Balita yang Ditemukan Bersama Jasad Sang Bapak

Bangun Tidur Panggil Ayah

KEMBALI STABIL: Kini kondisi N mulai stabil. Balita 14 bulan itu sempat dirawat Anik Nur Asisa, 40, tetangga korban di Perumahan Kaliwining Asri Blok C-10.

RADAR JEMBER.ID – Selepas azan Subuh, Anik Nur Asisa terenyuh ketika melihat bocah merangkak menuju suaminya yang sedang tertidur. Lamat-lamat, perempuan 40 tahun itu mendengar balita perempuan itu memanggil sebuah nama. Tiba-tiba tubuhnya menggigil, bulir air menetes begitu saja dari sudut-sudut matanya.

Keharuan meliputi Anik. Dia masih teringat ketika, N, balita berusia 14 bulan itu, ditemukan bersama jenazah ayahnya yang diduga telah meninggal tiga hari sebelumnya. Saat ditemukan, bocah itu tengah memeluk jasad sang ayah yang mulai melepuh. Tubuh korban juga menghitam. Ada cairan yang menetes dan mengeluarkan aroma tak sedap.

Sehari setelah ditemukan terkunci di dalam rumah bersama jenazah sang ayah, kondisi N mulai membaik. Dia dirawat oleh tetangganya, Anik Nur Asisa, di Perumahan Kaliwining Asri Blok C-10, tak jauh dari rumah keluarganya. Di kediaman itu, N dirawat dengan baik. “Anaknya sudah bisa makan dan minum susu cukup banyak. Saat ini sudah kembali stabil karena bisa makan dan minum susu,” ujar Anik, kepada Radarjember.id, kemarin (15/8).

Warga yang penasaran dengan keadaan bocah itu terlihat berdatangan. Mereka memadati rumah Anik, perawat bocah yang ditemukan Rabu (14/8) sore, di dalam kamar bersama jasad ayahnya yang diduga telah meninggal selama tiga hari.

Menurut Anik, sejak ditemukan di dalam kamar bersama jasad sang ayah, Aan Junaidi (sebelumnya tertulis nama panggilan, Fauzi), 40, bocah itu terlihat masih trauma. Bahkan, tubuhnya menolak ketika disuapi makanan dan diberi susu. Semua yang dimasukkan ke mulutnya, kembali dimuntahkan. “Tapi setelah dirawat semalam hingga pagi, anaknya sudah bisa diajak bicara,” katanya.

Menurut Anik, saat malam hari, bocah itu sempat rewel. Dia menengarai, karena masih ingat dengan mendiang bapaknya. sebab, sejak enam bulan terakhir, anak itu memang tinggal berdua bersama ayahnya. Sementara sang ibu bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di Taiwan.

Bahkan, saking dekatnya dengan mendiang sang ayah, anak itu sempat mencari keberadaan bapaknya tersebut ketika bangun di pagi hari. Dia belum memahami jika orang tua laki-lakinya tersebut telah meninggal. “Pagi sekitar pukul 04.30, dia terbangun lalu memanggil ayahnya sambil melangkah menuju suami saya yang sedang tidur. Mungkin dia mengira suami saya adalah ayahnya,” ujar Anik.

Sebelum ibunya berangkat ke Taiwan menjadi TKW, Anik mengungkapkan, anak itu akan dia rawat seperti buah hati sendiri. Namun, niatan itu belum terwujud, karena mendiang korban cukup telaten merawat anaknya itu.

Anik kembali mengingat kala anak itu ditemukan memeluk jasad sang ayah. Pada dua telapak kakinya, ada bintik-bintik merah dan melepuh akibat cairan tubuh jenazah bapaknya selama di dalam kamar. Selama tiga hari, bocah itu ditengarai tidak menerima asupan makanan atau minuman. Diketahui bahwa Fauzi telah tiada, setelah anak itu menangis dan warga mencium aroma busuk yang menyengat dari rumah korban.

Suami Anik, Sugiatmo, 60, menuturkan, semula dia dan istrinya tak curiga bahwa korban telah meninggal. Sebab, Sabtu (10/8) sore, korban masih keluar rumah bersama putrinya terebut. Bahkan, malam itu juga korban masih bersama warga mengikuti tasyakuran. “Dan sempat diberi nasi berkatan,” tuturnya.

Kanit Reskrim Polsek Rambipuji Aipda M Slamet menerangkan, karena istri korban menjadi TKW sejak enam bulan lalu, maka korban menjadi ayah sekaligus ibu bagi anaknya tersebut. Korban kerap berbelanja ke pedagang sayur yang keliling di perumahan. Bahkan, empat hari sebelum ditemukan meninggal, korban masih terlihat membeli daging ayam ke pedagang yang biasa datang ke perumahan. “Sebelumnya, anak korban ditemukan lemas memeluk jenazah ayahnya. Selama tiga hari dia terkurung di dalam rumah tanpa makan dan minum,” terang Slamet.

Menurut dia, setelah dilakukan koordinasi dengan istri korban di Taiwan, jenazah korban langsung dijemput keluarganya untuk dimakamkan di Banyuwangi. Namun sejauh ini, polisi masih belum mengetahui penyebab pasti kematian korban. “Yang jelas, saat ditemukan meninggal di dalam kamar kondisi rumahnya terkunci dari dalam. Sementara anak semata wayang korban juga terkurung di dalam kamar yang sama,” pungkas Slamet. (*)

IKLAN

Reporter : Jumai

Fotografer : Grafis Reza

Editor : Mahrus Sholih