Jangan Menjadi Leprofobia

Oleh: dr. Michael Hostiadi

APA itu leprofobia? Kenapa jangan menjadi leprofobia? Apa dampak menjadi leprofobia? Bagaimana agar tidak menjadi leprofobia?

Leprofobia adalah rasa takut terhadap penyakit lepra/kusta. Menurut WHO saat ini Indonesia masih menjadi penyumbang kasus lepra/kusta nomor 3 terbanyak di dunia, setelah India dan Brasil. Lepra atau kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang menyerang kulit, saraf tepi, jaringan dan organ tubuh lain (kecuali otak) dan dapat menimbulkan kecacatan.

Meskipun tergolong ke dalam penyakit menular, lepra merupakan penyakit yang tidak mudah menular, karena diperlukan kontak erat secara terus menerus dan dalam waktu yang lama dengan penderita. Selain itu yang penting kita perlu ketahui juga bahwa Mycobacterium leprae ini mempunyai patogenitas (proses berjangkitnya penyakit yang dimulai dari permulaan terjadinya infeksi sampai dengan timbulnya reaksi akhir) dan daya invasi yang rendah, sebab penderita yang mengandung kuman lebih banyak belum tentu memberikan gejala yang lebih berat, bahkan dapat sebaliknya.

Ketidakseimbangan antara derajat infeksi dan derajat penyakit, tidak lain disebabkan oleh respon imun yang berbeda. Oleh karena itu penyakit lepra dapat disebut sebagai penyakit imunologik (kekebalan (daya tahan) tubuh terhadap infeksi dan penyakit). Gejala klinis lebih sebanding dengan tingkat imun tubuh seseorang daripada intensitas (keadaan tingkatan atau ukuran) infeksinya. Penyakit lepra sebenarnya dapat disembuhkan tanpa cacat bila penderita ditemukan dan diobati secara dini.

Kenyataannya, penyakit lepra/kusta seringkali ditemukan terlambat dan sudah dalam keadaan cacat yang terlihat. Pada dasarnya, terdapat dua tingkatan kecacatan penyakit lepra saat ditemukan, yaitu tingkat I dan II. Kecacatan tingkat I adalah cacat yang belum terlihat atau belum ada perubahan pada anatomimya (struktur organ tubuh). Sementara kecacatan tingkat II adalah sudah terjadi perubahan yang nampak pada anatomi penderita lepra.

Kecacatan yang nampak pada tubuh penderita lepra/kusta seringkali tampak menyeramkan bagi sebagian besar masyarakat sehingga menyebabkan perasaan jijik, bahkan ada yang ketakutan secara berlebihan terhadap penyakit lepra (leprophobia). Pada penderita lepra yang sedang dalam masa pengobatan atau telah menyelesaikan rangkaian pengobatannya, dinyatakan sembuh dan tidak menular, status predikat penyandang lepra tetap dilekatkan pada dirinya seumur hidup. Bahkan sebagian masyarakat masih berpendapat bahwa penyakit lepra/kusta ini merupakan penyakit keturunan (menderita atau mendapat penyakit yang menurun dari generasi sebelumnya). Inilah yang seringkali menjadi dasar permasalahan psikologis para penyandang lepra/kusta. Rasa kecewa, takut, malu, tidak percaya diri, merasa tidak berguna, hingga kekhawatiran akan dikucilkan (self-stigma). Hal ini diperkuat dengan opini masyarakat (stigma) yang menyebabkan penderita lepra/kusta dan keluarganya dijauhi bahkan dikucilkan oleh masyarakat bahkan keluarganya sendiri yang kurang memahami tentang penyakit lepra akan menjauhi, sehingga masyarakat maupun keluarga harus berusaha lebih dalam usaha meningkatkan pemahaman tentang penyakit lepra. Karena seperti yang telah disebutkan di atas bahwa lepra merupakan penyakit imunologik dimana dengan adanya rasa leprofobia, stigma dan diskriminasi dari masyarakat maupun keluarga dapat mempengaruhi status imun seorang penderita lepra yang akhirnya mempengaruhi tingkat penyakit lepra yang sedang di alami. Selain itu stigma dan diskriminasi seringkali menghambat penemuan kasus lepra secara dini, pengobatan pada penderita, serta penanganan permasalahan medis yang dialami oleh penderita maupun orang yang pernah mengalami lepra/kusta.

Stigma leprofobia ini ternyata tidak terdapat hanya pada masyrakat awam saja, namun sebagian kecil juga terdapat pada pekerja kesehatan juga punya stigma seperti ini, yang dapat menyebabkan permasalahan dalam pemberantasan penyakit lepra/kusta tidak berjalan dengan semestinya.

Karena itu, dalam upaya menghilangkan rasa leprofobia, stigma, dan diskriminasi, dibutuhkan motivasi dan komitmen yang kuat baik dari penderita, keluarga, masyarakat dan pekerja kesehatan diharapkan dapat mengubah pola pikirnya serta dapat lebih memahami tentang penyakit lepra/kusta, sehingga dapat berdaya untuk menolong diri mereka sendiri, bahkan orang lain. Mudah-mudahan ke depan ini stigma leprofobia dapat berangsur-angsur berkurang bahkan hilang sehingga penderita penyakit lepra/kusta tidak merasa malu, dan dapat memudahkan pengobatan serta penemuan kasus lepra baru secara dini.

*) Penulis adalah dokter magang Poli Kulit dan Kelamin RSUD Soebandi Jember.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :