Geger Politisasi Doa

Oleh: Moh. Mahrus Hasan

UMAT Islam, khususnya di Indonesia, sedang berduka dan merasa kehilangan. Salah satu ulama Indonesia wafat di tanah suci. Ya, KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen), berpulang ke hadirat-Nya pada Selasa, 6 Agustus 2019 M/4 Dzulhijjah 1440 H, saat beliau sedang berada dalam rangkaian menunaikan ibadah haji tahun ini. Lantunan doa umat muslim pasti dipanjatkan untuk almarhum, khususnya doa saat dilakukan prosesi pemakamannya.

Lalu, di jagad pemberitaan, utamanya media sosial, muncul kesimpangsiuran informasi siapakah yang memimpin doa saat pemakaman jenazah kiai pengasuh pesantren Al-Anwar Sarang Jawa Tengah di kompeks Jannatul Ma’la Mekkah al-Mukarramah itu. Ada yang mengklaim bahwa Habib Rizieq Shihab-lah yang memimpin doa saat itu. Kemudian bantahan dilontarkan dengan menjelaskan bahwa yang sebenarnya memimpin doa adalah Sayyid Ashim bin Abbas bin Alawi Al-Maliki, keponakan Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki yang masyhur itu.

Mengapa perihal siapa pemimpin doa itu menjadi polemik yang sangat menggegerkan? Jawabannya adalah karena masing-masing pihak (pengunggah informasi di media sosial dan pihak yang membantahnya) menilai informasi tentang pembacaan doa tersebut dari kepentingan politis yang berseberangan, khususnya perseteruan kedua belah pihak pada ajang pilpres 2019 yang rupanya masih belum berakhir.

Bagi satu pihak, dengan mengunggah informasi pemimpin doa tersebut seolah-olah ingin menunjukkan kepada publik bahwa Habib Rizieq turut bersimpati dan berempati dengan wafatnya Mbah Moen, yang dibuktikan dengan kehadirannya saat prosesi pemakaman. Terlebih, dibuat narasi bahwa Habib Rizieq-lah yang memimpin doanya. Sedangkan di pihak lain yang membantah informasi tersebut seakan semakin menunjukkan ketidaksukaannya jika disebutkan pemimpin doa tersebut adalah orang yang disebut oleh pihak pengunggah informasi.

Sebelumnya, seorang politisi juga sempat menggegerkan publik dan menjadi sorotan warganet gara-gara cuitannya di media sosial mengenai doa. Ini pun ada sangkut pautnya dengan Mbah Moen yang menerima kunjungan salah satu kandidat presiden di pilpres 2019 bersama para petinggi parpol pendukungnya. Dalam kesempatan itu, entah mengapa Mbah Moen menyebut nama kandidat lawan dalam rangkaian doanya. Padahal jelas-jelas kandidat yang diharapkan untuk didoakan kemenangannya itu berada di sisi Mbah Moen. Oleh sebab itulah, politisi tersebut menyindirnya dengan menyebut salah sebut nama itu dengan “Doa yang Ditukar”.

Masih tentang politisasi doa, bahwa ada juga doa yang dinilai meniru doa Nabi Muhammad saat perang Badar (perang yang sangat menentukan bagi keberlangsungan Islam selanjutnya). Di antara isi doa yang dipanjatkan dalam sebuah forum politik itu adalah “…jangan Engkau tinggalkan kami, dan menangkan kami, karena jika Engkau tidak menangkan kami khawatir ya Allah, kami khawatir ya Allah, tak ada lagi yang menyembah-Mu…”. Kentara sekali bahwa dalam doa ini terselip politisisasi serta sangat menyinggung keimanan dan ketakwaan pihak lawan terhadap Tuhan. Seolah-olah hanya pihak yang berdoa sajalah yang paling beriman dan bertakwa, dan pihak lawan adalah yang durhaka dan durjana. Seakan yang berdoa itu bisa melihat masa depan bangsa Indonesia yang tidak akan menyembah Tuhan lagi jika pihak lawan yang menang. Doa tersebut sempat viral dan menggegerkan publik.

Kemudian, karena doa agar capres mereka menang dalam pilpres 2019 ternyata tidak terkabul, lalu dikatakan oleh pihak lawan (pendukung capres yang terpilih) bahwa doa mereka diterima dalam bentuk yang lebih baik. Itu pun mereka (pendukung capres yang tidak terpilih) salah memahaminya. Maka, timbul lagi perdebatan di antara dua pihak itu. Sekali lagi, politisasi doa akan menimbulkan geger. 

Itulah tiga doa yang sarat dengan nuansa politis yang menggegerkan publik. Menelaah politisasi doa seperti yang dipaparkan di depan itu mengingatkan saya pada dawuh-nya Gus Mus (KH. A. Mustofa Bisri) bahwa bagaimana Tuhan akan mengabulkan doa kita, sedangkan cara berdoa yang benar saja kita belum tahu. Maka, cobalah untuk berdoa seperti yang diajarkan oleh Nabi, yakni doa yang tidak diketahui oleh pihak yang didoakan. Doa yang demikian itu, selain diamini oleh malaikat, juga rasanya lebih aman dari penilaian orang, dan yang pasti tidak bisa dipolitisasi.

Selanjutnya, tentu kita berharap tidak ada lagi politisasi doa. Dan saya sangat setuju dengan imbauan yang menyerukan, “Mari hentikan perdebatan siapa sesungguhnya yang memimpin doa saat pemakaman Mbah Moen (Allah yarham). Yang penting itu adalah tersambungnya hati dengan Sang Khaliq saat mendoakan beliau. Lebih penting lagi, kami para santri bisa terus meneladani dan melanjutkan perjuangan Mbah Moen.”

*) Penulis adalah pembina Majalah Pendidikan “Al-Mashalih” MAN Bondowoso dan pembina ekskul KIR/literasi “Sabha Pena” MAN Bondowoso.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :