Jember Mudah Disusupi Berbagai Aliran

KULIAH UMUM: Sesi diskusi yang disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Jember Prof Abdul Halim Soebahar di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) IAIN Jember, kemarin.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember dikenal memiliki beragam kebudayaan dan tradisi yang ada di berbagai kecamatan. Kondisi masyarakat yang beragam ini memunculkan cara pandang yang beragam pula, termasuk dalam hal beragama.

Munculnya berbagai aliran di Jember tidak lepas dari kondisi masyarakat yang terbuka dengan segala hal yang baru. Hal itu memengaruhi cara berpikir mereka. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember Prof Abdul Halim Soebahar menilai, Jember menjadi mediator dan miniatur praktik keagamaan di Jawa Timur, bahkan di Indonesia.

“Ada berbagai jenis golongan hidup di sini. Mereka ada aliran kanan yang cenderung fundamental, dan ada pula aliran kiri yang cenderung ekstrem,” katanya.
Halim menjelaskan bahwa di antara kedua posisi tersebut, tak perlu mempersoalkan benar atau salahnya. Namun, lebih penting memikirkan bagaimana bisa menempatkan diri berada di tengah-tengah atau moderat.

Dia mencontohkan berbagai aliran yang sudah cukup lama di Jember. Seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Al-Irsyad, Persatuan Islam (Persis), dan kelompok lain yang teridentifikasi oleh lembaganya sebagai kelompok moderat.

Dia meyakini bahwa aliran radikalisme yang tengah tumbuh subur bukan lagi mengancam secara personal, namun mengancam kelompok-kelompok yang sebelumnya sudah hidup lama dengan cara pandangnya yang moderat. “Kalau Jember sedang ada gejolak, Jawa Timur pun juga akan bergejolak. Jember sedang ada konflik sedikit, se-Jawa Timur pun pasti resah,” imbuh Guru Besar IAIN Jember itu saat memberikan kuliah umum di hadapan sekitar 1000-an mahasiswa.

Pria yang akrab disapa Prof Halim itu juga mengajak para mahasiswa tidak hanya melawan ajaran yang diindikasi ekstrem atau kurang moderat. Mereka tidak hanya melawan, namun harus bisa membentengi diri. Sekalipun ajaran ekstrem saat ini dilawan hingga organisasinya dibubarkan, namun ideologinya tidak lenyap begitu saja.

“Kenali dulu ajaran kita sendiri, baru mengenali karakter ajaran lain. Banyak orang mengaku paling moderat, tapi sebenarnya belum memahami sepenuhnya apa esensi dari apa yang diyakininya itu,” pungkasnya.

IKLAN

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Bagus Supriadi