Islam yang Ramah

Prof. Dr. H Abd. Halim Soebahar, MA*

foto: Jawa Pos

Era baru yang datang ternyata menyisakan sejumlah tantangan. Semangat globalisasi yang terus berlangsung ternyata telah memangkas bola dunia yang luas menjadi kian sempit, dan tentu berdampak positif maupun negatif terhadap ajaran Islam. Dalam menyikapi kondisi seperti ini, ajaran Islam sering diperdebatkan, apakah ajaran suci ini harus takluk mengikuti irama perubahan yang tak terelakkan ataukah sebaliknya, setiap perubahan mesti memiliki acuan dasar berupa nilai-nilai keislaman?

Menjelaskan persoalan seperti ini, kita mesti berangkat dari sebuah asumsi dasar bahwa Islam adalah agama universal dan komprehensif. Kalau kita hanya melihat teks, maka kita akan terpaku pada teks dan memutar kembali jarum sejarah ke masa silam. Kalau kita hanya berpegang pada konteks dan melupakan teks, maka kita akan seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Sebaik-baik urusan itu yang berada di tengah: memahami teks sesuai konteksnya.  Kalau ini yang kita lakukan, maka kita dapat mempertahankan nilai lama yang masih relevan dan terus membuka diri untuk menerima ide dan gagasan baru yang lebih baik.

Sebagai agama rahmatan lil alamin, Islam mengenal sistem perpaduan antara apa yang disebut konstan (tsabat) di satu pihak dan elastis (murunah) di pihak lain.

Jika watak Islam pertama (konstan) tidak mengenal perubahan oleh apa pun karena berkaitan dengan persoalan-persoalan ritus agama yang transenden, maka watak Islam kedua (elastis) menerima akses perubahan sepanjang tidak bergeser dari titik orbitnya.

Sebagai agama yang diturunkan oleh Allah SWT, Islam merupakan agama yang dapat menjawab segala persoalan yang muncul, termasuk permasalahan kebangsaan dan kenegaraan. Ajaran Islam dapat menerima nilai-nilai universal yang dibawa oleh arus modernisasi dan globalisasi sepanjang nilai-nilai tersebut sesuai dengan ajaran Islam.

Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negara dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi negara merupakan kesepakatan bangsa Indonesia, termasuk Umat Islam Indonesia.

Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara merupakan ideologi terbuka. Dalam rangka mewujudkan amanat dasar negara dan konstitusi maka agama harus dijadikan sumber hukum, sumber inspirasi, landasan berpikir, dan kaidah penuntun dalam sistem kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena Islam merupakan ajaran yang rahmatan lil alamin dan shalihun likulli zamanin wa makanin, maka ajaran Islam harus menjadi sumber dalam penataan sistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang harus dijelaskan secara komprehensif oleh para ulama, zuama’, dan cendekiawan muslim sesuai keahlian masing-masing.

Kajian tentang Islam yang ramah banyak dikaitkan dengan firman Allah SWT ketika menegaskan tentang diutusnya Nabi Muhammad SAW, “Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya’, 21: 107).

Selain itu, dalam hadis dari Abu Tsa’labah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan sia-siakan, dan telah menggariskan ketentuan-ketentuan, maka jangan kalian melewatinya, dan telah mengharamkan beberapa hal, maka jangan kalian melanggarnya, dan mendiamkan banyak hal karena belas kasihNya kepada kalian (kecuali dalam keadaan lupa), maka janganlah kalian membahasnya” (HR. Daruquthni dan lainnya).

Redaksi ayat ke-107 Surah Al-Anbiya’ itu sangat singkat, tetapi mengandung makna yang sangat luas. Hanya dengan lima kata yang terdiri dari dua puluh lima huruf (termasuk huruf penghubung yang terletak di awalnya) ayat ini menyebut empat hal pokok: (1) Rasul/utusan Allah dalam hal ini Nabi Muhammad SAW., (2) yang mengutus beliau dalam hal ini adalah Allah SWT., (3) yang diutus kepada mereka (al‘alamin) serta (4) risalah, yang kesemuanya mengisyaratkan sifat-sifatnya, yakni rahmat yang sifatnya sangat besar, sebagaimana dipahami dari bentuk nakirah/indefinite dari kata tersebut. Terlebih juga dengan menggambarkan ketercakupan sasaran dalam semua waktu dan tempat.

Rasul SAW adalah rahmat, bukan saja kedatangan beliau membawa ajaran, tetapi sosok dan kepribadian beliau adalah rahmat yang dianugerahkan Allah SWT kepada beliau. Ayat ini tidak menyatakan bahwa: “Kami tidak mengutus engkau untuk membawa rahmat, tetapi sebagai rahmat atau agar engkau menjadi rahmat bagi seluruh alam”. Nabi SAW memperoleh anugerah sebagai rahmat, sekaligus menjadi bukti bahwa Allah SWT sendiri yang mendidik dan membentuk kepribadian Nabi Muhammad SAW, sebagaimana sabda beliau: “Addabany robby faahsana ta’diybiy” yang artinya, “Aku dididik oleh Tuhanku, maka sungguh baik hasil pendidikanku”.

Kepribadian beliau dibentuk, sehingga bukan hanya pengetahuan yang Allah limpahkan kepada beliau melalui wahyu-wahyu Alquran, tetapi juga kalbu beliau disinari. Bahkan, totalitas wujud beliau merupakan rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana pengakuan beliau dalam hadis yang diriwayatkan melalui Abu Hurairah, yakni beliau adalah rahmat yang dihadiahkan oleh Allah SWT kepada seluruh alam.

Jangankan manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan pun memperoleh rahmat-Nya. Sebelum Eropa mengenal organisasi pecinta binatang, Rasul SAW telah mengajarkan perlunya mengasihi binatang. Banyak sekali pesan beliau menyangkut hal ini, dimulai dari perintah tidak membebaninya melebihi kemampuannya, sampai dengan perintah mengasah pisau terlebih dahulu sebelum menggunakannya menyembelih (HR. Muslim).

Beliau juga memperingatkan bahwa ada seorang wanita masuk ke neraka karena mengurung seekor kucing hingga akhirnya mati tanpa memberinya makan dan tidak pula melepaskannya mencari makan sendiri (HR. Bukhari dan Muslim melalui Ibn ‘Umar).
Dalam ajaran Nabi Pembawa rahmat itu, terlarang memetik bunga sebelum mekar, karena tugas manusia adalah mengantar semua makhluk menuju tujuan penciptaannya.

Kembang diciptakan antara lain agar mekar, sehingga mengundang lebah datang untuk mengisap sarinya dan mata menjadi senang memandangnya. Bahkan, benda-benda tak bernyawa pun mendapatkan kasih sayang beliau. Ini antara lain terlihat ketika beliau memberi nama benda-benda khusus beliau, seperti pedang beliau diberi nama Dzul fiqar, perisainya diberi nama Dzat al-fadhul, pelananya diberi nama Al-daj, tikarnya diberi nama Al-kuz, cerminnya diberi nama Al-midallah, gelas minumnya diberi nama Ash-shadir, tongkatnya diberi nama Al-mamsyuk, dan sebagainya. Ini semua untuk mengesankan bahwa binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa itu bagaikan memiliki kepribadian yang juga membutuhkan rahmat, kasih sayang dan persahabatan. Ini sekaligus menjadi bukti, bahwa Nabi Muhammad SAW bukan sekadar membawa rahmat bagi seluruh alam, tetapi sekaligus karena beliau mampu membawa Islam yang ramah. Bukankah begitu? Wallahu a’lam…!

*Guru Besar/Direktur Pascasarjana IAIN Jember, Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa dan Ketua Umum MUI Jember.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :