Percuma kalau Hanya Dipajang, Dijadikan Bahan Edukasi

Burhanudin Naf’an, Kolektor Diorama Kereta Api

Sejak tahun 2012, Burhan mulai mengumpulkan  miniatur kereta api. Miniatur tersebut kemudian disusun menjadi diorama. Sampai sekarang, dia sudah memiliki lima diorama. Bentuknya unik, menarik, dan edukatif. 

UTAK-ATIK DIORAMA: Burhan sedang membenahi bagian dari diorama kereta api miliknya agar menyerupai kereta asli. 

RADAR JEMBER.ID – Bila berkunjung ke rumah Burhanudin Naf’an di Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, Anda akan disambut dengan diorama kereta api. Di ruang tamunya tersedia pernak-pernik tentang kereta api yang hampir mirip dengan aslinya.

Salah satu pemandangan diorama yang pertama kali bias dilihat adalah diorama yang menceritakan kejadian pohon tumbang. Diorama itu berlokasi di Kabupaten Probolinggo, beberapa tahun lalu. Pohon  tumbang jatuh tepat di tengah rel kereta. Akibatnya, para penumpang Kereta Api Mutiara Timur dipindahkan ke transportasi bus untuk melanjutkan perjalanannya.

Selain diorama pohon tumbang itu, ada juga empat diorama lainnya yang memiliki tema berbeda. Seperti tema mudik, Gerbong Maut, dan sepur kuno zaman londho ning tanah Jawa. “Kalau untuk tema, saya buatnya tidak asal, karena kalau salah sedikit bisa salah paham soal sejarah,” kata Burhan.

Misalnya, tema Gerbong Maut bertujuan untuk terus mengenang sejarah Gerbong Maut.  Ketika ada pameran, dioramanya bisa dipajang sebagai bahan edukasi.

Nafi’an begitu detail bercerita tentang diorama yang dibuatnya. Ada tema sepur kuno zaman Belanda di tanah Jawa.  Salah satunya Stasiun Kemidjen yang menjadi stasiun tertua di Indonesia. “Dulu diceritakan teman-teman senior soal sejarah kereta api. Sekarang Stasiun Kemidjen sudah jadi rumah warga,” kata pria asli Jember ini.

Diorama Stasiun Kemidjen, kata dia, menggambarkan kereta api pertama di Semarang. “Saya dulu sempat tidak tahu arsitektur bentuk stasiunnya,” ujarnya. Kemudian, ada diorama tema mudik Lebaran. Burhan membuatnya pada tahun 2014 silam. “Dulu cuma kosongan. Akhirnya, terus ditambahi ornamen lainnya. Seperti rumah-rumahan, miniatur orang, sampai ke detail genting rumahnya, agar mirip,” paparnya.

Selain menampilkan suasana penumpang yang mudik Lebaran, tema penumpang bepergian atau wisata naik kereta api di tahun 1990-an juga menghiasi ruang tamunya.

Burhan mengkoleksi miniatur kereta api itu bukan hanya sebagai hobi, namun juga upaya untuk mengingat sejarah transportasi kereta api. Dia memang suka dengan transportasi si ular besi ini.  Awalnya, ia bergabung dengan komunitas, lalu  tertarik dengan diorama kereta. “Belajarnya ya dari senior. Sebelumnya saya malah menyebut diorama ini mainan. Karena benda kecil ini biasanya disebut mainan,” beber pria yang sudah dikarunia satu putra ini.

Sembari menunjukkan miniatur lokomotif legendaris yang beroperasi di Daop IX Jember, Burhan menjelaskan bahwa dia paham mainan yang dia maksud tadi bukanlah mainan. Melainkan diorama atau miniatur yang bukan dibuat untuk mainan. “Fungsinya beda. Diorama ini hanya untuk pajangan saja, bukan dimainkan. Tapi ada juga miniatur kereta yang bisa jalan,” tegasnya.

Burhan mengaku, ia sudah mengumpulkan miniatur kereta api untuk menyusun diorama sejak  2012 lalu. “Belinya ya tidak langsung semua, nyicil satu per satu,” tutur suami dari Novi Anisa ini.

Baginya, diorama itu tidak berguna maksimal bila hanya dipajang. Akhirnya, dioramanya menjadi wadah untuk mengedukasi masyarakat. “Agar yang melihat juga tahu informasi diorama,” imbuh alumnus Universitas Muhammadiyah Jember ini.

Diorama milik Burhan, ada yang sudah diberi boks kaca, ada juga yang belum. “Sebelum dimasukan ke boks kaca, harus dipertimbangkan lagi. Ornamen apa yang ditambah atau diubah. Kalau sudah di boks, tidak bisa diubah lagi,” jelas pria berkacamata ini.

Saat disinggung mengenai harga miniatur kereta api, Burhan mengaku, harganya pun beragam. “Kalau gerbongnya saja bisa Rp 400 ribu. Ada yang pesan di orang Jember sendiri. Ada juga yang beli dari Madiun,” tuturnya.

Jenis kereta yang diletakkan pada diorama itu pun tak sembarangan, harus sesuai dengan tema. “Tidak langsung buat, tapi harus mencari referensi keretanya dulu. Saya biasanya cari referensi dari majalah KA yang sudah jadul, sekarang tidak terbit lagi,” ungkapnya, kemudian menunjukkan majalah miliknya.

Bahkan, Burhan menambahkan, sebelum membuat diorama, dirinya sudah membuat beberapa percobaan terlebih dahulu. “Pernah percobaannya gagal, mengubah lagi. Gagal, buat lagi,” imbuhnya.

Burhan juga mengenang saat dia gemar dengan kereta semasa kecilnya. Waktu kecil, pria kelahiran 24 januari 1989 ini suka beperhian membawa kamera handycam. Kemudian ia merekam kereta api.

Saat masuk Komunitas Railfans Daop IX (Krd9), Burhan bersama rekan-rekannya paling senang memburu Kereta Luar Biasa (KLB).  Mulai dari memotret hingga merekam. “Sekarang mau memperbaiki dulu Stasiun Kemidjen dan diorama Gerbong Maut,” pungkasnya.  (*)

 

IKLAN

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Bagus Supriadi