Gernas Baku Bukan Sekadar Formalitas

Oleh: Muhammad Rasyid Ridho *)

GERAKAN Nasional Orang Tua Bacakan Buku yang biasa disingkat GERNAS BAKU adalah program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang harus kita apresiasi dan ikut berpartisipasi di dalamnya. Gerakan yang telah diluncurkan tahun 2018 lalu ini adalah mengajak orangutan untuk membacakan buku kepada anak-anaknya.

Gerakan ini lahir karena fakta pendidikan kita yang cukup miris. Dalam sebuah survei Programme for International Student Assessment (PISA) di tahun 2015, menunjukkan bahwa tingkat kemampuan baca siswa Indonesia berada di urutan ke-64 dari 72 negara. Selain itu, menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015, sebanyak 91,47 persen anak usia dini lebih suka menonton televisi dan 13,11 persen yang suka membaca.

Selain alasan di atas, ada beberapa alasan lain seperti yang disebutkan oleh Direktur Jenderal Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD DIKMAS) Harris Iskandar saat membuka acara Gernas Baku di Kantor Kemdikbud. Pertama, untuk mendekatkan emosi antara orang tua dan anak sehingga bisa tumbuh dengan sempurna. Kedua, agar anak mengenal dan cinta (membaca) buku ( HYPERLINK “http://www.kemdikbud.go.id” www.kemdikbud.go.id).

Selain itu, jika anak mampu menyerap isi yang dibacakan oleh orang tuanya maka itu pun akan memberikan efek positif pada perilaku dan karakternya. Misal, orang tua membacakan sang anak buku tentang tolong menolong antar teman. Biasanya sang anak sering mengolok temannya yang sedang kesusahannya, maka dengan membacakan buku perilaku positif ada harapan perilaku anak berubah menjadi lebih baik. Jika nanti ada teman yang jatuh terpeleset, dia tidak lagi menertawakan temannya tersebut, tetapi dengan sigap dia datang mendekati untuk menolongnya berdiri kembali dan mengobati yang luka.

Gerakan ini memang mungkin tidak bisa mulus di depannya, khususnya bagi keluarga yang orang tuanya sudah tua dan tidak bisa membaca. Maka, gerakan ini adalah gerakan yang sekali mendayung, dua tiga pulau bisa terlampaui. Dimulai mengajarkan orang tua yang belum bisa membaca, lalu ketika mereka sudah bisa membaca, mereka membacakan buku kepada anak-anaknya.

Gernas Baku adalah gerakan yang harus terus didukung dan dilakukan oleh seluruh keluarga yang ada di Indonesia. Karena gerakan ini bukanlah gerakan formalitas, gerakan ini memiliki tujuan yang jelas. Maka harus ada upaya untuk terus melanggenggkan gerakan ini untuk terus dilakukan pada hari-hari berikutnya, dan mencapai tujuan-tujuannya. Saya mencoba urun rembuk soal ini.

Pertama, pentingnya teladan orang tua. Anak adalah peniru ulung, maka apa pun yang dia lihat dilakukan oleh orang tuanya, bisa jadi akan dia suka dan dia biasakan. Jika orang tua membiasakan diri membaca buku, maka sang anak pun akan meniru kebiasaan orang tuanya tersebut. Kedua, saat ini hidup kita terdistraksi oleh dunia maya, sehingga gawai pun lebih sering dipegang dan dibaca, meski padahal tidak terlalu penting dan malah membuat lupa beberapa kewajiban seperti bekerja, ibadah, termasuk membaca buku.

Lain halnya, jika orang tua menjadi penjual online maka memang benar-benar butuh waktu yang tidak sedikit dalam memegang gawai, akan tetapi harus bisa mengatur kapan waktu berjualan (promosi), kapan membalas pesanan dan kapan pula menutup toko, dan semua pesan dibalas esok pagi. Mengapa? Karena anak membutuhkan waktu bersama orang tua, baik untuk bermain, belajar, membacakan buku atau berdongeng, atau bahkan meski hanya untuk mengobrol santai. Nah, waktu khusus bersama anak tidak boleh diganggu oleh benda apa pun, termasuk gawai.

Ketiga, orang tua harus menyisihkan uang untuk membeli buku, lalu rapikan buku-buku tersebut di ruang yang bisa sering anak lihat. Kalau bisa, kata pakar parenting M. Fauzil Adhim, di setiap ruang ada rak bukunya, dengan sering melihat buku, anak akan terstimulasi dan mau mencoba membaca.

Keempat, membacakan buku tidak selesai di ruang sekolah ketika acara Gernas Baku saja, tetapi dilanjutkan di rumah. Dijadwalkan saja kapan waktu orang tua membacakan anak sebuah buku, misal setiap mau tidur malam. Bisa jadi hal ini akan menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh sang anak, dan tanpa disadari membentuk dia menjadi suka membaca buku sekaligus membentuk karakter positif dalam dirinya.

Di tahun 2019 ini Gernas Baku sudah dimulai di mana-mana, termasuk di Bondowoso. Tanggal 27 Juli 2019, Forum Pendidikan Anak Usia Dini Kabupaten Bondowoso mengadakan acara Gernas Baku yang dihadiri oleh Bupati Bondowoso K.H. Salwa Arifin dan istri, juga istri dari Wakil Bupati Evi Irwan Bachtiar, dan ratusan murid dari PAUD se-Bondowoso. Bahkan di tahun 2018 lalu sudah digencarkan di mana-mana, saya berkesempatan menjadi relawan yang membantu menyediakan buku-buku untuk acara Gernas Baku di TK Aisyiah Bustanul Athfal 2 Bondowoso. Saya membawa buku-buku anak yang saya miliki yang dijadikan Taman Baca Masyarakat yang saya kelola bernama, Rumah Buku Taman Cahaya.

Ini membuktikan pemerintah sudah cukup peduli pada kemampuan literasi masyarakatnya. Untuk menjadikan Bondowoso Melesat tidak cukup membangun infrastruktur saja, tetapi juga menyeimbangkan dengan membangun sumber daya manusia yang dimiliki oleh Bondowoso.

Membangun SDM masyarakat salah satunya dengan memperhatikan pendidikan dan literasi berikut sarananya. Misalnya menambah jumlah koleksi buku-buku yang ada di perpustakaan daerah, mengadakan atau mendukung acara-acara literasi seperti mengundang penulis terkenal ke Bondowoso, mendukung dan memperhatikan penulis-penulis yang ada di Bondowoso, bekerja sama dengan ribuan penerbit di Indonesia untuk mengadakan bazar buku, dan sebagainya.

Arkian, Gernas Baku adalah gerakan kolektif, tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah saja, dan tidak bisa pula hanya dilakukan oleh sekolah atau orang tua saja. Jadi, semua lapisan masyarakat harus bersinergi, agar tujuan mulia Gernas Baku tercapai. Semoga!

*) Penulis adalah tenaga pengajar di SMP Plus Al-Ishlah Bondowoso.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :