Bukan Mainan, Karena Tak Bisa Dimainkan

SOSIALISASI SAMBIL KOPDAR: Anggota Jember Diecaster (JDC) saat menggelar kopi darat rutin. Kini anggotanya sudah mencapai puluhan.

Di Jember, nama komunitas ini memang terbilang baru. Bahkan untuk sebagian orang masih asing. Tetapi, bagi kalian pecinta miniatur figure ataupun pengkoleksi diecast, komunitas ini tidaklah asing.

Jember Diecaster (JDC) sudah ada di Jember sejak 2015 lalu. Ini merupakan perkumpulan para penggemar ataupun pengkoleksi miniatur diecast. Yakni, semacam miniatur skala kecil sepeda balap, mobil balap, ataupun hot wheels.

“Sebenarnya teman-teman sudah kumpul sejak lama. Tetapi baru di 2015 kami mendeklarasikan diri,” tutur Denza, salah satu founder JDC.

Di JDC sendiri sekarang ini, sudah mencapai puluhan anggota yang aktif. Mereka terus mengadakan kopi darat (kopar), untuk menjalin hubungan silaturahmi. “Anggota kami tidak hanya dari Jember saja. Tetapi ada juga yang dari luar kota, seperti Bondowoso,” imbuh Denza.

Selain itu, dia menekankan jika Diecast ini bukanlah sebuah mainan. Tetapi miniatur. “Karena kalau mainan tidak bisa dimainin. Hanya menjadi pajangan saja,” bebernya, sembari tersenyum.

Saat disinggung mengenai harga, miniatur diecast pun bervariasi. Mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Itu semua tergantung dari merk, bahan, sampai apakah diecast itu limited edition. Contohnya saja, salah satu merk Minichamps yang bisa mencapai jutaan rupiah. “Apalagi kalau di-custom. Bisa dua kali lipat harganya nanti,” imbuhnya.

Selain miniatur sepeda balap, ternyata, ada miniatur tambahan lainnya, yang dapat menunjang harga. Yakni figur. Atau miniatur si pembalapnya. “Jadi kalau ada sepedanya, biasanya juga ada miniatur orangnya. Itu semakin mantap,” terangnya.

Sementara itu Hendro Shu, salah satu anggota JDC, mengaku. Bahwa, awalnya dia beli satu saja diecast. Namun, lama kelamaan, dia menjadi kecanduan. “Beli sekali akhirnya terus terusan. Awal sukanya dari 2014 dulu sampai sekarang,” ucap pria asli Bondowoso ini.

Senada dengan Hendro, Yudhis Anggi, juga gemar dengan dieacast ini. “Jadi beli diecast ini sekalian investasi. Daripada beli emas mending beli ini,” paparnya.

NOBAR MOTO GP : Tak hanya kopdar biasa, komunitas JDC kerap nonton bareng  balap Moto GP.

Kopdar Sekaligus Nobar Moto GP

LATAR belakang kebanyakan anggota JDC memang penggemar motoGP. Mulai dari Valentino Rossi ataupun Marc Marquez. Mereka pun, menuangkan kesenangannya dalam bentuk miniatur diecast. Yakni, miniatur balap motor.

Tak jarang, mereka juga menggelar kopdar rutin. Untuk menyambung silaturahmi, sharing mengenai perkembangan diecast, tukar informasi soal harga diecast, sampai nobar motoGP. “Kopdar kami ya waktu nobar motoGP itu. Tidak bisa dihitung berapa bulan sekali. Yang jelas kalau motoGP main, kami nobar sekaligus kopdar,” kata Yudhis Anggi Yahya, salah satu anggota JDC.

Koleksi beberapa anggotanya pun keren-keren. Mulai dari miniatur sepeda milik Rossi dari masa ke masa. Sampai yang paling gokil, sepeda milik pembalap asal Italia itu yang limited edition. “Harganya pun bervariasi. Semakin limited ya semakin mahal. Apalagi kalau hanya diproduksi 100 biji saja di dunia,” ungkap Yudhis.

SERBA MINI: Anggota JDC juga sering mengadakan sesi foto, dengan objek miniatur diecast yang nantinya bisa diikutkan dalam lomba diecast.

Penghobi Fotografi Miniatur

TERNYATA para anggota JDC ini selain mengkoleksi miniatur sepeda balap motoGP. Mereka juga suka foto-foto.

Ya, motret miniaturnya itu. Tak hanya sekadar di-posting di social media saja. Tetapi diikutkan dalam sebuah lomba. “Malah anggota kami ada yang juara 1 lomba foto diecaster di Jakarta bulan Maret lalu. Fotonya di-share di grup Facebook. Hadiahnya lumayan, dapat diecast seharga Rp 950 ribu,” ucap Yudhis Anggi Yahya.

Dia menambahkan, terkadang bersama rekan-rekannya, kopdar sembari hunting foto. Ambil foto sewaktu dijejer rapi koleksinya. “Hanya dipajang saja, terus di foto-foto. Gitu aja sudah senang,” imbuh Yudhis.

Apalagi, kalau motret dengan niat lebih. Hingga sampai menyerupai foto aslinya. “Jadi seperti Valentino Rossi dengan sepeda balapnya. Ya, fotonya di-setting sedemikian rupa hingga agak mirip,” jelasnya.

IKLAN

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Hadi Sumarsono