The Culture of Giving in The Industrial Era 4.0

Oleh : Ust. Dr. H. Hefni Zain, S.Ag, MM

Di era industri 4.0, pola hidup manusia telah mengalami berbagai perubahan radikal, khususnya di kota-kota besar yang merupakan jantung dari proses revolusi tersebut. Revolusi industri dengan segala tuntutannya yang tinggi, seperti pengaturan tata kehidupan yang ketat dan kompetitif, bahkan bersifat individualistik, ditambah lagi dengan digantikannya sumber energi mahluk hidup (manusia dan hewan) oleh energi mekanik (uap, minyak dan atom) dalam proses produksi, atau ditantikannya fikiran manusia (human tought) oleh fikiran mesin (the thinking of machines), telah menyebabkan sistem sosial mengalami hegemonisasi, dimana masyarakat berfungsi seolah-olah sebagai mesin besar dan individu didalamnya bagai sikrup-sikrup kecil yang dependen. Maka tak ayal perlahan tapi pasti, manusia disamping tidak dapat menikmati nilai kemajuan itu sendiri, juga kehilangan identitas diri dan mengalami krisis kemanusiaan, inilah yang oleh Hosein Nasr disebut sebagai nistapa umat manusia.

Masyarakat Islami adalah masyarakat yang patuh dan salamah serta memberikan keselamatan dan kedamaian bagi sekalian alam, masyarakat Islami adalah masyarakat yang ditata diatas dasar akhlakul karimah, persaudaraan, persamaan, keadilan dan kemerdekaan, karena itu Islam mendorong para pemeluknya untuk memahami secara sempurna hakekat kehidupan yang  melampaui sekat sekat perbedaan dan tidak terkungkung oleh berbagai macam formalitas, sebab dalam perspektif Islam perbedaan dan keberagaman bukanlah yang utama, karena dibalik itu ada yang lebih utama yaitu Allah Swt.

Dalam Islam yang disebut ibadah bukan sekedar ritus personal melainkan juga kemanfaatan sosial bagi sesama manusia seperti menyantuni fakir miskin dan membuat gembira mereka yang hidup sengsara, dalam Islam ibadah yang utama adalah ibadah spiritual yang inklud pembebasan sosial, iman dan amal sholeh, ilmu yang amaliyah dan amal yang ilmiyah, tauhidul ibadah menuju tauhidul ummah, seperti ibadah sholat yang tanha ’anil faksya’i wal munkar, seperti ibadah puasa yang mengajak orang kaya merasakan lapar sebagaimana orang miskin, juga seperti ibadah qurban yang mengajak kaum miskin merasakan kenyang sebagaimana orang yang berkecukupan.

Bagi Islam, seseorang hanya dapat taqorrub dengan Allah swt bila sebelumnya ia telah dekat dengan saudara saudaranya yang kekurangan, bila Allah swt menyuruh orang mendekatkan diri kepadanya dengan mengisi masjid-masjid dan rumah- rumah ibadah yang hening, maka Allah swt juga menyuruh manusia mendekatkan diri kepadaNya dengan mengisi perut-perut yang kosong. Rasul saw dengan tegas mengatakan : Perumpamaan kaum muslimin dalam hal jalinan kasih mengasihi ibarat satu bangunan, yang satu harus menguatkan yang lainnya

Salah satu implikasi dari semangat saling mengasihi adalah munculnya semangat toleransi kepada semua pihak, dari toleransi akan muncul persatuan,  dengan persatuan akan tercipta kekuatan dan dengan kekuatan akan diraih kemenangan. Tidak pernah ada kemenangan tanpa kekuatan, tidak ada kekuatan tanpa persatuan, tidak ada persatuan tanpa toleransi dan tidak ada toleransi tanpa semangat saling mengasihi.Saya kira sudah saatnya umat Islam menghidupkan kembali budaya mengasihi sebagai ciri masyarakat Islami yang tidak hanya mentereng di ranah konsep tetapi mesti dibumikan dalam praktek yang nyata.

Umat Islam harus terus membangun kesadaran mendalam terhadap kemestian interdependensi manusia menuju peace building community, hanya dengan itulah progres peradaban dapat dipacu perkembangannya. Umat Islam harus mempelopori gerakan kultural “baru” dalam era globalisasi saat sekarang ini untuk mempromosikan kembali nilai-nilai inti Islam sebagai pendukung pilar-pilar perdamaian dan mendahulukan tindakan anti kekerasan dalam kehidupan berbangsa, bernegara, beragama dan dalam pergaulan internasional. Umat beragama hendaknya berperan aktif menyemaikan nilai-nilai inti keislaman untuk perdamaian dunia dengan metode dan pendekatan yang baru, aktual, dan segar.

Umat Islam harus terus menyuarakan pentingnya kehidupan yang memihak pada ideology co-existence yakni hidup berdampingan secara damai dengan saling bekerjasama (co-operation), saling merengkuh (inclusive), mengutamakan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh umat manusia secara universal, supel dalam pergaulan sosial -keagamaan, merasa saling bergantung secara timbal balik dengan pihak dan kelompok lain (reciprocity), selalu mencari modus-modus baru untuk keluar dari akar-akar konflik yang laten secara kreatif, memilih upaya yang bersifat transformatif, mengedepankan skenario sama-sama menang (win-win solution) dalam pemecahan masalah, dan dengan cermat dan cerdas melihat fenomena kemanusiaan secara semitris-sederajat.Gerakan Islam untuk menyebarluaskan perdamaian dan semangat keagamaan yang anti kekerasan perlu terus menerus dihembuskan oleh para penganut agama.#

*) Ust. Dr. H. Hefni Zain, S.Ag, MM, Dosen Pascasarjana IAIN Jember, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama IAIN Jember.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :