Jadi Instruktur dan Partner Main hingga Bantu Dandan Sebelum Berlaga

Kiprah Tiga Pelatih Muda di Prestasi Wushu Jember

Akhir-akhir ini, atlet junior wushu taolu Jember kerap menyumbang medali. Baik di kejuaraan tingkat provinsi maupun nasional. Ternyata, prestasi ini tak bisa dilepaskan dari tangan dingin para pelatih. Mereka adalah Ifah, Rina, dan Reza. Seperti apa kiprahnya?

BANTU DANDAN: Hodoifah, salah seorang pelatih wushu taolu Jember, merias wajah atletnya sesaat sebelum tampil di kejuaraan.

RADAR JEMBER.ID – Cabang olahraga (cabor) wushu di Jember mulai berkembang pesat. Cukup banyak atlet junior yang menekuni bela diri dan seni asal China itu sejak usia dini. Mereka ikut berlatih wushu taolu, yakni wushu kategori seni.

Para atlet itu tergabung di Wushu Garuda Jember. Mereka setiap hari digembleng dengan metode latihan intensif, mulai dari teknik, fisik, hingga mental bertanding. Bahkan, latihan itu dilaksanakan sepekan penuh, mulai Senin hingga Minggu.

Sebenarnya, wushu taolu hanya menampilkan gerakan jurus yang berdurasi beberapa menit saja saat pertandingan. Meski begitu, latihan rutin tetap digelar setiap hari untuk menggenjot performa para atlet muda. Sebab, latihan intensif seperti ini yang membuat mereka sering meraih prestasi.

Buktinya, di kejuaraan terbuka wushu beberapa waktu lalu di Malang, tim Jember sukses menjadi juara umum. Padahal, pada perhelatan itu yang diturunkan rata-rata atlet junior dan pemula. Namun, berkat kerja keras pelatih, atlet, dan ofisial, rombongan atlet Jember memborong total 24 medali emas untuk dibawa pulang ke Jember.

Keberhasilan itu tak lepas dari peran para pelatih. Di Wushu Garuda Jember, ada tiga pelatih muda yang setiap harinya mendampingi para atlet junior. Mereka adalah Hodoifah, Alifa Novrina, dan Agung Reza. Ketiganya masih berusia 25 tahun ke bawah.

Hodoifa, misalnya, alumnus Universitas Jember (Unej) ini masih berusia 22 tahun. Sementara Alifa Novrina, 21 tahun dan Reza kini berumur 25 tahun. Dua nama terakhir, hingga saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa di FISIP Unej. Kendati tergolong pelatih muda, ketiganya terbukti sukses melatih anak asuhnya.

Lantas apa yang menjadi kunci keberhasilan ketiga pelatih tersebut? Ternyata, mereka tak hanya berperan menjadi pelatih saja, tapi juga merangkap menjadi kawan bercanda, bermain, hingga membantu atlet junior di lapangan. Termasuk memberi saran soal baju atau kostum yang cocok. Bahkan, memberi saran ketika berdandan sebelum tampil. Sebab, penampilan altet dalam kompetisi wushu taolu juga menjadi pertimbangan tersendiri. “Saya bahkan juga sering membantu anak-anak makeup sebelum perform. Merias wajah mereka, briefing, sampai menyiapkan keperluan anak-anak,” ujar Ifa, sapaan akrab Hodoifah.

Ketiganya sudah terjun menjadi pelatih muda wushu sejak 2015 silam. Bahkan, mereka sempat menjadi asisten pelatih dari Lei Beng, pelatih asal China yang sempat melatih klub Wushu Garuda Jember, beberapa tahun lalu. “Kali pertama yang menjadi asisten adalah Mas Reza, setelah itu Ifa, lalu saya,” ungkap Rina, panggilan Alifah Novrina, saat ditemui Radarjember.id.

Kini, wushu Garuda Jember juga kembali mendatangkan satu pelatih jebolan PON Jawa Timur. Yakni Coach Wandy Tandun dari Surabaya. Dia hanya melatih dua hari saja dalam tiap pekan. Selebihnya, ketiga pelatih muda inilah yang menangani anak-anak. “Beda pelatih tentu beda metode latihan dan programnya. Teknik cara mengajarnya juga berbeda. Bahkan, kami bertiga pun beda-beda kalau melatih anak-anak,” jelas Reza, saat ditemui di sela-sela latihan rutin di GOR Garuda Kaliwates.

Ketiga pelatih tersebut memang mantan atlet wushu. Namun, saat mereka masih menjadi atlet, perkembangan cabor wushu di Jember belum begitu pesat. “Saya dulu diajak orang tua ikut wushu ini. Lama-kelamaan kok senang,” tutur Reza.

Sama dengan Reza, mulanya Ifa juga dipaksa orang tuanya ikut karate. Itu karena orang tua Ifa merupakan atlet karate. Tapi, karena tidak suka ke karate, akhirnya dirinya memilih wushu. Sedangkan cerita Rina, awal mengenal wushu karena saudaranya. “Awalnya adik saya dulu yang ikut wushu. Baru saya. Lama-kelamaan jadi suka,” kata Rina.

Kini, selain menjadi pelatih, Rina dan Reza juga menjadi juri wushu taolu tingkat provinsi hingga nasional. Reza sudah bertugas menjadi juri dalam Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) dan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 2019. Sementara itu, Rina sudah menjadi juri di ajang Pekan Olahraga Pelajar Provinsi (Porprov) serta Kejurprov 2019. “Sekarang ini kenapa banyak anak-anak usia dini yang ikut wushu, karena berbagai faktor. Termasuk faktor prestasi yang sudah ditorehkan wushu Jember. Jadi, mereka ingin masuk wushu,” ucap Reza. (*)

IKLAN

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Mahrus Sholih