Kemampuan Bernalar Aras Tinggi

Oleh: Mohammad Hairul *)

REVOLUSI Industri 4.0 memberi peluang bagi siapa pun untuk maju. Informasi yang semakin mudah diakses dari seluruh pelosok menyebabkan semua orang dapat terhubung melalui peranti teknologi. Banjir informasi seperti yang diramalkan Alvin Tofler kini menjadi realitas yang begitu nyata. Informasi yang melimpah tersebut salah satunya menyediakan manfaat besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Dunia pendidikan dituntut menyikapi era Revolusi Industri 4.0 dengan bijaksana. Suatu sikap yang tidak sekadar adaptif namun juga responsif. Selain pembelajaran berbasis digital yang perlu diterapkan, hal terkait pembekalan mentalitas, pembentukan karakter, dan seperangkat keterampilan lain mutlak dilakukan. Seperti halnya pembelajaran yang berorientasi pada kecakapan hidup abad 21.

Ciri penanda pembelajaran abad 21 dikenal dengan istilah 4C, yaitu critical thinking, creativity, communication, collaboration. Pembelajaran yang menumbuhkan keterampilan berpikir kritis, daya kreasi, kemahiran komunikasi, dan kesanggupan berkolaborasi dimaksudkan untuk membekali siswa dengan kecakapan hidup. Hal itu mengingat era Revolusi Industri 4.0 menuntut dimilikinya seperangkat kemampuan untuk menghadapi tantangan yang kompleks.

Pembelajaran di sekolah perlu menyesuaikan dengan tuntutan era Revolusi Industri 4.0. Pembelajaran perlu mengarah pada mengasah keterampilan berpikir kritis, menggugah daya kreasi, kecakapan komunikasi, dan kemampuan berkolaborasi. Tuntutan demikian bukan lalu disikapi dengan dibuatnya alat evaluasi yang berorientasi kecakapan bernalar aras tinggi padahal proses pembelajarannya belum mengarah ke sana.

Penerapan soal HOTS (Higher Order of Thinking Skill) dalam berbagai butir soal pada proses penilaian harian, semester, bahkan ujian nasional adalah langkah yang jauh panggang daripada api. Ketika pembelajaran belum mengarah pada penerapan pembelajaran berorientasi HOTS, maka alat evaluasinya mesti menyesuaikan dengan proses pembelajaran yang diterapkan. Jika memang HOTS akan diterapkan sebagai alat evaluasi, maka memulainya dengan penerapan HOTS sejak tahap perencanaan pembelajaran dan saat proses pembelajaran. Bukankah evaluasi semestinya sejalan dengan perencanaan dan pelaksanaan?

Literasi sangat erat kaitannya dengan proses bernalar. Jika pembelajaran saat ini sedang berorientasi pada kemampuan bernalar aras tinggi, maka ia sejalan dengan gerakan literasi nasional. Literasi dapat dimaknai sebagai kecakapan dasar seseorang untuk menggunakan segenap potensinya dalam kehidupan. Kecakapan literasi meliputi literasi baca dan tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta literasi budaya dan kewargaan.

Literasi baca tulis berupa kemampuan memahami tulisan dan menghasilkan tulisan. Literasi numerasi berupa kemampuan membaca kode, simbol, angka, emoticon, bagan, grafik, tabel, peta konsep, dan lain sebagainya. Literasi sains berupa kemampuan memahami fenomena alam. Literasi digital berupa kemampuan komunikasi dan menggunakan konten melalui peranti digital. Literasi finansial berupa kemampuan dalam mengelola keuangan. Sedangkan literasi budaya dan kewargaan berupa memahami ragam budaya Indonesia dan memahami hak kewajiban diri sebagai warga masyarakat.

Gerakan literasi nasional dan pembelajaran bernalar aras tinggi (berorientasi HOTS) merupakan hal yang tidak terpisahkan. Dalam istilah pendidikan, literasi meliputi proses kognitif dan dimensi pengetahuan. Proses kognitif yang dimaksud meliputi kemampuan mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, dan mencipta. Sedangkan dimensi pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan yang bersifat faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif.

Guna menghadapi kompleksitas kehidupan, proses kognitif berupa kemampuan dalam menganalisis atau menelaah dan mencipta atau mengkreasi merupakan kebutuhan yang perlu dibekalkan. Kemampuan bernalar yang tergolong aras tinggi tersebut semestinya menjadi keterampilan yang terus dilatihkan. Hal itu mengingat era Revolusi Industri 4.0 dengan banjir informasinya membutuhkan kemampuan menganalisis agar tidak menjadi korban berita palsu atau bohong (hoaks). Pun era Revolusi Industri 4.0 menghadirkan persaingan yang ketat sehingga dibutuhkan kreativitas tinggi.

Secara sikap dan mentalitas, juga dibutuhkan nilai-nilai luhur budaya bangsa sebagai bekal menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Proses pendidikan dalam keluarga, di sekolah, dan di masyarakat mestinya bersinergi membelajarkan pendidikan karakter. PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) yang dicanangkan secara nasional terfokus pada karakter religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong-royong, integritas.

Ada beberapa kecenderungan empiris yang menyebabkan perlu adanya formula baru dalam upaya pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru. Pertama, terdapat kesenjangan yang tinggi antara kemampuan siswa peserta UN dengan standar soal UN. Hal ini sebagai dampak dari penggunaan soal berorientasi bernalar aras tinggi sedangkan pembelajaran belum mengarah ke sana.

Kedua, persentase soal penalaran pada UN/USBN 2019 akan ditingkatkan. Hal itu perlu dihadapi dengan penyiapan siswa yang akan menghadapi UN/USBN untuk terbiasa dengan pola penalaran kategori bernalar aras tinggi sejak proses pembelajaran. Secara implisit hal itu menyiratkan bahwa guru perlu meningkatkan arah pembelajaran dari hal-hal yang sekadar mengingat, memahami dan mengaplikasikan, ke arah menelaah atau menganalisis, menilai atau mengevaluasi, dan mencipta atau mengkreasi.

Ketiga, dari tahun 2000 sampai tahun 2015, skor siswa Indonesia berkisar antara 370-400, sementara skor rata-rata PISA 500. Soal-soal HOTS pada UN/USBN, PISA, TIMSS menuntut siswa untuk berpikir, mengolah informasi, membaca teks panjang. Di sisi lain, kemampuan guru dalam implementasi Kurikulum 2013, meliputi analisis SKL-KI-KD dan perumusan IPK) masih rendah.

Kecenderungan lainnya adalah mindset guru lebih fokus kepada pelaksanaan assessment of learning (sumatif) dibanding assessment for learning (formatif). Pada tahap demikian penilaian dilakukan sekadar dalam pembelajaran bukan penilaian terhadap pembelajaran. Kondisi demikian belum menggaransikan akan adanya upaya perbaikan cara mengajar.

Berbagai kecenderungan tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan peningkatan kompetensi guru melalui pengembangan keprofesian berkelanjutan selama ini lebih cenderung membuat guru pintar daripada membuat murid pintar. Kini upaya tersebut coba dibelokkan ke arah meningkatkan kompetensi siswa melalui pembinaan guru dalam merencanakan, melaksanakan, sampai dengan mengevaluasi pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan bernalar aras tinggi.

*) Penulis adalah guru SMP Negeri 1 Bondowoso, Ketua IGI Kabupaten Bondowoso, sekaligus Trainer Nasional Literasi dan PKP.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :