Menyambut QRIS, Layanan Non Tunai 2020

Oleh: Khairunnisa Musari*

“….Besar harapan, Bapak berkenan mengizinkan karena kegiatan ini akan menambah wawasan dan pengetahuan terbaru untuk bidang keilmuan saya, terutama untuk matakuliah-matakuliah yang saya ampu semester ini….”

Demikian sebagian penutup surat izin yang saya serahkan kepada Direktur Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember ketika saya mengajukan permohonan untuk menghadiri Forum Diskusi Perkembangan Terkini Ekonomi Indonesia dan Tantangan Ke Depan dan Workshop Penulisan Populer yang diselenggarakan Departemen Komunikasi Bank Indonesia. Forum tersebut dihadiri oleh para dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dari perguruan tinggi negeri/swasta di Jawa Timur, Jakarta, Jawa Barat, Banten, Bali dan Nusa Tenggara Timur. Dari Jember, saya dan Mas Adhitya Wardhono, akademisi FEB Universitas Jember, yang menjadi peserta forum.

Ya, semester ini saya mendapat amanah mengampu diantaranya mata kuliah Ekonomi Makro, Ekonomi Internasional, dan Ekonomi Makro-Mikro Islam. Mengajarkan matakuliah jenis ini membutuhkan pengetahuan yang up to date untuk bisa memberikan gambaran riil dan aktual dari dinamika ekonomi regional, nasional dan global untuk diceritakan dan didiskusikan dengan mahasiswa di kelas.

Salah satu isu yang menarik untuk diangkat adalah implementasi ekonomi digital berupa layanan non tunai berwujud barcode dengan nama Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS). Ke depan, QRIS akan menjadi instrumen non tunai utama yang akan diberlakukan oleh Bank Indonesia pada semua aktivitas transaksi pembayaran, termasuk bagi usaha mikro kecil menengah (UMKM).

QRIS

Digitalisasi telah merevolusi banyak sendi kehidupan, termasuk pada sistem pembayaran. Pembayaran digital di Indonesia tumbuh cukup tinggi, baik yang berbasis mobile banking maupun mobile payment. Bank Indonesia melihat cara pembayaran digital berbasis QR code melalui layanan mobile banking maupun mobile payment dapat mendorong efisiensi perekonomian, mempercepat keuangan inklusif, dan memajukan UMKM.    

QR code adalah salah satu inovasi teknologi yang berkembang dan mulai banyak digunakan dalam layanan pembayaran digital. QRIS adalah QR code berstandar nasional yang berfungsi sebagai alat pembayaran yang ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk digunakan dalam memfasilitasi transaksi pembayaran di Indonesia.   

Meski sudah resmi diluncurkan pada 17 Agustus lalu, QRIS baru serentak beroperasi pada 1 Januari 2020. Pada saat itulah semua merchant dan setiap penyedia jasa sistem pembayaran (PJSP) berbasis QR code wajib menggunakan QRIS. Selama masa transisi hingga 31 Desember 2019, Bank Indonesia selaku otoritas sistem pembayaran meminta merchant mengajukan aplikasi kepada Bank Indonesia dan PJSP melakukan penyesuaian sistem terhadap adanya QRIS.

Bank Indonesia meyakini QRIS dapat menguntungkan dunia usaha karena QRIS memudahkan merchant maupun konsumen saat bertransaksi sehingga dapat meningkatkan volume penjualan. QRIS dapat digunakan untuk bertransaksi mulai pada usaha besar hingga level UMKM, baik pada chain store, pedagang kaki lima, pasar tradisional, online market, donasi, bahkan untuk membayar parkir atau memberi apresiasi pada musisi jalanan. Melalui QRIS, transaksi semakin cepat dengan volume yang terus membesar. Salah satu keuntungan bertransaksi menggunakan QR code yang terintegrasi dengan QRIS adalah biaya yang tergolong rendah dan cenderung seragam antarpelaku PJSP.

Cashless, Sistem Pembayaran Masa Depan

Pertumbuhan inovasi berbasis teknologi di Indonesia memang berkembang pesat. Indonesia termasuk dalam kategori negara dengan pertumbuhan inovasi cepat. Meski punya peluang untuk menjadi negara dengan tingkat kemajuan digital tinggi, tapi saat ini tingkat kemajuan digital di Indonesia masih rendah. Pada sektor pembayaran, hal ini tercermin dari tingkat keuangan inklusif di Indonesia yang sudah mulai meningkat, namun mayoritas masyarakat masih memilih uang tunai sebagai alat transaksi.

Tidak bisa dihindari, era ekonomi digital mengarahkan kita semua pada terbentuknya cashless society. Ini sesuai dengan semangat zaman. Layanan non tunai berbasis digital menjadi keniscayaan. Secara teknis, layanan ini memang memberi kemudahan dan kenyamanan. Sistem pembayaran dengan menggunakan QR code berstandar QRIS menjadi opsi paling logis karena tidak membutuhkan investasi dan dapat digunakan pada seluruh segmen masyarakat dan dunia usaha. Disebut tidak membutuhkan investasi lantaran instrumen ini memanfaatkan jaringan mobile banking dan mobile payment.

Pada tataran inilah, sosialisasi dan edukasi menjadi titik kritis. Pasalnya, perubahan sistem pembayaran dan menjadi bagian dari cashless society menuntut perubahan perilaku dan cara pandang dalam menggunakannya. Jika yang menggunakan bijak, paham, dan dapat mengendalikannya, maka akan membawa manfaat. Jika sebaliknya yang terjadi, maka dampaknya mungkin lebih mengerikan daripada penggunaan uang tunai. Yang akan terjadi justru besar pasak daripada tiang sehingga membawa mudarat.

Setidaknya ada tiga hal ikutan yang perlu disiapkan dalam memasuki cashless society. Pertama, lakukan perencanaan keuangan. Transaksi tunai dan non tunai secara prinsip sama, hanya prakteknya yang berbeda. Prinsip ini harus benar-benar dipahami. Kedua, pilihlah alat transaksi yang sesuai dengan karakter pribadi. Jika berkarakter cenderung boros, hindarkan penggunaan kartu kredit, cukup dengan kartu debit. Ketiga, pilih provider aplikasi pembayaran yang memiliki kredibilitas dan jangkauan luas. Sistem pembayaran non tunai memiliki operational risk yang cukup tinggi sehingga provider yang berkredibilitas diharapkan memiliki perlindungan berlapis untuk mitigasi resiko tersebut kepada konsumen. Sedangkan provider yang tidak memiliki jangkauan luas tentu akan menyulitkan transaksi jika tidak terjaring dengan banyak merchant. Wallahua’lam bish showab. 

*Dosen Tetap Prodi Ekonomi Syariah Pascasarjana IAIN Jember, Sekretaris II DPW IAEI Jawa Timur, Sekretaris ISEI Jember.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :