Internet Lancar, Jualan tambah Mengakar

POTENSI DESA: Kopi milik Rosyidi yang sudah dijual ke berbagai daerah melalui penjualan online.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kecanggihan teknologi menembus dinding pelosok desa. Banyak warga  yang menggantungkan usahanya pada sinyal internet. Mereka memulai usaha dengan cara menjual produk desa secara daring.

Kopi yang berada di kaki Gunung Raung ini sudah menembus batas kota. Tak hanya di dikenal di Jember, namun sudah tersebar di sejumlah daerah di Nusantara. Internet memperkenalkan produk tersebut dengan cepat.

Rosyidi, salah satu petani kopi di Dusun Juroju, Desa Sumbersalak Kabupaten Ledokombo terus bergerak meningkatkan perekonomian. Hasil kopi yang dipanen tak lagi dijual secara mentah. Namun dikemas dengan  baik dan dijual secara daring.

Baik melalui media sosial, marketplace ternama, hingga membuat website sendiri. Dia benar-benar menikmati proses menjual dagangannya secara daring. Meskipun tinggal di daerah pelosok, yakni di kaki gunung raung, jualannya terus berkembang.

“Kebun kopi saya sekitar satu hektare, satu kali panen dapat sekitar dua ton,” katanya. Sebelumnya, dia menjual kopi tersebut secara glondongan, sehingga penghasilan tidak terlalu banyak. Maklum, orang tuanya tidak mengerti tentang teknologi.

Namun, ketika Rosyidi selesai kuliah dari Universitas Islam Negeri  Malang, lalu pulang kampung. Dia mulai merubah cara menjual kopi. Yakni dengan memanfaatkan teknologi dan kecepatan internet yang tersedia.

“Ketika pulang, saya  punya ide agar harga kopi tidak murah,” akunya. Saat itu, tahun 2014, dia mulai belajar tentang cara mengolah kopi. Dia goreng sendiri secara manual, lalu dijual. Awalnya, tak ada yang mau membeli karena belum dikenal.

Dia tak kehilangan akal, berinovasi dengan membuat kemasan dan logo yang menarik untuk produk kopinya.  Lalu dipromosikan secara daring di media sosial. Hasilnya, banyak yang tertarik dengan produk kopinya.  “Satu kilogram saya jual Rp 65 ribu, ternyata laku,” ujar alumni Ponpes Nurul Jadid itu.

Saat itulah, Rosyidi mulai semakin semangat untuk menjual kopinya secara daring. Lokasi yang jauh dari kota tak membuat dirinya patah semangat. Yang penting,  tidak kehabisan paket data dan tidak kesulitan sinyal untuk memasarkan produknya.

“Selain itu, saya juga jual ke beberapa kafe yang ada di Malang, Jember dan Surabaya hingga Bali,” akunya.  Permintaan terus meningkat, dia juga merambah dengan membuka lapak di marketplace hingga menjual produknya di website yang dibuatnya sendiri.

Satu bulan, Rosyidi mampu menjual minimal 20 kilogram kopi. Kecanggihan teknologi dan kecepatan internet telah membantunya dalam menjual kopi. Tanpa sinyal yang baik, usahanya bisa terganggu. “Produk semakin mudah dilihat oleh orang kapanpun dan dimanapun,” tuturnya.

Pilihan memasarkan sendiri produk kopi karena melihat potensi yang cukup besar. Apalagi, memiliki lahan kopi sendiri, sehingga mengelola dari hulu ke hilir.  Selain itu, akses internet juga cukup baik meskipun tinggal di daerah pelosok. “Kopi yang diolah sendiri, hasilnya bisa 50 persen,” akunya.

Tak hanya kopi, penjual batik di daerah pelosok juga bergantung pada kecepatan internet. Vivin Rofiqoh, memulai bisnis kerajinan batik pada 2016 lalu di Dusun Sumberpinang Desa Tegalwaru, Kecamatan Mayang. Dia membeli bahan hingga menjual produk batiknya melalui media sosial. “Tanpa media sosial, bisnis saya mati,” ungkapnya.

Bisnis batik Vivin juga bergantung pada teknologi dan sinyal internet. Tanpanya, dia tidak bisa memasarkan produk. “Saya tinggal di pelosok, transaksi jual beli melalui melalui online,” ucapnya.  Bila dilakukan secara manual, maka harus bolak-balik ke kota yang jalannya tidak mudah.

Kecepatan internet dan kecanggihan teknologi telah mampu meningkatkan perekonomiannya. Batiknya tak hanya dikenal di Jember, namun hingga Kalimantan, Sulawesi dan Sumatra. “Semua saya jual secara online, mulai dari instagram hingga marketplace,” paparnya.

Internet Membuat Pasar Semakin Terbuka

Perkembangan zaman membuat para pelaku usaha semakin mudah untuk menjual produknya. “Ada efisiensi waktu, biaya dan kecepatan akses informasi,” tambah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, Ciplis Gema Qoriah.

Menurut dia,  pasar tak lagi konvensional dengan cara harus bertatap muka dan tawar menawar. Namun market sudah bergeser ke dunia maya, seperti Tokopedia, Bli-Bli, Shopee dan lainnya. Apalagi, aktifitas jual beli  di darat lebih membutuhkan biaya.

Untuk itu, para pelaku UMKM harus memahami perkembangan teknologi. Pemerintah juga perlu menyediakan akses untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Selain kecepatan akses internet, juga pemahaman tentang penggunaan teknologi. Sebab tak semua pelaku usaha  mengetahui cara berjualan secara daring.

“Berdagang di era disrupsi ini begitu mudah. Akses informasi begitu cepat dan luas,” tegasnya. Barang dijual di akun Instagram atau Whatsapp sudah bisa laku tanpa harus bertemu.  Tergantung pada akses internet yang tersedia.

Kendati demikian, para pedagang online juga harus memperhatikan kualitas barang yang dijual. Sebab, ada yang hanya bagus gambarnya, namun setelah barang diterima, tidak sesuai harapan.

BELAJAR KOPI: Para mahasiswi dari IAI Alqodiri Jember saat belajar tentang kopi di kebun milik Rosyidi.

Kecepatan Internet Memajukan Desa 

Ely Mulyadi, Dosen Jurusan Teknologi Informasi Politeknik Negeri Jember menambahkan kecepatan internet menjadi peluang untuk mengembangkan desa. Terutama memasarkan potensi desa itu sendiri.  Hal ini bisa dimulai oleh perangkat desa bersama warganya.

Setiap desa, selalu memiliki potensi masing-masing. Semua itu bisa dikenalkan melalui internet. Pria yang akrab disapa Ely itu menilai  setiap desa pelru memiliki pasar online untuk menjual potensinya. Mulai dari potensi wisata, hasil produksi pertanian, perkebunan hinggga kerajinan.

“Ini bisa dikoordinir oleh kepala desa,” ujarnya. Apalagi sudah ada dana desa yang  bisa digunakan untuk mengembanghkan hal itu. Bila desa membangun pasar online, maka pasar tidak akan terbatas. Kapanpun dan dimanapun, tak perlu datang ke desa tersebut.

Sayangnya, masih banyak desa yang belum menangkap peluang tersebut. Kalaupun ada, seperti di Desa Semboro, dimanfaatkan untuk pengurusan administrasi secara daring.  Yakni warga yang hendak meminta surat keterangan dilakukan secara online. “Bila surat keterangan sudah selesai, nanti notifikasi, tinggal ambil,” ucapnya.

Menurut dia , ada beberapa kecepatan internet di desa.  Pertama sudah ada porsinya. Kedua masih 3G, ketiga blankspot. “Harusnya desa menyiasati dengan hotspot kecil yang bisa dimanfaatkan dimasyarakat di daerah blankspot itu,” imbuhnya.

Ke depan, lanjut Ely, warga masih sebatas menikmati akses internet untuk kesenangan. Masih jarang yang memanfaatkan teknologi dan kecepatan internet untuk meningkatkan taraf perekonomian. “Namun, tiga hingga tahun ke depan, arahnya masyarakat kesana,” ucapnya.

Sebab, bukan masyarakat yang akan mempengaruhi teknologi, namun teknologi yang mempengaruhi masyarakat. mulai dari anak muda yang belanja online. “Ke depan yang tua akan digantikan oleh anak muda itu,” pungkasnya.

IKLAN

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Bagus Supriadi

Editor : Mahrus Sholih