Atasi Stunting, Bhayangkari Luncurkan Aplikasi Si Canting

PEDULI BALITA: Ketua PC Bhayangkari Jember Cut Laura Kusworo Wibowo meluncurkan aplikasi berbasis android Si Canting. Aplikasi ini bertujuan untuk menekan tingginya angka balita stunting yang saat ini menjadi problem nasional.

RADARJEMBER.ID, JEMBER- Memperingati Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke 67, Pengurus Bhayangkari Cabang Jember meluncurkan aplikasi Si Canting, Jumat (16/8). Ini sebagaia wujud empati dan kepedulian mereka untuk ikut memberantas stunting.

Launching Si Canting diresmikan Ketua PC Bhayangkari Jember Cut Laura Kusworo Wibowo. Si Canting merupakan buku saku pintar berbasis android pencegah anak stunting. Cut Laura kepada wartawan mengatakan, ini adalah bentuk empati dari seorang ibu khususnya ibu-ibu Bhayangkari melihat kondisi belakangan ini.

“Stunting sudah menjadi pembahasan nasional. Kita ketahui bersama bahwa ini adalah kondisi dimana anak gagal tumbuh seperti usianya, kita lihat tinggi dan berat badannya tidak normal. Dan tentunya ini berkaitan dengan gizi yang diperoleh si anak,” ujar Cut Laura.

Cut Laura menjelaskan, peluncuran aplikasi ini bertujuan ingin mendengar dan mengetahui info stunting untuk masyarakat di Jember. Terutama masyarakat yang ada di wilayah Kecamatan Jelbuk. “Ini sudah menjadi pembahasan nasional, karena banyak sekali anak-anak stunting di sana,” ujarnya.

Menurut Cut Laura, terjadinya stunting tidak terlepas dari kurangnya edukasi kepada masyarakat. Biasanya, seorang ibu membekali anaknya dengan nasi dan ayam, mereka pikir itu sudah cukup gizi padahal tidak.

“Yang kita tekankan di sini adalah bukan makanan bermerek atau mahal, tetapi yang isinya mencakup ada vitamin A, B, dan C,” ujarnya. Laura menyebut dengan nasi, tahu, tempe, sayur dan susu, menurutnya sudah sesuai komposisi.

Untuk mengatasi stunting, ke depan para Bhayangkari berencana mengunjungi setiap kecamatan untuk memberikan edukasi dan mengenalkan aplikasi Si Canting serta penggunaan cara memakainya.

“Kalau si anak ternyata kategori stunting di situ ada penjelasannya bagaimana caranya mengatasi atau mencegahnya. Caranya mudah, kita masukkan data dari anak seperti umur, berat badan, tinggi badan. Nanti akan terlihat di situ masuk kategori stunting atau tidak,” pungkas Laura.

Peluncuran Si Canting mendapat apresiasi dari Dinas Kesehatan Jember. Dwi Handarisasi, Kasi Keluarga Gizi dan Masyarakat pada kantor Dinas Kesehatan Jember mengatakan, aplikasi tersebut membantu untuk memantau status gizi balita dan anak. “Nilai plus dari aplikasi ini, tidak hanya memantau gizi, tetapi juga memecahkan masalah gizi,” ujarnya.

Dari data Dinas Kesehatan Jember ada delapan kecamatan masuk lokus stunting. Di antaranya Kencong, Jelbuk, Kalisat,Panti, Ledokombo, Gumukmas. Dwi Handarisasi menyebut, masyarakat ekonomi menengah ke bawah menjadi penyumbang terbanyak stunting. Kendati demikian, kelas menengah ke atas juga tidak lepas dari masalah stunting. Alasannya, ada pada perilaku pola asuh yang salah dari orang tua.

“Tidak hanya sekadar memantau status gizi balita tetapi juga dilengkapi dengan saran. Kemudian permasalahan yang ada pada balita itu apa dan apa yang harus dilakukan oleh ibu ketika balitanya bermasalah,” ujarnya.

Tahun 2014 dari dari pemantauan status gizi balita di posyandu oleh Pemprov Jatim, kata dia, angka stunting memang tinggi di atas 41% dari jumlah total anak. Tapi dari hasil survei operasi timbang Februari 2019 angkanya sudah turun di 11%. “Angka pastinya sekitar 17.000 balita dan ini menjadi PR besar kita,” ungkapnya.

Diluncurkannya aplikasi Si Canting ini, Dwi Handarisasi optimistis, permasalahn stunting di Jember bisa berkurang. “Karena tidak hanya mendeteksi tetapi juga memberikan solusi dalam memecahkan stunting,” pungkasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Jumai

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih