Tiga Bulan, 1.436 Pasangan Bercerai

Lima Kasus karena KDRT

ILUSTRASI: Para ibu-ibu saat melihat lembaran syarat pengajuan cerai di Pengadilan Agama (PA) Jember. Berdasarkan data PA, pengajuan perceraian didominasi oleh perempuan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Angka perceraian di Jember cukup tinggi. Berdasarkan data dari Pengadilan Agama (PA) Jember selama tiga bulan April – Juni 2019, tercatat ada 1.415 perkara perceraian. Artinya, jika dibagi tiap bulan, rata-rata angkanya mencapai lebih dari 470 kasus atau tiap hari lebih dari 15 perkara yang diajukan.

Humas PA Jember Anwar mengaku, secara total pengajuan perceraian di Kabupaten Jember adalah dari pihak perempuan atau istri. Jika diperinci, sekitar 72 persen dari total pengajuan perceraian tersebut diajukan oleh pihak istri atau cerai gugat. Angka perbandingannya 1.031 gugat cerai, sementara gugat talak dari suami ada 384 pengajuan.

Secara umum penyebab utama terjadi perceraian, kata dia, adalah dari sektor ekomoni. Namun, belakangan ini, faktor itu digeser oleh perselisihan yang terjadi terus menerus. Biasanya, karena hubungan sudah tidak harmonis atau disebabkan faktor lain. Semisal ada pihak lain yang ikut campur urusan internal rumah tangga.

Bahkan, selama tiga bulan ini penyebab tertinggi perceraian adalah perselisihan terus menerus. Jumlah total tercatat ada 732 perkara. Sedangkan, posisi kedua baru faktor ekonomi yang berjumlah 714 kasus. Salah satu pihak meninggalkan pasangan menjadi faktor berikutnya, yang tercatat sebesar 58 perkara. Ada juga perceraian yang disebabkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), jumlah kasus ini ada 5 perkara.

Anwar menjelaskan, meski penyebab perceraian bermacam-macam, namun penyebab utamanya bisa karena faktor usia yang belum matang dalam menjalin pernikahan. Karena, kebanyakan yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan pernikahan itu masih berusia muda. “Rata-rata yang bercerai itu usia 35 tahun ke bawah,” tuturnya.

Kondisi ini mendapat tanggapan dari psikolog. Marisa Selvy, psikolog dari Gemilang Psikologi itu menjelaskan, tingginya perceraian di Kabupaten Jember perlu diantisipasi dengan melakukan bimbingan pranikah. Ini agar jumlah perceraian tidak terus melonjak. Hanya saja, bimbingan pranikah tak hanya dikenalkan untuk pasangan yang hendak menikah saja, tapi juga untuk para remaja yang lain.

Perempuan berkerudung tersebut mengungkapkan, memang lima tahun pertama pada awal menjalin pernikahan merupakan fase yang sangat berat. Sebab, kata dia, masa-masa itu rawan terjadi konflik karena bertemunya dua orang yang berlatar belakang berbeda, sifat berbeda, dan watak berbeda yang tinggal dalam satu atap.  “Apalagi jika pernikahan itu pada usia sangat muda, dan tiba-tiba dijodohkan. Tentu tingkat perselisihan akan lebih tinggi,” ujarnya.

Makanya, kata dia, tidak salah yang diajarkan agama untuk ta’aruf sebelum menikah. Menurutnya, menikah itu bukan karena pasangan itu cantik dan tampan saja. Tapi juga ada pertimbangan lain. Salah satunya ada keterbukaan antara suami dan istri, ikhlas menerima semuanya, dan tak kalah penting tidak memendam sesuatu, serta lupakan obsesi. “Ada orang yang menikah itu sangat yakin bisa mengubah kebiasaan buruk sang suami. Obsesi tersebut kadang jadi bumerang,” jelasnya.

Bahkan, perempuan yang akrab disapa Icha itu, pernah menjumpai istri minta cerai hanya persoalan sepele. Yaitu, capek merapikan handuk suami yang biasa meletakan handuk seenaknya. “Awalnya kuat-kuat saja, tapi jika ditahan-tahan terus berakibat fatal. Makanya, terbuka terhadap pasangan itu penting,” pungkasnya.

 

Berita Jember Hari Ini dan Berita Jember Terbaru hanya di radarjember.id

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih