Kiai Dituntut 18 Tahun

Minta Tes DNA Ulang

MASIH TAK MENGAKU: Imam Bahroni (rompi jingga) digiring keluar oleh petugas dari ruang sidang Pengadilan Negeri Jember. Sebelumnya, dia dituntut 18 tahun atas perbuatan menghamili santriwatinya.

RADAR JEMBER.ID – Ditemani sang istri dan putrinya, raut wajah terdakwa Imam Bahroni Burhan, 59, asal Kecamatan Wuluhan, ini tak menampakkan rasa cemas ataupun tegang saat menunggu giliran sidang agenda pleidoi dari penasihat hukumnya di Ruang Candra Pengadilan Negeri (PN) Jember, kemarin (7/8). Bahkan, saat menunggu, terdakwa yang didampingi pengacaranya, Gunawan Hendro, masih bisa sedikit berdiskusi sekaligus temu kangen dengan istrinya.

Penampilannya sama sekali tak menunjukkan perbuatan yang dia lakukan. Pria yang merupakan seorang kiai pada salah satu pondok pesantren di Wuluhan itu saat ini mendekam di balik jeruji besi, setelah ia menghamili salah satu santrinya. Perbuatan tersebut dilakukannya pada Desember silam. Bahkan, saat ini santriwati berinisial IBB ini sudah melahirkan. Padahal, santriwatinya tersebut masih baru dua tahun menimba ilmu di ponpesnya.

Gunawan Hendro, pengacara terdakwa menuturkan, pihaknya ingin melakukan uji ulang DNA untuk memenuhi hak-hak terdakwa. “Karena dalam persidangan ini, bukti itu yang memberatkan terdakwa, tetapi tidak dikabulkan oleh majelis hakim,” ucap Gunawan sesuai persidangan.

Selain itu, menurut Gunawan, dalam agenda pemeriksaan saksi, dirinya mendapati ada unsur ancaman kekerasan. Korban menyatakan, apabila tidak mau disetubuhi, maka tidak akan diluluskan.

Keterangan tersebut, kata Gunawan, berdiri sendiri dan tidak didukung keterangan saksi lain, baik orang tuanya maupun rekan korban. “Sementara terdakwa sendiri tidak mempunyai kewenangan meluluskan atau tidak, melainkan dari dewan guru,” imbuh Gunawan.

Sementara itu, Mohamad Kabul, jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember menerangkan, terdakwa telah dituntut 18 tahun dalam sidang pembacaan tuntutan pekan lalu. “Sebelumnya, sudah kami hadirkan tujuh orang saksi, termasuk saksi korban. Di antaranya teman korban dan orang tua. Tidak ada saksi mahkota,” ungkap Kabul.

Dalam sidang tertutup tersebut, Ketua Majelis Hakim Ahmad Zulpikar akan melanjutkan sidang selanjutnya dengan agenda replik dari JPU. Sidang terebut akan dilaksanakan Rabu pekan depan, di PN Jember. “Keterangan terdakwa ini menjelaskan, dia masih tidak mengakui bahwa itu anaknya, hasil dari dia dengan korban. Padahal, tes DNA positif. Penasihat hukumnya juga masih meminta keringanan,” pungkas Kabul. (*)

IKLAN

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti