Jember Fashion Carnaval Pertama Tanpa Dynand Fariz

Semua di Tangan Generasi Penerus

Selalu di hati. Tagline inilah yang menjadi tema pembuka gelaran Jember Fashion Carnaval (JFC) ke-18, kemarin. JFC kali ini memiliki perbedaan besar, dengan kepergian Dynand Fariz, sang maestro JFC. Lalu, bagaimana JFC ke depan?

RADAR JEMBER.ID – Perhelatan Jember Fashion Carnaval (JFC) selalu identik dengan empat warna utama: merah, hijau, hitam, dan emas, yang melambangkan kemewahan dan elegan. Nuansa ini dapat ditemukan di sepanjang runway utama, tepatnya di Jalan Sudarman hingga Sultan Agung. Namun, tahun ini semua tenda dan kelambu berganti menjadi putih bersih. Seakan ingin menampilkan kenangan dari sang maestro JFC.

Gelaran pembukaan Grand Carnival yang biasanya semarak dan disambut oleh gegap gempita suara Dynand Fariz di atas kereta kencananya, kemarin tampak tenang. Bahkan dihiasi linangan air mata. Salah satunya dari sepasang mata milik Anne Avantie, sahabat terbaik Dynand yang sengaja datang untuk mengenang kiprahnya. Isak tangisnya tak terbendung di hadapan masyarakat serta para model yang mendampinginya di sepanjang runway utama. Sembari menyapa penonton melambaikan tangan, dia pun tak bisa menahan air matanya. Persembahan dengan tema Selalu di Hati memang benar-benar untuk sahabatnya.

Tak ada lagi sosok yang berdiri di atas kereta yang didominasi warna emas tersebut. Sebagai gantinya, foto sang maestro diletakkan di atasnya, lalu ikut diarak oleh talent dan keluarga besar. Seolah tetap ikut berparade meski hanya dari balik pigura. Tangis haru mendampinginya di sepanjang catwalk 3,6 kilometer tersebut.

Begitu pula di hari-hari sebelumnya. Senyum Dynand yang biasa muncul di akhir parade Pets, Kids, dan Artwear di tahun-tahun lalu, kini hanya tinggal kenangan. Ya, sejak Dynand Fariz, founder JFC, berpulang pada April lalu, seluruh talent serta keluarga besar JFC merasakan kehilangan yang teramat dalam. Sosoknya masih melekat kuat dalam JFC. Karya besar Dynand, kostum Garuda, berjalan beriringan di samping keluarga Dynand.

Dynand Fariz menjadi sosok yang berjasa di dunia karnaval Indonesia, hingga bisa dikenal manca negara saat ini. JFC menjadi salah satu gelaran yang tercatat dalam Calendar of Event Indonesia. Apalagi, pertunjukan Wonderful Artchipelago Carnival Indonesia (WACI) didanai khusus oleh Kemenpar, untuk memperkenalkan budaya-budaya Indonesia ke mata dunia.

Bahkan, Presiden RI Joko Widodo melalui Ketua Pelaksana Calendar of Event 2019 Esthy Reko Astuti ingin perhelatan ini tetap berlangsung dengan keunikannya yang melegenda. “Saya menyampaikan pesan dari Presiden Jokowi, bahwa beliau menginginkan lebih banyak kota lagi dengan karnaval yang unik dan mengacu seperti JFC, agar menjadi pesta kesenian yang meriah,” tuturnya.

Namun, Dynand Fariz tak ingin karyanya berhenti sampai di sini. Dirinya telah menyiapkan penerusnya, baik dari konsep acara, kreasi, hingga yayasan yang dia cetus sebelumnya. Menurut Budi Setiawan, ketua Yayasan JFC, selama ini JFC terbagi menjadi dua bagian, yakni struktur yayasan dan event. “Saya sebagai ketua yayasan, sementara Mas Dynand sebagai presiden di event JFC. Jadi, selama ini Mas Dynand sudah menyiapkan event JFC berjangka panjang dan menjadi warisan bangsa Indonesia,” katanya.

Dengan ketiadaan sosok Dynand sekarang ini, regenerasi para anak muda sudah disiapkan. “Sudah disiapkan personel-personelnya, yang suatu saat nanti akan dapat meneruskan tongkat estafet ini,” imbuh pria yang kerap disapa Mas Iwan ini.

Iwan menambahkan, setelah Dynand berpulang, mereka yang berada di posisi event, otomatis menjalankan tugasnya masing-masing sesuai keahlian yang dimilikinya. Juga sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Dynand. Iwan mengaku, tongkat estafet kali ini memang rata-rata diisi oleh anak muda milenial, dengan formasi baru. “Tapi tetap mempertahankan inti yang selama ini diajarkan oleh almarhum,” bebernya. (*)

IKLAN

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti