Pesantren dan Pengembangan Ekonomi Kreatif

Oleh : Prof. Dr. H. Babun Suharto, MM

Sejak diberlakukannya kebijakan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), seluruh sektor kehidupan dituntut untuk meningkatkan kemandirian dan daya saing masyarakat. Salah satu wujud optimisme untuk mewujudkan gagasan baru dalam pengembangan masyarakat yang mandiri adalah industri kreatif. Pengembangan ekonomi dan industri kreatif menjadi penopang untuk mewujudkan Indonesia yang maju. Saat ini, pengembangan ekonomi kreatif menyasar kepada lembaga pesantren. Pesantren diyakini mampu menjadi penopang besar terwujudnya ekosistem ekonomi kreatif. Benarkah demikian? Lalu, apa saja keunggulan pesantren dalam konteks pengembangan ekonomi kreatif?.

Kreatifitas dan Keterampilan Pesantren

Gagasan ekonomi kreatif berkembang dalam konteks menyiapkan generasi masyarakat yang memiliki kualitas hidup tinggi, sejahtera, kreatif, dan bahkan menjadi kreator di bidangnya masing-masing. Ekonomi kreatif mendambakan lahirnya ide-ide cerdas, melahirkan talenta dan kreasi inovatif, menelorkan pengusaha baru, dan mewujudkan sumberdaya yang produktif. Gagasan cemerlang itu diperlukan untuk menghadapi persaingan bebas dalam kancah global.

Kaitannya dengan dunia pesantren, tidak diragukan bahwa dunia pesantren sudah lama mengembangkan kreatifitas dan inovasi yang tak pernah berhenti. Dari sisi kelembagannya, pesantren tampil mengesankan karena mampu bertahan menghadapi tantangan global. Dari sistem pendidikan yang dijalankan, pesantren tak pernah kehabisan metode untuk menyesuaikan dengan pembangunan atau modernisasi pendidikan Islam. Dari sisi infrastruktur, pesantren tak pernah berhenti untuk memperluas akses dan menguatkan relevansi dengan kehidupan masyarakat. Singkatnya, pesantren dapat bertahan (survive) sampai hari ini dengan segala perkembangannya, inovasi, kreasi, dan penguatan keterampilan serta kemandirian. Maka, tidak heran jika Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Republik Indonesia saat ini menyasar pesantren sebagai tempat potensial pengembangan industri dan ekonomi kreatif.

Dalam konteks pengembangan gagasan tentang keterampilan (vocational) di dunia pesantren, sejatinya telah lama dipraktikkan. Tantangan hidup setelah mengenyam pendidikan di pesantren, telah dibaca oleh eksponen pesantren untuk diantisipasi. Karena itu, kemandirian santri menjadi perhatian khusus sehingga lembaga pesantren memperkenalkan dan menyiapkan pelatihan-pelatihan keterampilan yang diharapkan menjadi modal ekonomi kreatif. Dalam sejarahnya, salah satu organisasi Islam yang memberi perhatian khusus pada aspek vocational dalam rangka mempersipkan tenaga handal santri dalam kemandirian ekonomi adalah organisasi Persarekatan Ulama di Jawa Barat. Organisasi ini mendirikan sebuah lembaga yang berbasis kelembagaan pesantren pada tahun 1932 dan kemudian dikenal sebagai “Santri Asrama”. (Azra:1999). Tokoh pendiri Persarekatan Ulama, Haji Abdul Halim kemudian mulai memperkenalkan pelatihan-pelatihan keterampilan, kemandirian, kreatifitas, inovasi, dan pengembangan skill kepada para santri.

Warisan keterampilan yang melekat pada lingkungan pesantren, menjadi titik awal modal besar untuk mengembangkan bakat dan minat serta keterampilan yang berkaitan dengan dunia ekonomi kreatif. Kaitannya dengan hal ini, etos kerja keras menjadi modal utama bagi insan pesantren untuk ikut menyukseskan pemerintah dalam pengembangan ekonomi dan industri kreatif. Mental kemandirian yang dimiliki santri tidak diragukan lagi. Para santri adalah representasi dari keunggulan sumber daya manusia yang memiliki jiwa creative-preneur. Mereka mengembangkan bakatnya melalui seni kerajinan, aspek kewirausahaan, dan seni pertunjukan.

Keunggulan ini ditopang secara kelembagaan oleh pesantren dengan menyediakan unit-unit usaha teknis produktif yang kreatif seperti koperasi pesantren (kopontren), penerbitan, halal lifestyle, fashion, budidaya ternak, sayur-mayur, dan pelbagai jenis kewirausahaan lainnya. Mental inilah yang menjadi kelebihan dunia pesantren untuk selanjutnya digarap dalam pengembangan ekonomi kreatif sebagaimana dicanangkan oleh pemerintah.

Oleh karena itu, sangat tepat jika Bekraf menyasar dunia pesantren sebagai wadah pengembangan ekonomi kreatif yang tidak hanya berputar di perkotaan, melainkan masuk di lingkungan pedesaaan. Sebagaimana diketahui, pesantren didirikan dari dan untuk masyarakat. Pesantren dikenal lebih dekat dengan lingkungan pedesaan. Karenanya, pengembangan ekonomi kreatif di dunia pesantren bukanlah isapan jempol belaka, melainkan modal besar untuk menggaet dan menumbuhkan ekonomi produktif di daerah-daerah pedesaan. Tentu, dukungan dari stakeholder dan pemerintah daerah sangat dibutuhkan.

Prof. Dr. H. Babun Suharto, MM, Rektor dan Guru Besar IAIN Jember

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :