Ekonomi Masjid

Oleh: Khairunnisa Musari

“… perkenalkan komunitas kami, Relawan Masjid yang hanya bisa memberi pelayanan bersih-bersih masjid secara gratis. Mungkin bisa diinformasikan kepada relasi Ibu ben rodho terkenal…”

Demikian sebagian balasan Mas Purwoto atas ucapan terima kasih saya pada foto media sosialnya yang menandai saya. Ternyata kami berteman pada Facebook. Kami ternyata sama-sama hadir dalam Pelatihan Manajemen Kelembagaan Koperasi bagi Klaster Binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember. Mas Purwoto menjadi salah satu peserta dan saya  menjadi salah satu pemateri untuk tema kelembagaan koperasi syariah.

Keberadaan komunitas Relawan Masjid yang diceritakan Mas Purwoto mengingatkan saya pada Abdul Muis, mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah semester lima asal Bondowoso yang menjadi binaan saya dalam tulis menulis yang sehari-harinya tinggal di asrama masjid kampus IAIN Jember dan bertugas mempersiapkan aktivitas menjelang ibadah lima waktu. Keberadaan komunitas Relawan Masjid dan Abdul Muis tidak boleh dipandang sebelah mata. Mereka sejatinya adalah sumber daya berharga yang berpotensi menjadi penggerak ekonomi masjid.

Masjid, Penggerak Ekonomi

Masjid Jogokariyan di Yogyakarta kerap menjadi role model masjid yang berhasil menjadi penggerak ekonomi. Meski hanya berada di tengah kampung, Masjid Jogokariyan mampu berperan sebagai pusat ibadah dan dakwah sekaligus sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar. Pemberdayaan ekonomi menjadi strategi pengelola untuk mengajak jamaah ikut memakmurkan masjid. Jika ekonomi masyarakat meningkat, pengelola meyakini masyarakat akan semakin giat beribadah dan ikut menyejahterakan masjid.

Di Yogyakarta, Masjid Jogokariyan menjadi salah satu destinasi wisata religi. Masjid ini menyediakan ruang pertemuan dan penginapan bagi tamu atau wisatawan yang berkunjung. Ruang pertemuan dan hunian sementara tersebut menjadi salah satu unit usaha Masjid Jokariyan selain usaha produktif berupa pembuatan pupuk dan olahan ayam potong.

Ya, masjid ini konsen pada pengembangan usaha mikro kecil (UMK). Masjid Jogokariyan menyediakan pinjaman modal usaha dengan bunga 0 persen melalui program dana bergulir atau qardhul hasan disertai pendampingan hingga mandiri. Bahkan terdapat program pemberian modal usaha kepada warga kategori fakir miskin yang bebas pengembalian melalui pendanaan zakat untuk pemberdayaan. Masjid ini juga mengajak warga untuk membentuk koperasi guna mengelola UMK.

Masjid yang dikenal rutin menyediakan ribuan porsi buka puasa gratis setiap Ramadan, saat ini juga tengah gencar mendorong masyarakat sekitar untuk mendirikan rumah dua lantai. Lantai bawah digunakan sebagai tempat usaha dan lantai atas sebagai tempat tinggal. Sudah ada rumah percontohannya. Bagi warga, khususnya anak-anak muda, yang tidak memiliki usaha, Pengelola Masjid Jogokariyan mengarahkan mereka untuk menjadi agen pemasaran. Pembinaan kemandirian generasi muda memang mendapat perhatian. Mereka didekatkan dengan masjid diantaranya melalui fasilitas wifi gratis dan diminta mengelola media masjid dengan diberi honor serta komisi iklan.

Program Masjid Jogokariyan yang tidak kalah menarik adalah mengganti kerugian jamaah yang kehilangan alas kaki atau kendaraan di lingkungan masjid. Program ini bahkan sudah dimulai sejak tahun 2000. Program lain yang kerap menjadi bahan studi banding adalah pengadaan ATM beras. Bagi jamaah dengan kriteria tertentu yang telah lolos survei, Masjid Jogokariyan memberikan kartu ATM beras yang dapat dipindai untuk mengeluarkan beras sebanyak dua liter. Bekerjasama dengan toko kelontong di lingkungan sekitar, Masjid Jogokariyan menyantuni beras rata-rata 200kg/hari untuk sekitar 400 jamaah yang dapat mengambilnya sesuai jadwal yang telah diatur setiap pekanan.

Ekonomi Masjid

Di Jawa Timur, salah satu masjid yang juga kerap menjadi role model penggerak ekonomi masyarakat adalah Masjid Namira di Lamongan. Masjid Jogokariyan dan Masjid Namira mungkin adalah sedikit diantara 800.000 masjid di Indonesia, menurut data Dewan Masjid Indonesia (DMI), yang dapat kita anggap mampu memakmurkan jamaah sekaligus mengajak jamaah memakmurkan masjid.

Hari ini, gaung untuk membangkitkan masjid sebagai pusat aktivitas keumatan semakin besar. Sepanjang 2018 hingga pertengahan 2019, pelatihan manajemen masjid banyak digelar di berbagai wilayah Indonesia. Dengan menyasar masjid pada perkantoran dan pusat perbelanjaan, bank syariah juga ikut hadir menyelenggarakannya. Materinya tidak hanya terkait manajemen keuangan, organisasi, penyusunan program semata, tetapi juga hingga pengembangan usaha produktif. DMI, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), dan Kementerian Agama (Kemenag) juga belakangan semakin intens mengadakan pelatihan manajemen bagi takmir dan pengelola masjid.

Ya, sejarah mencatat peran masjid dimasa lalu tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pernah berperan sebagai pusat pendidikan dan pengajaran, pusat informasi Islam, pusat penegakan hukum, pusat militer, termasuk pusat pemberdayaan ekonomi umat. Dengan kata lain, sejarah membuktikan bahwa masjid memiliki peran sentral sebagai pusat peradaban Islam.

Dengan demikian, kehadiran komunitas Relawan Masjid dan figur-figur seperti Abdul Muis sejatinya dapat menjadi motor bagi pemberdayaan masjid. Kedekatan mereka dengan masjid seyogyanya dapat bersinergi dengan pengelola masjid dan masyarakat sekitar untuk menyelenggarakan aktivitas-aktivitas keumatan yang tidak hanya memakmurkan jamaah, tetapi juga dapat mengajak jamaah memakmurkan masjid. Semoga keberadaan komunitas Relawan Masjid semakin meluas dan kiprahnya tidak hanya pada sebatas bersih-bersih masjid. Semoga pula segera menyusul Jogokariyan-Jogokariyan atau Namira-Namira di Tapal Kuda yang dapat menjadi mesin penggerak ekonomi masyarakat.

Wallahua’lam bish showab.

*) Dosen Tetap Prodi Ekonomi Syariah Pascasarjana IAIN Jember, Koordinator dan Sekretaris II DPW IAEI Jawa Timur, Sekretaris ISEI Jember, Pengurus MES Lumajang

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :