Cabuli Santrinya, Kiai di Jember Dituntut 18 Tahun Penjara

TUNTUT DIHUKUM BERAT: IB, 40, pengasuh sebuah pesantren di Desa Kesilir, Kecamatan Wuluhan, saat akan mengikuti sidang dengan agenda pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Jember.

RADARJEMBER.ID, JEMBER – Masih ingat kasus pencabulan di Jember yang dilakukan seorang kiai terhadap santrinya 2018 silam? Rupanya, kasus itu terus berlanjut. Kiai berinisial IB, 40, pengasuh sebuah pesantren di Desa Kesilir, Kecamatan Wuluhan tersebut, dituntut jaksa 18 tahun penjara.

Sidang dengan agenda pembacaan tuntutan itu digelar, Rabu (31/7) kemarin, di Pengadilan Negeri (PN) Jember. Terdakwa tampak hadir mengikuti sidang yang korbannya masih berusia di bawah umur tersebut.

Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jentera Perempuan Indonesia di Jember, Yamini menanggapi tuntutan itu. Menurutnya, tuntutan itu tak sebanding jika melihat penderitaan yang dialami korban. Seharusnya kata dia, tuntutan yang setimpal dengan perbuatan pelaku adalah hukuman pokok 15 tahun penjara ditambah 2/3 dari hukuman pokok. “Harusnya 20 tahun penjara,” katanya.

Yamini menjelaskan, ancaman 20 tahun bagi terdakwa karena dia merupakan seseorang yang seharusnya mengayomi dan menjadi contoh bagi korban. Untuk itu dia berharap, majelis hakim memvonis terdakwa sesuai dengan tuntutan jaksa tersebut. “Belum vonis. Masih tuntutan jaksa. Minggu depan agendanya pledoi. Setelah itu baru vonis,” paparnya.

Alumni Fakultas Hukum Universitas Jember tersebut menjelaskan, sejak awal kasus ini berjalan alot. Karena terdakwa sempat mengelak telah mencabuli korban. Bahkan, terdakwa meminta penyidik melakukan tes DNA sebagai alibi bahwa dirinya tak melakukan perbuatan itu. Akhirnya, hasil tes DNA bisa menjadi alat bukti hingga berhasil menyeret terdakwa ke meja hijau.

Menurut Yamini, selain terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara pidana, juga ada kewajiban bagi terdakwa bertanggung jawab secara finansial terhadap hidup korban. “Karena yang didakwakan terbukti,” ungkap perempuan yang turut mengawal kasus ini sedari awal.

Lebih lanjut, mantan aktivis mahasiswa ini menjelaskan, korban saat pencabulan itu terjadi masih berusia 14 tahun. Korban diketahui hamil oleh orang tuanya setelah curiga dengan perubahan tubuh korban. Setelah ditanya, korban mengaku jika yang melakukan perbuatan cabul tersebut adalah terdakwa, yang saat itu merupakan kiai di tempat korban menimba ilmu agama.

“Tragis memang. Niat mencari ilmu tapi malah berbalik mendapatkan perilaku yang tidak senonoh,” tukasnya. Dia pun berharap, pemerintah segera mengesahkan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS), agar kasus-kasus kekerasan seksual tak lagi di selesaikan secara kekeluargaan, tapi diproses hingga ke ranah hukum. (*)

IKLAN

Reporter : Nurul Azizah

Fotografer : Nurul Azizah

Editor : Mahrus Sholih