Obsesi Bangkitnya Rock Metal Lagi

JRMC, Komunitas Penggila Musik Cadas di Jember

RADAR JEMBER.ID – Sepintas, tampang mereka memang terlihat sangar. Ada yang bertato, berbadan kekar, dan para perempuannya juga ada yang berpakaian acak-acakan. Akan tetapi, penampilan luar tersebut tak selalu menunjukkan perangai hidup sesungguhnya.

Mereka, juga manusia yang memiliki rasa seperti kita ada umumnya. “Kami ini, dicubit juga sakit. Jadi tidak ada bedanya dengan banyak orang. Hanya saja penampilannya agak berbeda dengan orang lain. Tetapi, berbicara pandangan hidup saya kira semuanya sama-sama ingin damai,” kata Raja Sutan Alamsyah Siregar, humas JRMC.

Pria yang akrap disapa Al Sbandel itu menyebut, penampilan pecinta musik rock memang agak berbeda dengan aliran musik lainnya. Begitu pula dengan musik rock yang menjadi pilihan. Musiknya agak keras. Tetapi itu yang justru membuat mereka nyaman menyalurkan hobi dan bakatnya.

“Selain pakaian, musiknya juga agar keras, berbeda dengan musik yang lain. Nah, di situlah kami merasa ada yang berbeda dan bisa puas saat menyanyikan musik rock,” imbuh vokalis songar ini.

Apa yang dialami saat melantunkan lagu-lagu yang ngerock, menurutnya juga membuat para pecinta rock merasa puas. Bukan hanya bagi penyanyinya, tetapi dari semua pemain musik seperti gitaris, drummer, atau pemegang alat musik lain.

“Teman-teman semua bisa puas saat bermain musik. Saya kira, penyaluran bakat minat dan hobi ini juga sama seperti orang-orang yang suka lagu lain. Mereka akan bersemangat saat bermain musik,” jelasnya.

Sementara Ketua JRMC, M. Sodik Le mengungkapkan, banyaknya pecinta musik rock di Jember membuat mereka sepakat untuk membentuk wadah. Ke depan, Komunitas JRMC harus mampu menjadi wahana yang mampu memberikan pendidikan serta tempat berkreasi.

“Teman-teman ini sebanarnya sudah bergelut dengan musik rock. Hanya saja, komunitasnya masih sendiri-sendiri dan lingkupnya masih kecil. Untuk itu, JRMC ini diharapkan bisa menjadi wadah bersama untuk belajar dan menyalurkan bakat,” beber gitaris gaek ini.

Penampilan mereka yang tergabung dalam JRMC memang berbeda-beda. Akan tetapi, mereka adalah orang yang ingin berkembang melalui music rock metal. “Kami juga ingin ke depan bisa mengharumkan nama Jember melalui musick rock. Paling tidak bisa ikut mewarnai perkembangan dan majunya Jember,” jelasnya.

Sekali pun di dalam JRMC sudah banyak orang-orang yang berpengalaman, dia tidak menutup diri bahwa masih banyak generasi muda yang juga mencintai musik rock. “Mahasiswa banyak yang bergabung. Artinya, untuk siapapun termasuk para generasi muda bisa bergabung,” pungkasnya.

Larangan SS Harga Mati

ADA semacam aturan tak tertulis di Jember Rock Metal Community (JRMC) ini. Sebelum mengenalkan nama komunitas ke khalayak, mereka yang ada di dalamnya juga membuat peraturan khusus. Salah satunya, penggunaan sabu-sabu (SS) yang menjadi musuh negara, benar-benar menjadi perhatian dan larangan utama.

Ketua JRMC, M Sodik Le menjelaskan, munculnya larangan mengonsumsi SS pada komunitas tersebut bertujuan untuk membuktikan stigma miring atau anggapan banyak orang. “Peraturan atau tata tertib di komunitas sudah kami buat. Sabu-sabu sangat dilarang. Termasuk mabuk-masukan juga tidak boleh,” ucapnya.

Sodik menambahkan, peraturan komunitas dibuat juga bertujuan agar para pecinta musik rock yang tergabung di dalamnya benar-benar sadar hukum. “Artinya, masuk ke JRMC bukan hanya untuk bersenang-senang. Tetapi, kita tetap menjaga agar semuanya bisa patuh hukum. Kalau bisa, antar anggota harus saling mengingatkan, termasuk bisa menularkan pada masyarakat luas,” imbuh pria yang biasa dipanggil Dicky ini.

Dengan adanya peraturan, Sodik juga ingin ke depan ada semacam pelatihan yang bisa dilakukan. Itu tidak lain sebagai wujud edukasi kepada mereka yang tergabung. “Di samping itu, silaturahmi juga tetap dijaga dengan baik. Makanya setiap seminggu sekali, kami selalu bertemu dan bermain musik bersama,” ungkap Sodik.

Terbentuknya peraturan juga didukung oleh mereka yang tergabung di dalamnya. Seperti gitaris Totok BRB, Deni Prasetya, Tiyan Drummer, Ela penyanyi, serta banyak anggota yang lain. “Teman-teman juga bisa berdisiplin. Dengan adanya peraturan di dalam komunitas, maka siapa saja yang melanggar pasti ada sanksinya. Kalau terlibat SS, kalau bisa kami sendiri yang menyerahkannya ke Polres Jember,” tegas Shodiq Demra. (nur/hdi)

Amal Jariyah Jadi Keharusan

KEHADIRAN JRMC di Kantor Radar Jember, Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates Kamis (1/8) juga mengungkap sejumlah kegiatan yang mereka lakukan. Di balik alunan musik rock yang terkenal cukup keras, mereka juga memiliki sisi lembut yang dibuktikan secara nyata. Yaitu, memberikan amal jariyah pada warga yang kurang mampu.

Humas JRMC, Raja Sutan Alamsyah Siregar menyebut, sekali pun komunitasnya baru lahir dua bulan terakhir, tetapi ada sejumlah kegiatan yang sudah dilakukan. Bukan saja soal musik. Akan tetapi, ada tekad kuat diantara para pecinta musik rock untuk peduli sosial. “Kami melakukan amal jariyah atau bakti sosial. Ada yang berbentuk sumbangan serta kegiatan lain,” katanya.

Namun demikian, bantuan terhadap orang miskin atau bakti sosial yang mereka lakukan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing pencinta musik rock. “Kalau wajib tidak, tetapi berusaha kami tanamkan agar itu menjadi kewajiban. Bisa sebulkan sekali atau paling tidak setahun bisa beramal,” ucap pria yang dipanggil Al-Sbandel tersebut.

Beberapa kegiatan lain yang sudah dilakukan yakni mereka menggelar jalan sehat. Sekali pun masih baru, tetapi semua anggota JRMC sangat kompak. “Kami harap, semangat teman-teman untuk mengabdi pada kegiatan sosial bisa terus berjalan. Sekali pun nanti diteruskan oleh para generasi muda,” tegasnya.

Al berharap, JRMC ke depan bisa benar-benar mewarnai kabupaten Jember bukan hanya dari sisi musik rocknya. Akan tetapi mereka juga ingin terlibat dalam  serangkaian kegiatan sosial. “Tujuannya tidak lain untuk ikut membantu memajukan Jember,” lanjutnya.

Keberadaan JRMC di Jember juga telah menarik simpati sejumlah pihak. Selain kerap mendapatkan undangan pentas. Pada pelaksanaan Jember Fashion Carnival (JFC) mereka juga mendapat kesempatan untuk tampil menyanyikan lagu-lagu musik rock. (*)

IKLAN

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Hadi Sumarsono