Tata Kelola Sampah Memburuk

RADAR JEMBER.ID – Kerusakan alat berat ekskavator (backhoe) di TPA Pakusari menunjukkan bahwa tata kelola sampah perlu menjadi perhatian serius. Sebab, sampah tak bisa masuk ke lokasi utama. Dampaknya, sampah dibuang tanpa melewati timbangan lagi. Bila dibiarkan berlarut-larut, berpotensi memperburuk tata kelola sampah.

Khoiron Mks MSc, dosen Kesehatan Lingkungan dan Keselamatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Jember (FKM Unej), menjelaskan, tata kelola sampah membutuhkan empat pilar. Yaitu adanya payung hukum yang jelas, organisasi yang fokus menanganinya, teknis operasional, serta partisipasi masyarakat. “Nah, di Jember ini belum ada perda yang khusus mengatur sampah. Kemudian, organisasinya seperti UPT (unit pelaksana teknis) yang fokus mengurus sampah juga tidak ada. Selayaknya dua hal itu difokuskan juga,” jelasnya.

Berkaitan dengan kerusakan alat berat di lokasi TPA, Khoiron menyebutnya masuk pada teknis operasional. Dikatakannya, alat berat di TPA harus selalu ada dan siap dioperasikan saat dibutuhkan. “Apalagi, sampah itu setiap hari ada. Kalau rusak seperti ini, tentu sampah tidak akan tertangani,” tambahnya.

Diuraikannya, penanganan sampah pada TPA yang dimaksud yaitu sampah yang baru dibuang harus diratakan menggunakan alat berat. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. Jika tidak, maka sampah yang dibuang dari truk akan mudah menggunung dan membuat truk pengangkut sampah tak bisa masuk ke lokasi utama pembuangan sampah.

Kerusakan alat berat berpotensi membuat pengelolaan sampah di TPA tidak sesuai aturan undang-undang. Kondisi sampah yang tidak bisa diratakan berpotensi menjadi wabah penyakit, karena penanganan penimbunan juga tak bisa dilakukan. “Kalau sampah dibiarkan menumpuk begitu saja, maka lalat akan semakin banyak. Belum lagi kalau musim hujan, air lindi sampah juga bisa meluber ke mana-mana,” ucapnya.

Kondisi TPA Pakusari yang saat ini dihadapkan pada kerusakan sejumlah alat, semakin memperbanyak tantangan pengelolaannya. Apalagi, sistem controlled landfill (sampah dibuang, diratakan, dan ditimbun tanah, Red), juga sudah berhenti cukup lama. Sehingga, pengelolaan sampah di TPA akhir kian mengkhawatirkan.

“Sistem controlled landfill itu kan sampah-sampahnya harus diratakan, kemudian ditimbun. Nah, TPA Pakusari beberapa waktu terakhir sudah tidak ditimbun, kemudian sekarang alatnya rusak. Maka, kalau dibiarkan dalam waktu lama, akan pasti menimbulkan penyakit,” tegasnya.

Untuk itu, salah satu langkah cepat yang harus diambil pemerintah menurutnya harus melakukan perbaikan alat atau melakukan pengadaan alat baru. “Tanpa ada alat, maka pengelolaan sampah di TPA tidak akan bisa teratasi. Karena alat berat itu harus siap sedia di TPA,” tandasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Grafis Reza

Editor : Bagus Supriadi