Biope, Inovasi Energi Terbarukan Karya Alumni Polije

Sulap Kotoran Sapi dan Limbah Tahu Jadi Energi Biogas

TEROBOSAN BARU: (Dari Kiri) Rahayu Dwi Agustin dan Febi Romana Devi tengah memamerkan inovasi energi terbarukan yang mereka ciptakan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Kotoran sapi dan limbah ampas tahu rupanya memiliki nilai ekonomi yang tidak disadari oleh masyarakat. Banyak yang dibuang karena dinilai tidak berguna. Namun, di tangan orang kreatif, limbah tersebut bisa berubah menjadi energi biogas.

Kotoran sapi, tentu menjijikkan. Bahkan, siapa yang sudi untuk melihatnya, baunya saja tidak enak. Bahkan, limbah sapi yang mengalami proses pemuaian, bisa mengotori udara sekitar lingkungan. Namun, tidak dengan Rahayu Dwi Agustin dan Febi Romana Devi. Mereka mencoba mengolah kotoran tersebut menjadi barang yang bernilai, yakni menjadi biogas.

Permasalahan karena kotoran itu berhasil dijawab oleh dua orang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Mereka berhasil membuat alat pengolahan limbah yang ramah lingkungan, ekonomis, dan tahan lama, yang diberi nama Biogas Polyethylene (Biope).
“Masalah limbah ini sudah sering kita temui di desa-desa. Jadi, kita ingin ada solusi, salah satunya dengan pengelolaan yang baik,” kata Izza Auliya Amukholidi, direktur Biope.
Ide awal pembuatan reaktor energi biogas itu memang terinspirasi dari kondisi di pedesaan yang kerap ditemui limbah kotoran sapi dan ampas tahu. Sejak awal pembuatan pada November 2017, dia bersama 15 rekannya itu membuat penelitian dan menindaklanjuti dengan pembuatan reaktor biogas tersebut.

Alhasil, selama kurang lebih 3 bulan, keringat mereka membuahkan hasil. Kinerja 15 alumni Politeknik Negeri Jember (Polije) itu resmi dikomersialkan pada awal 2018. “Selama membuat kami berjumlah 15 orang, namun sampai saat ini bertahan 5 orang dengan saya. Alhamdulillah, produk kami sudah mulai kita komersilkan,” imbuh perempuan asal Banyuwangi itu.

Dia menjelaskan, selama ini reaktor biogas yang ada di pasaran memang sulit ditemui. Meskipun ada, namun cukup memberatkan karena harga yang cukup tinggi. Selain itu, reaktor di pasaran banyak dibuat dari bahan beton, membuat biaya perawatan cukup tinggi yang untuk masyarakat menengah ke bawah. Reaktor dari beton mencapai kisaran harga Rp 10 juta untuk ukuran 10 meter kubik. Sedangkan reaktor miliknya bisa selisih harga sampai Rp 5 juta.

“Makanya reaktor kreasi kami ini mencoba kita buat dengan seekonomis mungkin, ramah lingkungan, dan hemat biaya perawatan,” jelasnya.

Dia mengatakan, beberapa unsur atau komponen reaktor miliknya berasal dari bahan-bahan di sekitar kita. Seperti pipa, plastik geo membran, kompor khusus biogas, batako, dan gorong-gorong. Semua alat-alat itu telah diuji, lebih mudah dalam perawatan dan bisa bertahan 10 sampai 15 tahun.

Biogas yang dihasilkan dari reaktor itu, lanjutnya, bisa langsung dialirkan melalui tabung LPG untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti memasak dan lainnya.
Izza dan sahabat-sahabatnya memahami bahwa harga gas LPJ di pasaran kian hari semakin merangkak naik. Hal itu yang menjadi salah satu faktor yang mendorongnya tetap bersikukuh terus memperbaiki dan menyempurnakan temuannya itu.

Tak hanya itu, jika kapasitas reaktor semakin besar, kata Izza, biogas tersebut bisa digunakan untuk daya pembangkit listrik yang digunakan oleh genset biogas. “Manfaatnya juga limbah dari reaktor yang berisi kotoran sapi dan ampas tahu itu, sudah otomatis terfermentasi. Jadi, sudah langsung bisa digunakan untuk pupuk,” ungkapnya penuh bangga.

Saat ini, Izza didampingi lima rekannya terdiri atas divisi marketing, finansial, dan divisi produksi. Karena kreativitasnya, mereka sempat tampil di beberapa event nasional seperti Shell Livewire Bootcamp 2019 dalam beberapa bulan kemarin. Saat ini, mereka tengah mengikuti event Biope Internasional Top Ten Innovator’s yang diikuti oleh 19 negara di seluruh dunia.

Dia menilai bahwa energi saat ini banyak yang sedang disubsidi. Nantinya, tidak menutup kemungkinan subsidi energi itu dikurangi atau dicabut oleh pemerintah. “Kita berharap masyarakat bisa menyiapkan dan memenuhi kebutuhan rumah tangga secara mandiri dan masalah limbah itu terutama tuntas,” pungkasnya.

IKLAN

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Bagus Supriadi