Bikin Aksi Joget Bersama hingga Gelar Bakti Sosial

Kiprah KTMC, Komunitas Penghobi Miniatur Truk di Kencong

Hobi memang membawa keasyikan tersendiri. Seperti yang dilakukan anggota komunitas Kencong Truk Miniatur Community (KTMC). Bahkan, keasyikan para penggemar miniatur truk ini tak hanya pada bentuk replika kendaraan yang lengkap dengan pengeras suaranya, tapi mereka juga bikin aksi berjoget bersama untuk menghibur masyarakat.

JOGET BARENG: Dua anak anggota KTMC terlihat sedang bermain miniatur truk saat acara Pandhalungan di Dira Kencong, beberapa waktu lalu. Selain bisa dipakai bermain, miniatur truk ini juga dilengkapi seperangkat sound sytem dan lampu LED.

RADAR JEMBER.ID – Dentuman suara gendang dari alunan musik dangdut membuat badan ingin bergoyang. Begitulah rasanya penonton saat melihat pergelaran Pandhalungan Kencong yang digelar oleh Jawa Pos Radar Jember dan Dira Kencong, beberapa waktu lalu. Rupanya, kehebohan itu tak hanya di atas panggung. Justru tepat di depan pentas ada aksi joget bersama yang menjadi hiburan tersendiri.

Aksi joget serempak itu dilakukan para remaja berkaus hitam-hitam. Mereka datang membentuk barisan dan menari bersama. Bahkan, gerakannya juga seirama. Saat salah seorang yang berada di depan bergerak ke kanan, mereka semua ikut ke kanan. Kala balik badan, mereka juga balik badan. Begitulah gerakan itu dilakukan berulang-ulang, seperti tarian Poco-Poco.

Saat musik berhenti, mereka membubarkan diri. Tapi ternyata, keasyikan para remaja tersebut tak berhenti di situ saja. Jauh dari panggung utama, mereka kembali berjoget bersama dengan gerakan kompak. Tapi musiknya tak berasal dari pentas lagi, melainkan suara sound system dari miniatur truk yang dihias sedemikian rupa. Lantunan dangdut yang mengalun, membuat mereka kembali happy.

Malam itu, miniatur truk yang mengiringi lagu ini jumlahnya cukup banyak. Bahkan, lokasi joget yang disinari pancaran lampu LED yang terpasang di replika kendaraan pengangkut itu. Seolah disulap menjadi tempat hiburan mendadak. Semua orang tampak riang gembira. Seperti tak ada kesedihan dan duka yang hinggap di hati mereka.

Orang yang cuma melihat sekilas tak akan mengira lantangnya suara musik itu berasal dari truk berukuran kecil. Tapi jangan salah, walau berupa miniatur, truk itu didesain sedemikian rupa seperti aslinya. Bahkan, detail hingga ornamen dan cat di bak truk juga mirip sekali. Peranti sound system yang dipasang juga berkualitas oke. Ternyata, miniatur itu bukan produksi pabrikan, tapi kreasi dari anak-anak yang tergabung dalam Kencong Truk Miniatur Community (KTMC) itu sendiri.

Nova, salah seorang anggota KTMC mengatakan, komunitas ini berdiri sejak 2018 lalu. Meski baru setahun, tapi anggotanya sudah mencapai puluhan. Tercatat sekitar 50 orang yang sudah bergabung di komunitas penghobi tersebut. “Jadi, di KTMC ini tidak ada ketuanya siapa. Semua anggota ini sama,” katanya.

Remaja asal Kencong ini mengaku, awal berdirinya KTMC karena di daerah tempat tinggalnya mulai banyak orang yang suka dengan miniatur truk. Ide awalnya, selain komunitas serupa juga telah banyak berdiri di sejumlah daerah seperti di Lumajang, pembuatan miniatur truk tersebut juga berangkat dari hal yang tak disengaja untuk memanfaatkan limbah kayu. “Awalnya ya ambil limbah kayu dari sisa bangunan. Karena ada kayu yang kualitasnya bagus, kemudian punya ide bagaimana membuat miniatur truk,” ujarnya.

Dia menambahkan, sebelum ada komunitas, mereka membuat miniatur itu secara autodidak. Tapi setelah terbentuknya KTMC, setiap anggota bisa saling berbagi pengalaman dan ilmu mengolah kayu hingga masing-masing bisa membuat miniatur truk sendiri.

Menurut Nova, saat dirinya membuat miniatur truk, hasil pertamanya hanya biasa-biasa saja. Tak dilengkapi sound system maupun lampu LED. Beragam aksesori itu kemudian dilengkapi secara berkala. Bahkan, ada yang sampai direnovasi agar mirip seperti aslinya. Limbah aluminium juga dimanfaatkan sebagai bahan tambahan agar tampak serupa dengan truk asli. “Untuk menyelesaikan satu truk, total waktu yang dibutuhkan paling tidak dua bulan,” jelasnya.

Seiring waktu dengan seringnya membikin acara kecil di desa-desa, minat para pencinta miniatur truk mulai banyak. Jumlah anggotanya juga kian bertambah. Banyaknya orang yang tergabung kian menambah ide untuk membuat miniatur yang lebih bagus, unik, nyentrik, maupun mirip seperti aslinya.

Belakangan, kreativitas mereka tak hanya menjadi ruang menyalurkan hobi semata. Terkadang juga mendatangkan keuntungan. Sebab, saat truk KTMC parade, sering ada orang yang menawar miniatur tersebut. “Banyak juga yang mau beli. Ada yang nawar Rp 800 ribu, ada juga yang sampai jutaan rupiah,” papar Nova.

Tingginya harga setiap unit miniatur truk, kata Nova, lantaran setiap truk ada sound system. Peranti pelantang suara musik itu memang tergolong mahal. Kendati begitu, kehadiran miniatur truk bermusik ini disukai banyak orang, karena dianggap menghibur. “Dari dentuman musik inilah, kemudian muncul gerakan joget bersama-sama. Sehingga biar lebih menarik, koreografinya dibikin serempak,” ujarnya.

Nova mengaku, dampak adanya KTMC di anak-anak Kencong juga terasa. Tak hanya sebagai wadah menyalurkan hobi, tapi juga meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Kala Ramadan lalu, komunitas ini juga beberapa kali membagikan takjil ke masyarakat. “Agar komunitas ini juga bermanfaat untuk orang lain, ke depan kami ingin membuat kegiatan bakti sosial yang rutin digelar secara periodik,” tukasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih