Hobi yang Menjadi Wadah Prestasi Tingkat Nasional

Reza Fahmi, Jagoannya Crush Gear Model Tokek

Mainan Crush Gear (CG) ternyata masih eksis hingga kini. Bahkan, ada kejuaraan tingkat nasionalnya. Reza Fahmi, salah satu anggota  komunitas Jember Independent Crush Gear Community (Jerico), sering  juara dalam berbagai lomba.

PAMER CRUSH GEAR: Reza Fahmi saat memegang medali juara turnamen Crush Gear tingkat nasional.

RADAR JEMBER.ID – Bagi Reza, mainan Crush Gear (CG) sudah menjadi hobi. Dari hobinya itu, dia mampu meraih  prestasi tingkat nasional. Dia tak hanya hobi mengoleksi mobil Crush Gear, namun juga jago mengutak-atik mainannya.

Bukan adu cepat seperti Tamiya, namun mainan mobil Crush Gear ini adu kekuatan. Mobil yang paling lama bertahan di arena, dialah pemenangnya.

Reza Fahmi berhasil menjadi juara turnamen Crush Gear nasional tahun 2017 lalu. Gelar juara dari turnamen CG tak hanya itu. Tahun 2016, Reza meraih juara 3 kategori cross part di Malang. Tahun 2017 juara 2 kategori pro class di Madiun. Tahun lalu, di Sidoarjo dia mendapat juara 3 kategori cross part.

Mobil CG jagoannya diberi nama Si Tokek. “Model mobil saya ya mirip tokek. Tapi sering menang. Yang paling saya unggulkan ya Tokek ini, karena sudah identik dengan model tokek,” jelasnya.

Dalam perlombaan CG, ada banyak kategori dan penimbangan terlebih dahulu untuk setiap mainannya. Si Tokek turun di kategori cross part dengan bobot 180 gram. Di partai final, Si Tokek milik Reza berhadapan dengan CG milik anak Karawang. “Alhamdulilah menang. Saya menang dua ronde dan sekali kalah,” kata mahasiswa Fakultas Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Jember itu.

Reza tak sendirian saat turun di turnamen CG Nasional waktu itu. Dia bersama tiga orang lainnya dari Jember. Mereka tergabung dalam komunitas pencinta CG Jember, Jember Independent Crush Gear Community (Jerico). “Mobil CG favorit saya ada juga namanya Kagero 01. Saya terinspirasi dari anime,” ungkap anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Reza sempat disinggung mengenai respons kedua orang tuanya. Yakni mengenai kegemarannya yang sampai di usia 23 tahun masih bermain CG. Dia mengaku, orang tuanya kini  tak komentar lagi. “Dulu orang tua pernah bilang, sudah besar kok suka mainannya anak kecil. Tapi setelah juara nasional, gak berani komentar lagi,” ucapnya sembari tertawa, sambil mengutak-atik mobil CG-nya.

Reza mulai tertarik pada CG sejak kecil. Tepatnya ketika duduk si bangku kelas 3 SD tahun 2003 lalu. “Tapi, baru tahun 2014 saya mulai tahu ada grup perkumpulannya di Facebook. Namanya Gear Fight Indonesia,” tuturnya.

Setelah itu, dia juga mencari apakah ada komunitas CG di Jember. “Ternyata banyak juga yang masih suka sama CG di Jember. Akhirnya gabung sama Jerico ini,” papar pemuda berkacamata ini.

Dia menyebut, tahun 2014 lalu ia membeli CG seharga Rp 80 ribu. Ditambah beli komponen CG lainnya, seperti senjata di bagian depan, atau biasa disebut front weapon, seharga Rp 150 ribu.

Menurut Reza, dulu harga CG masih murah. Namun, kini mobilnya bisa dijual dengan harga ratusan ribu bahkan jutaan. “Karena pernah juara lah,” jelas mahasiswa semester 10 ini.

Namun, Reza membeli beberapa mobil CG tidak secara utuh, melainkan dicicil. Mulai dari membeli suku cadangnya. Hingga kini, ia punya sembilan mobil.  Semuanya andalan saat bertanding.

Dia pernah punya pengalaman menjual suku cadang mencapai angka Rp 1 juta. Menurutnya, itu karena komponen barang langka dan edisi terbatas. “Kalau sering juara banyak yang cari. Akhirnya bisa mahal,” imbuhnya.

Selain sering menang, Reza ingin menambah banyak saudara sepermainan. “Reza ini maskot komunitas kami. Dia andalan kami,” kata Aldhi Wimandra, salah satu anggota Jerico Jember lainnya. Mayoritas anggota komunitas ini sudah pekerja semua, namun hobinya mainan.

Disinggung mengenai teknik khusus untuk menjuarai turnamen CG, Reza menjawab dengan enteng. Menurutnya, adu CG di arena tak lepas dari faktor keberuntungan. Reza mengaku punya trik khusus untuk setingan juaranya. “Dinamo harus prima, gear set juga menentukan. Senjata front weapon untuk menyerang dan will weapon untuk bertahan. Yang terakhir, banyak berdoa saja,” pungkasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti