Awalnya Sekadar Hobi, Kini Jadi Mata Pencarian

Adi Witono, Pembudi daya Sawi Keriting Sistem Hidroponik

VARIETAS BARU: Adi Witono menunjukkan tanaman sawi keriting yang dia budi dayakan. Penghobi tanaman hidroponik ini mencoba mengenalkan jenis tanaman sawi baru karena dinilai lebih menguntungkan.

RADAR JEMBER.ID – Halaman rumah Adi Witono terlihat hijau. Tanaman sayur jenis sawi banyak tumbuh di pekarangan rumah yang tak begitu luas itu. Jenis sayuran yang biasanya dipakai campuran mi tersebut juga tampak tumbuh subur. Tapi tumbuhnya tidak di atas tanah, melainkan di antara lubang pipa paralon yang dirangkai berjajar seperti anak tangga. Maklum, Adi memanfaatkan lahan rumahnya untuk bertani menggunakan sistem hidroponik.

Menurutnya, hidroponik merupakan budi daya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah. Sistem pertanian model ini menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Menurutnya, kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit ketimbang kebutuhan air pada budi daya dengan tanah.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Jember beberapa waktu lalu, alumnus Fakultas Pertanian Universitas Jember ini terlihat semringah. Wajahnya segar, serupa sawi yang baru disiram. Dia kemudian mengajak untuk melihat-lihat tanaman yang dibudayakan. Ada yang tumbuh masih kecil, tapi ada juga yang sudah siap dipanen. “Sejak 2018 lalu, saya mulai menekuni hidroponik ini. Awalnya hanya suka,” katanya.

Berbeda dengan yang lain, pria yang tinggal di Perumahan Puri Bunga Nirwana, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, ini mencoba mengenalkan sawi keriting. Jenis sawi baru yang mulai digandrungi pencinta hidroponik. Secara fisik, bentuknya nyaris sama dengan sawi biasa. Bedanya, daunnya lebih lebar, batang tanamannya berwarna putih, serta daunnya agak keriting. Oleh karena itu, sawi samhong ini lebih dikenal sebagai sawi keriting. “Saat usia telah 25-30 hari, tanaman ini sudah siap dipanen,” ujarnya.

Awalnya, Adi mengaku menanam sawi jenis biasa. Namun setelah berjalan, dia beralih menanam sawi keriting. Sebab, selain rasanya lebih enak dan gurih, secara ekonomi sawi jenis ini juga lebih menguntungkan ketimbang sawi biasa. Warga lebih menyukai jenis sawi samhong tersebut, sehingga permintaannya cukup tinggi.

Hanya saja, Adi mengutarakan, ketersediaan bibit sawi keriting ini belum banyak tersedia di Jember. Dia sempat berkeliling di sejumlah toko pertanian, namun bibit tanaman ini sulit ditemukan. Oleh karenanya, dia membeli bibit di toko daring (online). “Apalagi sawi samhong ini kurang diminati petani. Jadi, agak susah cari bibitnya,” imbuhnya.

Kendati tanaman sayuran ini belum populer, namun Adi tak perlu susah memasarkannya. Ibu-ibu di perumahan banyak yang suka. Mereka bahkan rela memesan sebelum tanaman itu dipanen. Dengan begitu, Adi tak sampai menjual sayuran bernama latin Brassica sinensis L tersebut ke pasar tradisional. “Untuk memenuhi permintaan warga perumahan saja sudah kewalahan. Karena memang cukup digemari warga di sini,” akunya.

Salah seorang warga setempat, Ida Nursanti mengaku, setelah mencoba sawi jenis baru tersebut, dirinya mulai beralih mengonsumsi sawi keriting. Apalagi, keluarganya cukup menyukai rasa yang dianggap lebih enak. Kendati begitu, Ida sempat ragu untuk memasak sawi samhong, karena memang belum pernah mengenal sayuran itu. “Sekali mencicipi sayuran ini, ternyata rasanya enak. Anak saya pun menyukai, meski harganya sedikit lebih mahal karena ditanam menggunakan hidroponik,” pungkasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Winardyasto

Fotografer : Winardyasto

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti