dimainkan di ganda putri.
Setelah tak menjadi atlet pun, Dea masih sempat jadi pelatih di Djarum sekitar tiga tahun. “Prestasi adik di tunggal putri tidak terlalu menonjol, akhirnya diarahkan pelatih ke ganda. Buktinya bagus prestasinya,” imbuh pria yang juga alumnus Universitas Jember ini.

Selama di PB Djarum, Reza memang merasakan betapa displinnya latihan di sana. “Kalau keluar asrama pun dibatasi maksimal dua jam. Makan sehari-harinya pun diperhatikan oleh ahli gizi. Latihan tiga kali dalam sehari,” kenangnya.

Reza menepis anggapan kalau PB Djarum dinilai mengeksploitasi anak. Sebab, PB Djarum menonjolkan merek dagang rokoknya melalui audisi umum. “Justru kalau ada atlet yang ketahuan merokok langsung dikeluarkan. Tanpa kompromi. Selama saya di asrama belum pernah melihat langsung teman-teman merokok. Tapi kalau teman-teman senior mungkin ada yang merokok. Malah dulu logo Djarum lama ada di kaus. Tapi dulu gak dipermasalahkan,” imbuhnya.

Reza dan para alumni PB Djarum bertanya-tanya, mengapa KPAI mempermasalahkan hal tersebut sekarang. Mengapa tidak dari dulu. “Kami di Djarum tidak diajari merokok. Kami benar-benar diajari bagaimana menjadi atlet yang sukses level nasional dan internasional,” terang pria yang sudah memiliki dua buah hati ini.

Selain terus digenjot latihan bulu tangkis setiap harinya, pendidikan para atlet juga diperhatikan. Selama di Kudus, Reza sekolah di SMP sampai SMA swasta. “Kalau pulang ke Jember hanya setahun dua kali. Hari Lebaran dan libur Natal. Tapi kalau persiapan kejuaraan ya terpaksa gak pulkam,” bebernya, kemudian tertawa.

Citra PB Djarum sebagai pelatnas mininya bulu tangkis nasional pun masih melekat sampai sekarang. Sebab, 50 persen atlet nasional berasal dari PB Djarum. Jadi, para jebolan PB Djarum bisa dibilang punya nilai lebih. Dari program latihannya sendiri memang berbeda ketimbang klub lain.

“Sampai sekarang PB Djarum identik dengan klub jempolan. Di luar negeri pun, atlet di sana mengakui kalau alumni PB Djarum adalah atlet bagus. Karena atlet yang sudah masuk Djarum standarnya tinggi, levelnya minimal nasional,” papar pria yang sedari awal main single ini.

Reza mengenang, kalau terakhir dia menyambangi asramanya di Kudus tahun 2011 silam. “Waktu itu saya mengantarkan atlet saya audisi. Kalau ke asrama di Jakarta tahun 2015. Sewaktu numpang tidur di asrama adik, ngurus VISA,” kenangnya.
Keinginan Reza hingga sekarang yang belum tercapai adalah bermain bersama sang adik. Sama-sama alumni PB Djarum, tetapi dia belum pernah main bareng bersama Dea.

“Sampai sekarang belum keturutan. Adik kalau saya ajak bilangnya capek terus,” pungkasnya.

IKLAN

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Bagus Supriadi