Dampingi Atlet Muda, Ingin Kuatkan Mental Bertanding

Ami Lutiasari, Pesilat Nasional yang Kini Jadi ASN di Dispora

Pensiun dari dunia olahraga, tak membuat Ami Lutiasari menjauhi aktivitas seputar olah tubuh. Bahkan, mantan pesilat andalan Jawa Timur ini mengabdikan dirinya untuk olahraga. Kini, perempuan yang akrab disapa Ami tersebut bekerja menjadi PNS di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jember.

CEK GEDUNG: Ami Lutiasari, mantan pesilat nasional ini tengah mengecek langsung kesiapan gedung olahraga Jember yang akan disiapkan untuk Porprov 2021

RADAR JEMBER.ID – Ami Lutiasari berkeliling ke beberapa gedung olahraga di Jember. Dia mengecek apa saja kerusakan untuk dilaporkan agar cepat diperbaiki. Kroscek fasilitas olahraga ini guna mempersiapkan Jember sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2021 mendatang.

Ami yang kala itu bersama empat pegawai Dispora Jember lainnya tampak serius. Dia memeriksa setiap sudut GOR PKPSO Kaliwates. “Kami cek beberapa gedung olahraga yang akan dibuat untuk Porprov. Dari GOR Argopuro langsung ke PKPSO Kaliwates,” katanya.

Rupanya, ditemukan beberapa kerusakan di GOR PKPSO. Seperti toilet, tribune penonton, penerangan, dan fasilitas lainnya. Selain memfoto menggunakan ponsel, Ami juga mencatat semua kerusakan tersebut. “Saya pertama kali ke GOR PKPSO ini tahun 2002 dulu. Sekarang kondisinya seperti begini, bisa dilihat sendiri,” kenang Ami.

Meski saat ini dia adalah seorang aparatur sipil negara (ASN) yang bekerja di Dispora Jember, tapi sebenarnya perempuan asal Surabaya ini sudah menjadi PNS sejak tahun 2010 silam di Kantor Pemuda dan Olahraga (Kanpora) Jatim. Baru 2013 lalu dia ikut suaminya ke Jember, dan pindah ke Dispora Jember sampai sekarang.

Selain aktivitas rutinnya sebagai pegawai Dispora, Ami juga menjalankan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Di luar itu, Ami terkadang memantau para pesilat junior di Pencak Organisasi yang juga menjadi perguruannya dulu. Sesekali, dia memberi motivasi, saran, dan beberapa ilmu serta pengalamannya. Perempuan berjilbab itu seperti paham benar dengan dunia olahraga. Wajar, ternyata Ami adalah mantan atlet pencak silat yang sudah go international mewakili Indonesia.

Dia pernah tampil dalam ajang SEA Games 2003 silam di Vietnam. Dalam kompetisi tingkat ASEAN itu, Ami meraih medali perunggu di kategori seni beregu. Tak hanya itu, ibu dua anak ini juga pernah bermain di Asian Games Bussan pada 2002. “Saya dulu juga pernah membela Jatim di PON 2000 dan 2004,” tambah perempuan yang kini berusia 39 tahun ini.

Lulusan D-3 Fakultas Bahasa Inggris Universitas Airlangga ini tak jarang mengawal langsung tim olahraga Jember yang sedang mengikuti kejuaraan. “Saya juga terus memberi masukan kepada adik-adik. Mental bertanding mereka harus dilatih lagi,” paparnya. Sebab, saat bermain di level kabupaten dan di tingkat provinsi, menurutnya itu berbeda sekali. Apalagi saat bertanding di kejuaraan dunia. Suasananya pasti beda, karena musuhnya juga semakin berat.

Bahkan, pengalamannya sewaktu masih menjadi atlet, Ami tak ingin dilihat oleh orang tuanya. “Kalau dilihat orang tua takut buat kecewa. Karena ekspektasi,” kenangnya.

Demi kesuksesan di dunia pencak silat, menurut Ami, memang harus ada yang dikorbankan saat itu. Terutama waktu berkumpul bersama keluarga. Mengingat, dia harus bergabung bersama tim Puslatda Jatim dan Pelatnas selama enam tahun.

Menurut Ami, tetangga rumah di Surabaya dulu heran kalau dia pulang kampung. “Mulai tahun 1999 sampai 2004 saya berada di asrama. Hanya hari-hari besar saja pulang ke rumah. Tapi itu semua ya pilihan, kalau mau sukses di olahraga,” ucap perempuan yang kini tinggal di Tegal Besar, Kaliwates, tersebut.

Ami mengaku, dulu motivasinya menjadi atlet bukan hanya ingin menggeluti dunia olahraga, terutama pencak silat. Tapi juga ingin membawa nama Indonesia di kejuaraan internasional. Sebab, dia juga ingin plesiran ke beberapa negara saat membela Indonesia. “Suka kalau main ke luar kota, apalagi ke luar negeri. Bisa jalan-jalan gratis,” pungkasnya, sembari terkekeh. (*)

IKLAN

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Mahrus Sholih