Kemarau Panjang, Bulog: Stok Beras Aman

ANTISIPASI HARGA BERAS: Petani memanen padi pada periode panen kedua, Juni-Juli kemarin. Kondisi tak kunjung turun hujan membuat komoditas beras patut diwaspadai jelang akhir tahun.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Walau saat ini mulai dilanda kemarau panjang, Perum Bulog Subdivre Jember masih merasa aman-aman saja mengenai pasokan stok beras. Padahal, merunut kondisi di lapangan, tak sedikit petani yang mulai merasa kesulitan air dan memilih menanam palawija daripada padi.

Pergerakan beras hingga akhir tahun tersebut sempat dibahas dalam forum perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHG) Jember. Kasi Stastistik dan Distribusi Badan Pusat Stastistik (BPS) Jember Candra Bhirawa mengaku, jika dilihat dari IHK atau inflasi Agustus kemarin, pergerakan harga beras justru menunjukkan deflasi. Beras menyumbang inflasi sebesar minus 0,0129 persen dari sumbangan inflasi keseluruhan di Kabupaten Jember sebesar 0,33 persen.

Walau menjadi aspek penyumbang deflasi, kata dia, perlu diwaspadai pula lonjakan beras, karena musim kemarau yang lebih panjang. Namun, kondisi kemarau yang lebih panjang ini nyatanya tidak membuat Bulog Subdivre Jember risau.

Menurut Waka Bulog Sudivre Jember Makki Febrianto, cadangan beras di Kabupaten Jember terpantau sangat aman. “Di musim kemarau panjang ini, Bulog sudah siap stok beras mencapai 51 ribu ton,” ujarnya.

Jumlah tersebut, kata dia, cukup hingga 2020 nanti. “Sampai akhir tahun masih aman, bahkan hingga tahun depan,” paparnya. Seandainya harga beras melonjak di akhir tahun, maka Bulog siap untuk menggelontorkan beras di operasi pasar agar harga besar kembali stabil. Turunnya harga beras pada Agustus yang itu juga masih kemarau, menurut Makki, bisa jadi karena masih ada petani yang melakukan panen di periode kedua.

Kondisi tersebut juga membuat petani beralih ke tanaman palawija. Seperti Suhartin, petani di Lingkungan Pelindu, Kelurahan Karang Rejo, yang mengganti lahan pertanian beras ke jagung. “Panas seperti ini, mending jagung saja. Kalau padi, risikonya besar,” jelasnya.

Walau lokasi pertaniannya dekat dengan saluran irigasi, tapi menurutnya hal tersebut tidak bisa diandalkan. Lantaran jumlahnya tidak bisa memenuhi semua sawah. “Daripada berisiko, nanti justru gagal panen,” tambahnya.

Sementara itu, Kabid Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Asrah Joyo Widono mengaku, masa kekeringan masih akan berlanjut pada September ini. “Puncaknya diprediksikan pada September,” ujarnya. Hujan pun, tambah dia, setidaknya baru akan turun pada Oktober, tapi tidak setiap hari.

Dia menuturkan, pada masa kemarau yang lebih panjang daripada tahun kemarin, yang harus diwaspadai masyarakat adalah bencana kekeringan serta kebakaran. Solusi mengatasi kekeringan, kata dia, bukan distribusi air, melainkan mengembalikan fungsi lahan seperti sedia kala. “Penyaluran air bersih bukan solusi terbaik, itu hanya sementara. Solusi terbaik tetap kembali ke alam dengan kembali menanam pohon,” pungkasnya.

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti